image by mello.id

Oleh: Imroatun Jamilah & Nurhayati

Negara-negara di dunia mencatat sejarah baru di awal tahun 2020, yang diawali dengan adanya pandemi virus Corona atau COVID-19, termasuk salah satunya negara Indonesia. Lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa COVID-19 adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan yang menyebabkan penyakit flu biasa sampai penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV) dan MERS-CoV. Virus Corona adalah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Sampai saat ini terdapat 93 negara yang mengkorfirmasi terkena virus Corona.

Berdasarkan data Worldometers.info, total kasus positif virus corona di seluruh dunia hingga Senin (7/9) mencapai hampir 28 juta dengan kematian lebih dari 850 ribu orang. Dokumen pemerintah Amerika Serikat yang dikutip dari CNN tentang penanganan pandemi Covid-19 yang rampung bulan lalu sebanyak 100 halaman bahkan memuat rencana darurat selama 18 bulan atau lebih lama. Dokumen tersebut merupakan pandangan di belakang layar bagaimana pemerintah AS meningkatkan kesiapsiagaan. Ketika dokumen tersebut diberitakan, jumlah kasus corona di AS masih kurang dari 10 ribu. Namun saat ini, Negeri Paman Sam ini merupakan negara dengan jumlah kasus dan kematian terbesar di dunia akibat virus corona. Lebih dari 6 juta orang terjangkit dan lebih dari 193 ribu meninggal akibat pandemi ini.

Kehadiran virus corona berdampak pada hampir semua bidang kehidupan. Tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga berdampak pada bidang ekonomi, sosial budaya, agama, bahkan pendidikan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dan masyarakat guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Perubahan terjadi mulai dari ranah sosial yang dibuktikan dengan penerapan physical distancing atau pembatasan fisik, yang tentunya hal ini berdampak pada ekonomi masyarakat, baik pada pendapatan maupun pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah satu dampak penyebaran virus Corona yang cukup signifikan dirasakan yakni dalam dunia pendidikan. Semua aktivitas belajar mengajar baik di sekolah maupun di bangku kuliah diubah dalam bentuk sistem daring dengan memanfaatkan media sosial atau internet. Penyampaian materi pembelajaran diusahakan semaksimal mungkin, meski hasilnya tidak mencukupi tingkat maksimal. Sekolah daring merupakan salah satu solusi agar proses belajar mengajar tetap terlaksana, meski tetap di rumah saja.

Namun tidak semua pelajar memanfaatkan sekolah daring ini dengan baik. Sebagian besar hanya menjadikan sekolah daring sebatas formalitas belaka. Justru mereka hanya memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan, rebahan, main game, nonton sinema dengan waktu yang lama, dan aktivitas-aktivitas kuran bermanfaat lainnya. Sungguh miris nasib generasi muda ini untuk membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang lebih baik, jika hanya waktu luang digunakan dengan aktivitas yang kurang berdampak positif. Mereka bertanya-tanya kapan sekolah? kapan kuliah? layakya aktivitas hari biasa, apakah kita sebagai pelajar hanya begini saja, menanti hilangnya pandemi COVID-19 yang tak kunjung surut? rasa bosan, sedih, resah tidak dapat dipungkiri, tapi semuanya telah terjadi dan harus dihadapi.

Peran generasi muda sangat dibutuhkan negeri ini. Mereka harus mampu ber-inovasi sebagai agent of change, orang-orang yang bertindak sebagai pemicu terjadinya sebuah perubahan yang mampu membawa dampak positif. Pandemi ini tidak untuk malas-malasan, leha-leha atau aktivitas yang kurang memberikan dampak positif, tetapi untuk bangkit dan mencari solusi yang tepat, agar waktu luang tidak terbuang begitu saja. Meski Indonesia telah menerapkan program new normal, kaum muda harus bergerak cepat, cita-cita bangsa masih panjang, masih ada kolom-kolom kosong ketertinggalan bangsa ini, salah satunya dalam dunia pengetahuan dan literasi.

Sebagai upaya untuk memperbaiki pemberlakuan sistem pendidikan di tengah pandemi, Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas yang membahas strategi peningkatan peringkat Indonesia dalam Program for International Student Assessment (PISA) yang berlangsung pada jumat 3 April 2020. Pengukuran PISA bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa berusia 15 tahun di pendidikan menengah, khususnya pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi (membaca & menulis). Presiden menuturkan peringkat Indonesia di PISA terus merosot. Hal ini membuktikan minimnya dunia literasi dalam kehidupan masyarakat, terutama generasi muda Indonesia.

Krisis literasi di Indonesia juga dibuktikan dengan fakta yang didasarkan pada riset Central Connecticut State University 2016, yang mengatakan bahwa literasi Indonesia berada di tingkat kedua terbawah dari 61 negara, hanya satu tingkat di atas Bostwana. Tidak hanya itu, UNESCO juga melakukan penelitian di tahun 2012 dan mengungkapkan bahwa hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang membaca buku. Akibatnya, kemampuan membaca masyarakat Indonesia sangat rendah dan sungguh memprihatinkan.

Padahal, jika rakyat Indonesia (khususnya generasi muda) lebih tekun, literasi akan memberikan manfaat besar bagi kemajuan bangsa. Dunia literasi dapat menjadi teman waktu luang generasi muda, dapat memperluas wawasan. Dengan berbagai ilmu yang dituangkan dalam buku, minimal dapat mengubah tingkat minat baca generasi Indonesia menempati peringkat yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pelajar bukan hanya menikmati dan mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru, bersikap pasif, kurang berperan aktif dalam pembelajaran dan tidak ada reaksi untuk bertanya yang disebabkan karena minimnya pengetahuan dan wawasan dan kurangnya membaca, namun sebaliknya.

Dalam mengatasi masalah ini, diperlukan beberapa solusi dan inovasi untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia, terutama di masa pandemi virus corona. Dalam hal ini, peran pemerintah menjadi perhatian utama, karena penanaman budaya literasi harus dilakukan sedini mungkin dan dibutuhkan proses yang panjang serta dilakukan dalam beberapa tahapan. Dengan langkah pertama ini, keberhasilan dan kesuksesan literasi akan tercapai sehingga dapat memberikan pengaruh positif yakni dapat menciptakan kebiasaan membaca buku meskipun tanpa harus disuruh (Sutrisna, 2018).

Kedua, kita harus memanfaatkan teknologi yang ada. Di era digital ini, penggunaan internet menjadi kebutuhan dalam pengembangan budaya literasi. Pada zaman dahulu, berita-berita ditulis dalam media cetak, seperti koran, majalah, buletin dan media cetak lainnya. Namun hari ini, cakrawala pengetahuan semakin luas ditambah dengan kemajuan IPTEK, sehingga berbagai literatur maupun berita-berita semakin mudah diakses karena telah tersedia lengkap dalam media-media online seperti jurnal, aplikasi sosial media, website, dan sebagainya. Akan tetapi, penggunaan media ini harus diterapkan secara sehat dan bijak, dengan kata lain, tidak menggunakannya dengan berlebihan. Karena meskipun di dalamnya mengandung nilai positif, juga mengandung nilai negatif sehingga kita dituntut untuk teliti dalam menerima informasi.

Ketiga, menerapkan kewajiban membaca walaupun di rumah saja. Penerapan seperti ini dapat dilakukan dengan membentuk sistem gerakan minat baca yang diwajibkan dalam kurikulum pendidikan meskipun berdasarkan sistem sekolah atau kuliah daring. Kebijakan ini perlu diusung oleh pemerintah sebagai upaya pembentukan inovasi baru dalam meningkatkan budaya literasi. Kita dapat menjadi konsumen, menikmati keluasan ilmu dari untaian-untaian kata dengan keluasan makna dalam buku, majalah, koran, atau karya literasi lainnya.

Membaca merupakan cara mudah memperluas wawasan dan menjadi teman sejati bagi kita. Saat kita bosan dengan stay di rumah saja, kita dapat menghibur diri dengan membaca. Saat lelah, letih, buku tidak akan marah, tetap menyimpan luasnya ilmu, dan dapat kita nikmati pun ketika badan fit kembali, tentunya dengan membaca. Kita juga bisa menjadi produsen dalam dunia literasi, menciptakan karya, berbagi ilmu, yang tentunya dapat bermanfaat bagi generasi selanjutnya, serta membangun Indonesia lebih maju. Kita dapat menuangkan berbagai ide, pemikiran, pengalaman, yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dengan melatih bakat tulis menulis, dan bermanfaat bagi orang lain. Jika upaya ini dilakukan dengan terus-menerus, tentu akan dapat meningkatkan kesadaran dalam diri kkita sehingga memunculkan kebiasaan tersendiri.

Masih banyak lagi solusi dan inovasi dalam meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun perlu juga dibangun atas kesadaran diri pada tiap individu, serta kerjasama yang baik dalam memperbaiki peradaban negara, khususnya di bidang pendidikan. Dengan demikian, budaya literasi di Indonesia akan meningkat jika berjalan dengan baik dan sukses. Namun, langkah-langkah tersebut tidaklah berhenti di sini, melainkan perlu dilakukan terus-menerus agar perkembangan dan kemajuan semakin terlihat serta dapat mengurangi atau meminimalisisr suatu permasalahan yang dinilai memprihatinkan ini.

* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Madura

About The Author