Averroes adalah julukan untuk Ibn Rusyd oleh kalangan barat. Para pengikutnya membentuk sebuah aliran Averroisme yang kemudian memberikan kontribusi yang luar biasa pada kebangkitan ilmu-ilmu Yunani atau dikenal dengan istilah Renaissance. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat barat dan cukup memprihatinkan bagi cendekiawan atau umat Islam sendiri.

Ibn Rusyd lahir pada tahun 1126 di daerah Cordoba, Spanyol. Ia dikenal dengan orang yang sangat haus pengetahuan, memiliki sifat yang selalu kurang dalam mencari ilmu. Ibnu Rusyd ahir dari keluarga penegak hukum yang kemudian mempengaruhi kehidupannya. Sehingga wajar banyak orang kemudian menjulukinya sebagai “Komentator Agung”. Bukan hanya menjadi komentar dalam pemikir islam saja, ia juga tidak jarang mengkritisi dan memberikan komentar pada filsuf barat seperti Aristoteles, Galen dan sebagainya.

Karya Al-Ghazali sempat menjadi bahan komentar Ibn Rusyd, lantaran sebuah kitabnya yang berjudul “Kerancuan Filosof” memberikan stimulus bagi Ibn Rusyd untuk menulis komentar yang dimuatnya dalam judul “Kerancuan dalam Kerancuan”. Hal ini tentu menggambarkan bahwa seorang komentator bukan sekedar “nyeloteh” saja, namun juga harus membuktikan dengan sebuah karya.

Averroes tidak hanya menekuni satu disiplin ilmu, Ia juga ahli dalam berbagai macam ilmu seperti kedokteran, fiqih dan filsafat. Ibn Rusyd memberikan gambaran kepada calon filsuf atau cendekia yang ingin mendalami filsafat. Menurutnya, ada lima hal yang perlu dicapai jika ingin menjadi seorang filsuf.

Syarat yang pertama yakni “bakat”, dasar pertama yang harus dipahami seseorang yang ingin mendalami filsafat. Dasar tersebut bisa diperoleh dengan membaca buku-buku filsafat sehingga memiliki nalar yang dapat memicu terjadinya suatu pola pikir yang baru. Dengan begitu, maka akan tercipta unsur pemikiran – pemikiran yang nanti bisa membentuk kerangka berpikir itu sendiri. Tentunya harus ada kebiasaan atau “habit” yang dalam menjalani hal ini.

Kedua, yaitu “tertib”, yakni keharusan bagi calon filsuf untuk biasa teratur dalam mempelajari filsafat. Misalnya membaca kata pengantar, bab per-bab dan seterusnya, apalagi bisa dicatat dalam buku harian. Biasanya dalam hal kedua ini, calon filsuf mengalami beberapa kendala seperti malas, kurang begitu memahami konteks bacaan, atau tidak punya bahan bacaan yang berkaitan dengan filsafat. Untuk meminimalisir hal tersebut, perlu adanya keinginan yang kuat dalam pribadi untuk mendalami dan mengkaji filsafat.

Adapun yang ketiga adalah “objektivitas”, yang berarti seorang filsuf nantinya harus punya sikap yang jujur, tidak tendensius, dan tidak boleh memihak. Objektivitas bagi seorang filsuf menjadi bagian yang penting karena menentukan ke-objektivitasan seorang filsuf dalam mambaca relalitas sosial yang ada di sekitar serta untuk menjawab problematika yang sering menghantui masyarakat pada umumnya.

Nilai ke-empat yaitu “keteguhan pendapat”. Sebagai calon filsuf, kita dituntut untuk tetap dalam konsistensi pendapat kita, yang mampu memberikan sentuhan dan keuletan dalam menentukan pendapat. Hal ini diperlukan jika terjadi suatu masalah, kita akan mudah mendapakan solusi sebagai jawaban. Keteguhan pendapat juga bisa digali dengan berbagai macam sumber, salah satunya adalah membaca, yakni membaca buku dan membaca keadaan.

Syarat yang terakhir yaitu jika seseorang ingin menjadi filsuf maka harus berusaha “ber-akhlaq mulia”, artinya calon filsuf harus menjadi pribadi yang mempunyai etika dan moral yang baik dalam ucapan dan tingkah laku. Dengan demikian, calon filsuf yang baru akan memberikan dampak yang positif terhadap lingkungan dan pada dirinya sendiri.

Beberapa poin di atas hanya beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh calon filsuf untuk menjadi seorang filsuf sejati. Hal tersebut hanya akan dicapai oleh orang-orang tertentu. Meski demikian, bukan berarti kita harus memenuhi poin di atas jika hanya sekedar ingin berfilsafat. Untuk sekedar berfilsafat, pada umumnya tidak ada persyaratan khusus. Cukup kita mampu berpikir dan selalu ingin mencari kebenaran sudah dianggap berfilsafat.

“Ketidaktahuan menyebabkan ketakutan, ketakutan menyebabkan kebencian, dan kebencian selalu mengarah pada ketidakadilan dan kekerasan.”

-Ibnu Rusyd-

* Penulis adalah Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (TBI) IAIN Madura

About The Author