Kajian tentang keterhubungan antara Al-Qur’an dengan tradisi dan kitab suci sebelum Al-Qur’an (sebagaimana dalam agama Yahudi dan Kristen) merupakan kajian yang populer di kalangan sarjana keilmuan barat. Salah satu di antara mereka adalah Abraham Geiger. Menurutnya, konsep ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an meminjam dari konsep tradisi dan kitab suci sebelumnya, khususnya dari Yahudi. Orientalis Yahudi asal Jerman tersebut menyatakan bahwa Al-Qur’an ialah sebagai produk dari proses adaptasi atau adopsi radikal yang berujung pada imitatif. 

Perlu diketahui, Abraham Geiger merupakan salah satu tokoh orientalis yang mengkaji Islam pada ranah historisitas Al-Qur’an. Geiger berpendapat ada beberapa aspek dari Al-Qur’an yang diadopsi dari tradisi Yahudi. Beberapa cendekiawan muslim mengakui adanya pengaruh agama lain pada Islam, bukan hanya dari segi linguistik Al-Qur’an, namun juga dari sisi empiris-praktis, dan islam datang untuk memperbaharui dan memodifikasi tradisi dari agama-agama sebelumnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Studi Al-Qur’an di kalangan sarjana barat sempat konsisten dalam melacak sumber Al-Qur’an dari dua agama besar yaitu Yahudi dan Kristen. Masing-masing tokoh memiliki argumen historis untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad betul-betul telah terpengaruh oleh ajaran dari kedua agama tersebut untuk kemudian dijadikan doktrin dalam Al-Qur’an. Sebagai kesimpulan akhir, mereka meyakini bahwa Al-Qur’an tidak lagi autentik sebagaimana yang dijadikan dogma oleh  umat Islam pada umumnya.

Abraham Geiger lahir di Frankfurt (Jerman) pada tanggal 24 Mei 1810, dan meninggal pada 23 Oktober 1874 di Berlin (Jerman). Ia merupakan seorang sarjana dan Rabi (pendeta agama Yahudi) sekaligus sebagai pendiri gerakan Reform Judaism. Geiger merupakan seorang sejarawan, agamawan, pengarang dan juga seorang reformis Yahudi yang berpengaruh. Ia juga dikenal dengan studi kritisnya terhadap Bibel (kitab suci agama Kristen) dan teks-teks Yahudi yang disebut dengan Wissenschaft Des Judentusm.

Pada usia muda, Geiger sudah menguasai Alkitab dan Talmud dengan penguasaan bahasa Yunani dan Latin, sehingga pada tahun 1832 ia ditunjuk sebagai Rabi di Wiesbaden. Geiger merupakan anak dari Rabi Michael Lazarus Geiger dan Roeschen Wallau. Ia banyak diajari oleh sang ayah tentang Hebrew Bibel, Mishnah, dan Talmud sejak usia dini. Sejak kecil, Geiger telah meragukan ajaran tradisional dari agama Yahudi. Hal ini terjadi ketika ia menemukan pertentangan (kontradiksi) antara sejarah klasik dan pernyataan Bibel tentang otoritas ketuhanan (divine authority).

Pada usia 17 tahun, Geiger sudah aktif dengan mengambil bagian dalam menulis Mishnah, perbedaan hukum Talmud dengan Bibel, dan Kamus bahasa Ibrani-Mishnaic. Pada bulan April 1829, Geiger mulai kuliah di University of Heidelberg. Di tempat itu ia banyak belajar filologi, arkeologi, filsafat, dan studi Bibel. Setelah menjalani satu semester ia kemudian memilih untuk pindah ke University of Bonn. Di tempat tersebut ia bersama rekan-rekannya mengikuti kelompok pemuda Yahudi yang dipersiapkan untuk menjadi Rabi. Terbukti, ia kemudian masuk dan ditunjuk sebagai Rabi di kota Wiesbaden pada tahun 1832.

Selain berkhotbah, mengajar, dan menulis, ia juga membentuk gerakan liberal dengan Rabi lainnya. Namun, pihak oposisi yang dipegang oleh ortodoks Yahudi memaksa Geiger untuk pindah ke Breslau pada tahun 1838. Namun, denyut liberalisasi tidak surut. Abraham Geiger ingin identitas bangsa Jerman yang menjadi pengikutnya bersama dengan identitas Yahudi yang lain, sehingga agama Yahudi menjadi agama modern yang menarik bagi orang Yahudi Eropa modern kala itu.

Geiger dikenal sebagai sosok teladan yang baik di mata masyarakat Yahudi. Ia mengkaji secara intensif mengenai dunia timur dan kemudian keseriusannya tersebut ia tuangkan dalam karya “Was hat Mohammed aus dem Judenthume Aufgenommen?” (Apa yang telah diambil Muhammad dari Yahudi?). Tulisan ini memenangi kontes esai sekaligus melambungkan namanya sebagai pakar dunia Timur. Dengan tulisan ini pula, ia meraih gelar Ph.D di University of Marburg. Tulisan tersebut kemudian menjadi magnum opus-nya mengenai pemikiran historis kritis terhadap konsepsi orisinal Al-Qur’an.

Dikenal sebagai reformis Yahudi, Geiger bersama dengan gurunya Leopold Zunz (1794-1886) berupaya melakukan reformasi di tubuh Yahudi untuk keluar dari konsep agama ritualis. Geiger juga menjadi pelopor pengakuan kedudukan wanita dalam ruang sosial dan ritual yang sebelumnya teralienasi dalam tradisi Yahudi. Ia bersama David Einhorn berupaya membuka ruang publik bagi wanita dan menyebarkan gagasan kebebasan wanita yang sebelumnya dianggap mengalami degradasi. Dengan pandangan liberal yang dimilikinya, pada tahun 1838 idealitas Geiger diserang oleh kelompok Yahudi Ortodok dan memaksa Geiger untuk melepas gelar Rabi-nya. Dengan hal ini, ia kemudian pindah ke Breslau. Di tempat barunya ini, pergerakan idealitas Geiger bukannya melemah, malah semakin kuat.

Dalam esai yang ditulis Geiger dengan judul “Was hat Muhammaed aus dem Judenthume Aufgenomment?” yang dikaji dengan pendekatan kritis historis terhadap Al-Qur’an, ada beberapa aspek yang terindikasi adanya adopsi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pada Al-Qur’an dari tradisi Yahudi, yaitu; 1) konsep agama Islam yang mengacu pada keimanan dan doktrin keagamaan, 2) aturan hokum dan moral, 3) kisah-kisah Al-Qur’an, 4) persoalan konsepsi kosa-kata Al-Qur’an.

Pada aspek terakhir ini, Geiger menilai bahwa telah terjadi adopsi atau adaptasi konsepsi kebahasaan Al-Qur’an, sehingga orisinalitas kebahasaan Al-Qur’an berasal dari tradisi pra Al-Qur’an. Hal ini dipandang oleh Geiger terjadi karena hubungan sosial dan transmisi pengetahuan tentang ajaran Yahudi dari mulut ke mulut antara Nabi Muhammad dan orang-orang Yahudi. Geiger mendata sekitar 14 kosa-kata Al-Qur’an yang berasal dari tradisi Yahudi, yang diadopsi dari Bahasa Ibrani, yaitu: Tabut, Taurat, Jannatu ‘Adn, Jahannam, Ahbar, Darasa, Rabbani, Sabt, Taghut, Furqan, Ma’un, Masani, Malakut dan Sakinah

Banyak karya sarjana barat yang mengawali gagasan-gagasan dengan berupaya melacak sumber-sumber Al-Qur’an bermula pada 1833, seperti publikasi karya Abraham Geiger (1810-1874), “Wat hat Mohammed aus dem Judentume Aufgenommen? (Apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi?)”. Terdapat pula dalam karya Geiger yang kedua berjudul “Yudaisme dan sejarahnya dari penghancuran kuil kedua hingga akhir abad ke-12”, dan karya-nya yang ketiga berupa tulisan anumerta, diterbitkan di Berlin oleh L. Gerschel.

* Penulis adalah Seorang Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), IAIN Madura

About The Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here