image by jabungonline.com
image by jabungonline.com

Langit yang mendung menambah kesan gerimis akan tiba, sayub-sayub angin menghembus kerudung warna maron milik seorang perempuan yang duduk di got pinggir jalan, usianya 20 tahun ia seorang mahasiswi di kampus negeri kota seberang. Usai di antar ayahnya, ia bersalaman dan menunggu bis di perempatan jalan untuk mengantarnya menuju kota seberang demi memenuhi kewajibannya sebagai santriwati yang hendak kembali ke pesantren. Ia tak hanya sebagai mahasiswi, namun ia juga salah satu santriwati di pondok pesantren milik salah satu dosen di kampusnya.

Tak perlu menunggu lama, suara khas kernet bis mulai terdengar memanggil para penumpang.  Lamunan gadis itu buyar, ia memalingkan wajahnya seolah memberi isyarat pada si kernet. Namanya Nur, tertulis jelas di sampul buku yang dibawanya, “Cahaya Hidupku” sebuah kata terpajang dibawah namanya. Hitungan detik mesin bis kembali melaju menyapa rambu-rambu lalu lintas di sepanjang jalanan. Nur memilih duduk di salah satu kursi kosong samping seorang perempuan sebayanya.

“Maaf kak, siapa namanya?” sapa Nur dengan senyum khas miliknya

“Ayu kak, nama kakak siapa?” balas senyum gadis di sampingnya

“Panggil saja Nur” ia menunjukkan sederet kata “Cahaya Hidupku”, percakapan singkat antar keduanya menambah kesan silaturrahmi sore ini.

Gemercik air hujan kian deras membasahi lorong-lorong, pedagang kaki lima dengan cepatnya mengemas dagangannya, para pejalan kaki berlari mencari tempat untuk berteduh. Tak terasa satu jam sudah terlewati

“Siap-siap, Terminal Ronggosukowati” suara si kernet membanggunkan beberapa penumpang yang terlelap.

Bis menghentikan lajunya di samping koridor, Nur tersenyum menyapa gadis di sampingnya.

“Duluan kak” ucapnya singkat, ia turun dan menuju kursi tunggu.

Hujan masih setia mengguyur kota ini, Nur memilih duduk di ujung kursi tunggu, terminal sore ini ramai, tak seperti hari biasanya yang hanya terlihat beberapa penumpang dan pedagang kaki lima saja. Di sepanjang koridor menuju kursi tunggu, seorang nenek memanggilnya

“Sini mbak” dengan tatapan sinisnya

Nur tidak merespon, rasa takut dan khawatir memenuhi pikirannya, bukan hendak berburuk sangka terhadap orang lain hanya saja lebih waspada, belajar dari pengalaman teman-temannya yang menjadi korban kejahatan.

Layar smartphonenya menyala, tanda ada nontifikasi masuk “Baterai kurang 20%”.  Nur segera membereskan ranselnya yang ia sempat letakkan beberapa menit di atas kursi demi meringankan rasa pegal di punggungnya. Tak ada pilihan lain, kecuali ia menerobos gerimis hujan di sepanjang perjalanan. Kira-kira jarak 500 M dari terminal ke pesantren, cukup menguras tenaga dan tubuh kian menggigil. Mobil-mobil melaju dengan cepatnya, cipratan air yang mengenang mengotori rok dan bajunya.

Nur seorang gadis yang rela merantau demi mengapai cita-citanya, ia tersenyum melihat beberapa peristiwa yang ia alami sore ini, rasa rindu kepada kedua orang tuanya belum usai namun waktu berjalan begitu cepat, ia harus kembali ke pesantren,  tak terasa buliran bening membasahi kelopak matanya, memori dua tahun lalu ketika awal ia mendaftar menjadi mahasiswi di salah satu kampus negeri di kota seberang.

Ayahnya yang rela menerobos derasnya hujan, demi mendapatkan selembar formulir. Nur yang masih tinggal di pesantren harus bolak-balik tiga kali ke kampus tujuannya, kira-kira perjalanaan dua jam dari pesantren di kotanya menuju kampus di kota seberang demi melengkapi beberapa berkas persyaratan, tentu tak hanya menguras energi namun perlu biaya yang tak sedikit, dan pada saat itu Nur harus melunasi biaya cicilam niha’ie (program kelas akhir), tak mudah mengumpulkan rupiah, kedua orang tuanya kembali mencari pinjaman uang dari satu tetangga ke  tetangga yang lain.

Esok harinya, ibunya mengayun sepeda pancalnya dengan senyum khasnya, terik matahari begitu menyengat tubuh terlihat cucuran keringat di wajahnya, Nur terlihat kegirangan, melihat sosok ibunya memasuki gerbang pesantren. Nasi jagung dengan lauk tahu dan ikan tongkol, tak lupa kuah kelor penuh nutrisi, semuanya terbungkus rapi dalam tas plastik milik ibunya. Nur yang begitu lahapnya menikmati hidangan khas desanya ditemani beberapa teman-temannya yang juga menyantap dengan lahapnya. Sekilas kisah hidupnya beberapa hari ini, ia tumpahkan dengan semangatnya pada seorang perempuan penyemangat hidupnya, seorang ibu yang melahirkannya.

“Ini uang niha’ienya,  belajar sungguh-sungguh” ibunya menyerahkan beberapa lembar uang berwarnah merah tampak gambar Soekarno dan Moh. Hatta.

Tampak rasa iba memenuhi pikiran seorang Nur, gadis asal pulau Madura, ia mencium tangan ibunya dan ibunya segera pulang.

Buliran bening tak hentinya berjatuhan dari kelopak matanya, ditemani cucuran hujan yang tak kunjung reda membasahi kerudung, rok dan bajunya. Memori dua tahun lalu menghiasi pikirannya sore ini, menambah semangatnya dalam menuntut ilmu di kota sebrang. Genangan lumpur halus ia lalui, mungkin setinggi betis agar dapat melanjutkan langkahnya.

Hidup di perantauan tak semudah dan tak seindah sinetron televisi, butuh pengorbanan, kesabaran, dan menahan rindu pada kedua orang tua dan keluarganya di sana. Berbagi tak hanya berupa materi, hal kecil berbagi pengalaman atau ilmu yang kita dapat misalnya, dapat bermanfaat bagi orang lain, terus semangat akan ada cerita hari ini dan nanti, ikhtiar insyaallah bisa, dan jangan lupa pulang ada rindu yang harus diobati.

Tetesan air hujan masih setia membasahi kota ini, sebuah pesantren “Taman Al-Qur’an” kian tampak dari kejauhan, terlintas senyum merkah menghiasi wajah Nur. Beberapa menit kemudian, alhamdulillah ia dapat berpijak kembali di pesantren ini, penuh cerita dan pelajaran hidup sebagai bekal pada pengabdian di masyarakat nanti. Sebuah catatan mengawali perjalanan sore ini “Mulai belajar mandiri, berlatih dan terus berkreasi, ciptakan inovasi dan motivasi diri, yang lalu biarlah menjadi pelajaran di hari ini, tanpa menyesal seorang diri, semangat dan ikhtiar insyaallah akan tercapai apa yang kau mimpi, jangan berhenti sampai di sini, rintangan akan terus datang tanpa henti, masih banyak mimpi dan kesuksesan menunggumu di suatu hari nanti, sampai jumpa di kemudian hari.” Semangat untuk para pejuang generasi masa depan.

* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Madura.