PLEASE I CAN’T BREATHE. MY STOMACH HURTS, MY NECK HURTS, EVERYTHING HURTS. THEY’RE GOING TO KILL ME

Begitulah kiranya yang keluar dari mulut Floyd sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan ia sempat memanggil ibunya berulangkali ketika kondisinya sudah sudah mulai kritis.

Kabar mengenai kematian George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal oleh oknum polisi Amerika Serikat baru-baru ini menjadi kabar hangat di penjuru dunia. Meskipun beritanya tak seluas info penyebaran pandemi, namun kasus ini bisa berbuntut panjang dan memiliki efek yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat. Sebab, persoalan ini kemudian dikaitkan dengan rasialisme, perbedaan antar etnis yang cenderung merugikan dan merendahkan golongan kulit hitam. Tak heran, jika kasus ini kemudian memicu kemarahan publik dan para masyarakat pro kulit hitam di seluruh dunia.

Kasus kematian George Floyd bermula dari penangkapan dirinya oleh oknum polisi. Ia ditangkap karena diduga melakukan transaksi dengan uang palsu. Polisi menangkapnya dengan memborgol kedua tangan Floyd, dan menjatuhkannya ke aspal. Oknum polisi yang ditengarai bernama Derek Chauvin lalu menekan leher Floyd dengan lututnya hingga ia lemas dan meninggal dunia di rumah sakit. Akibat dari kasus kematian George Floyd tersebut, banyak warga turun ke jalan dan bentrok dengan polisi, menjarah toko-toko dan merusak fasilitas publik, termasuk mobil polisi setempat.

Di Amerika, perselisihan antara warga kulit putih dan kulit hitam bukan fenomena baru. Hal ini sudah mengakar dan memiliki sejarah kelam, bahkan di seluruh dunia. Kuatnya identitas di masing-masing golongan tersebut tak jarang berlanjut pada sebuah pertentangan secara fisik dan menelan banyak korban jiwa. George Floyd, yang notabenenya adalah warga dengan kulit hitam diperlakukan sedemikian buruknya oleh oknum polisi yang bernama Derek Chauvin yang masih memiliki identitas sebagai warga dengan kulit putih. Tentu latar belakang keduanya menjadi perhatian publik, seolah-olah membuka kembali tirai kesuraman yang sudah lama berlalu. Meskipun tidak diketahui motif oknum polisi melakukan tindakan kejam tersebut, namun latar belakang identitas yang cukup kuat bisa langsung memberikan justifikasi sesuai identitasnya masing-masing, antara golongan kulit hitam dan kulit putih, serta tak menutup kemungkinan tragedi apartheid di Afrika Selatan bisa terulang kembali.

Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan dalam mengenal atau menciptakan suatu identitas tunggal yang melekat pada diri seseorang tanpa pernah memikirkan bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai identitas pada dirinya dan orang lain, mulai yang kecil hingga konteks yang paling besar. Dalam perspektif psikologi sosial, manusia cenderung melakukan identifikasi sesuai kelompoknya masing-masing dengan membentuk in-group dan out-group. Identifikasi in-group terjadi karena dilandasi perasaan simpati, fanatik, dan menganggap dirinya menjadi bagian dari kelompok yang dimilikinya. Sebaliknya, identifikasi out-group bersumber dari perasaan berbeda dengan kelompok lain dan cenderung memunculkan dikotomi antar golongan. Perlu diketahui, kedua klasifikasi ini cukup kuat tertanam pada masyarakat kulit hitam dan kulit putih. Masyarakat kulit hitam mengidentifikasi bahwa setiap orang yang memiliki kulit hitam, maka ia menjadi bagian darinya. Sebaliknya, orang yang memiliki kulit putih cenderung diidentifikasi sebagai kelumpok di luar dirinya/kelompoknya (out-group) yang berpotensi untuk dimusuhi. Klasifikasi seperti ini juga rentan terjadi pada golongan kulit putih dan berbagai kelompok-kelompok lainnya.

Lebih jauh, Liliweri dalam bukunya “Prasangka dan Konflik” mengemukakan bahwa rasisme umumnya terbagi menjadi dua, yakni secara individu dan secara konstitusional. Secara individu kerapkali datang dari segelintir masyarakat terhadap ras lain, sedangkan secara konstitusi, rasisme atau perlakuan segregasi dihasilkan dari berbagai kebijakan yang diterapkan di wilayah tertentu oleh pemerintah resmi. Jika benar motif Derek Chauvin membunuh George Floyd didasarkan pada kebencian atas warga kulit hitam, maka fenomena ini termasuk motif dasar rasisme secara individu. Berbeda ketika kejadian ini memang rencana pemerintah melalui aparat kemanan untuk mendiskriminasi kulit hitam, maka hal ini dikatakan rasisme konstitusional. 

Fenomena rasisme konstitusional cukup marak terjadi di Amerika Serikat yang dilakukan oleh pejabat negara maupun aparat keamanan terhadap warga kulit hitam. Laporan dari The Guardian pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebanyak 1.134 warga kulit hitam meninggal di tangan polisi Amerika Serikat. Bukti ini kembali memperkuat dugaan kematian George Floyd memang didasarkan atas motif rasial. Hal ini juga semakin menampakkan masifnya intimidasi kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika, baik yang secara terang-terangan serta yang bersembunyi di balik legitimasi kekuasaan kelompok dominan sebagai pejabat pemerintah.

Dampak dari kasus rasisme, banyak dari kalangan warga Afrika-Amerika yang notabenenya berkulit hitam mengalami trauma. Korban rasisme selalu berkaitan dengan konsekuensi psikologis. Presiden American Psychological Association (APA), Sandra L. Shullman, Ph.D mengatakan bahwa korban rasisme cenderung akan mengalami gejala psikologis seperti depresi, kecemasan, stres pasca trauma, dan permasalahan serius lainnya, baik secara fisik maupun non-fisik. Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kelompok kulit hitam lebih sering mengalami stereotip negatif oleh polisi daripada golongan kulit putih.

Pada konteks kematian Floyd, kuatnya identitas in group pada kelompok kulit hitam semakin merenggangkan kembali impian masyarakat majemuk yang selama ini menjadi harapan semua orang. Bukti nyata diungkapkan dengan melakukan demonstrasi besar-besaran, mengutuk tindakan dehumanisme tersebut kepada pemerintah Amerika Serikat. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan bahwa golongan kulit hitam sebagai penduduk minoritas tidak semerta-merta mudah dijadikan bulan-bulanan oleh kelompok dominan. Kejadian ini juga mengingatkan kembali pada kasus Eric Garner, seorang warga kulit hitam yang dicekik polisi di New York pada tahun 2014 silam. Kematian Garner menyebabkan seruan protes besar-besaran menghadapi kebrutalan polisi di Amerika dan menjadi pemicu utama munculnya gerakan Black Lives Matter.

Gerakan Black Lives Matter diyakini terbentuk secara kelembagaan mulai tahun 2013 setelah ramai tersebar di berbagai media sosial. Gerakan ini merupakan sebuah gerakan internasional yang menentang segala bentuk penindasan terhadap golongan kulit hitam. Dengan merebaknya kasus kematian George Floyd, gerakan ini berpotensi bergelora kembali dengan segala bentuk penentangannya atas sikap segregasi terhadap golongan masyarakat kulit hitam. Tak heran, tagar #BlackLivesMatter saat ini menjadi trending di media sosial serta menjadi isu hangat dunia disamping ketidakpastian isu pandemi.

* Penulis adalah pegiat isu-isu Psikologi Sains dan sedang menempuh program Magister Psikologi di Universitas Airlangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here