Secara tipologis, menelusuri segala aspek tentang Madura perlu kajian lebih serius dan mendalam agar sintesis yang kita dapat sesuai dengan apa yang seharusnya diserap saat memahaminya. Pasalnya, pulau kebanggaan warga Madura ini meski tampak seperti suatu daerah yang sangat pelosok dan terpencil, pulau ini pernah bahkan sering mengejutkan publik nasional mulai sebelum hingga pasca beroperasinya jembatan suramadu. Hal ini disebabkan kekayaan sumber daya alamnya yang relatif mulai mencuat dan menarik perhatian beberapa cukong dari kapitalisme pencita-cita kekayaan masa depan, juga dapat ditinjau dari sumber daya manusianya yang sering tampil di berbagai panggung publik skala Nasional maupun Internasional.

Berbicara lebih substansial lagi dalam mengulas Madura tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan yang menuntut jawaban lebih serius lagi dengan penuh kesadaran bagi generasi penghuni pulau tersebut. Beberapa peneliti ada yang mengaitkannya dengan globalisasi pasca jembatan suramadu, sebagian lagi mengaitkan pada beberapa sumber-sumber yang masih terpendam di zona pulau itu dan tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan sosial- budayanya. Sebut saja, seperti De Jonge (1989), yang mengkaji Madura dalam realitas kemelaratan dan kemiskinan masyarakatnya yang masih begitu tinggi.

Dalam bukunya berjudul “Madura Dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam”, dijelaskan bahwa realitas kemiskinan serta berbagai bentuk kemelaratan yang menimpa masyarakat Madura, bukan saja disebabkan oleh kondisi sistem ekologis pertanian tegalan yang minim memberikan keuntungan ekonomis, akan tetapi juga diakibatkan karena struktur dan bangunan kekuasaan, keluarga, dan harta yang tidak memperdulikan kondisi perbaikan hidup sosial masyarakat. Artinya, pembangunan peradaban sosial yang bertujuan untuk membuat kualitas hidup dan kehidupan masyarakat menjadi titik solusi utama karena pembangunan yang dilaksanakan secara baik sesuai prinsipnya yaitu berkelanjutan (sustainable development) akan berdampak positif pada kualitas kehidupan masyarakat secara ekonomi, sosial, maupun ekologi.

Analisis penulis, proses melakukan pembangunan manusia (Development of Human) tidak lantas melupakan kesadaran kolektif, sehingga sangat sulit sekali membangun kualitas diri masyarakat Madura tanpa model Forum Kajian Simposium yang tidak mengantongi kepentingan apapun kecuali kepentingan ilmiah, akademik objektif, dengan menawarkan beberapa solusi pada dinamika sosial. Sebab, ketika memunculkan komunitas akademik yang kuat seperti itu, tentunya kita telah berusaha mewujudkan atau melahirkan peradaban yang bermutu. Oleh karena itu, perlu untuk diketahui ketika hal ini menjadi kesadaran bersama yang kemudian diimplementasikan dengan baik, maka keseimbangan hidup akan terus terjaga pada masyarakat madura, sehingga memberikan kemajuan dan kesejahteraan.

Dapatkah generasi Madura merasa terpanggil untuk membuat perubahan seperti di atas, yang telah menjadi tantangan masa depan untuk dihadapi? Tentu, jika tidak, bagaimana mereka sebenarnya ingin berlabuh? Atau, lebih tertarik pada kepentingan politik? Inginkah menambah barisan rapi yang telah tertipu pada sebuah tawaran politis begitu mengkilau, akan tetapi tanpa sadar dibuat pasrah pada kesamaran penjajahan atau perbudakan?

Menjadi generasi penerus perlu berkaca kepada aktor-aktor sebelumnya yang berkualitas guna mempelajari dan meneruskan sepak terjang perjuangannya. Generasi baru masyarakat Madura harus mengenal lagi dan bahkan mendalami pemikiran Hassan Shadily, seorang sosiolog yang menulis buku pelajaran sosiologi modern pertama di Indonesia serta berperan penting dalam meletakkan dasar leksikografi (kamus) modern bahasa Inggris-Indonesia. Terdapat dua kamus yang telah disusunnya bersama John M. Echols, hingga berpengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Inggris serta menyebabkan bahasa Inggris di Indonesia lebih kental bernuansa Amerika Serikat daripada Inggris Britania Raya. Beliau merupakan salah satu putra terbaik Madura yang pada hari kebangkitan nasional tahun ini bertepatan dengan peringatan seabad mengenangnya.

Hassan Shadily dilahirkan di Pamekasan Madura, 19 Mei 1929. Mengenyam pendidikan HIS di Pamekasan (1929), MULO di Malang (1937), dan MOSVIA di Yogyakarta (1941). Hingga tepat pada tahun 1944, diberi kesempatan belajar di Tokyo International School dan melanjutkan ke Military Academy Tokyo Japan (1945). Tahun 1952, ketika terdapat program beasiswa Fulbright, bersama seorang sastrawan bernama Mh. Rustandi Kartakusuma, ia menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan beasiswa ini. Seorang leksikografer handal ini mengambil pendidikan master sosiologi di Cornell University (1952-1955). Di tempat ini kemudian menjadi awal perkenalan hangatnya, pertemuan erat bersama Prof. John M. Echols, yang mengajaknya terlibat dalam proyek penyusunan kamus Indonesia-Inggris yang sedang diselesaikan.

Selama hidupnya, bapak Hassan Shadily ini selalu memikirkan kemajuan anak-anak bangsa. Kesadaran yang terbangun dalam dirinya betul-betul tertanam dan menekankan bahwa kemajuan itu berawal dari alat komunikasi yang bagus, yaitu bahasa. Mengamati kemajuan berkomunikasi di Amerika dan Eropa, membuatnya ingin sekali agar anak-anak bangsa dapat belajar di Amerika dan Eropa agar memahami teknologi, yang kemudian dapat diaplikasikan di Indonesia. Motivasi inilah yang menjadikan ia harus menulis kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris sebagai alat bagi anak bangsa dalam merespon kemajuan yang berkeadaban. Bagaimana putra-putra terbaik Madura selanjutnya harus segera dipupuk kemudian dilahirkan? Menjawabnya, juga perlu kesadaran diri semua pihak yang akan mempengaruhi pada kesadaran kolektif sosial masyarakat Madura serta dalam usaha yang sadar pula menjadi harapan besarnya dapat ditemukan dengan bersimposium.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here