image by takselesai.com
image by takselesai.com

Mungkin pembaca memaknai judul di atas adalah kalimat penekanan kepada agama Islam agar menjadi agama yang lucu, kurang lebih demikian deskripsi awal di benak pembaca. Akan tetapi penulis justru akan menghindari pembahasan itu secara spesifik. Loh? Emang penulis punya otoritas apa kepada Islam? Dilihat dari perannya dalam struktur sosial, penulis bukan tokoh agama. Belum lagi penulis bukan penerima wahyu layaknya Nabi Muhammad SAW. Hanya saja dewasa ini perlu kiranya membangun citra lucu bagi Islam sendiri, dengan mencoba membangun paradigma baru Islam di kancah global.

Membicarakan Islam bagi umat Islam sendiri barangkali akan memberi satu kesimpulan yang mengerucut kepada kesimpulan bahwa “Islam agama yang damai” Meskipun tidak sedikit yang prihatin dan menyayangkan wajah Islam saat ini yang ditampilkan oleh sebagian umat. Sebab secara diksi, bahasa “Islam” bisa menjadi kata sifat bagi penganutnya, seseorang akan memiliki sifat Islam jika mampu merepresentasikan value yang ada di agama Islam sendiri. Sehingga tidak ayal jika pemaknaan Islam disimpulkan dari para penganutnya. Muncullah wajah Islam yang keras, kaku dan lain sebagainya.

Maka dipandang perlu mengutip dari kitabnya Abu Hayyan At-Tauhidi yang berjudul al-Bashoir wa al-Dakhair, jangan jauhkan dirimu dari hal sederhana yang bersifat lucu. Simpelnya kita boleh nonton apapun yang bersifat jenaka, apapun yang bersifat komedi, misal video-video lucu! Termasuk hidup ini yang lucu. Hakikatnya, hidup ini kita saja yang terlalu menyikapinya dengan serius, sehingga kita tidak tanggap, pikiran kita jadi picik. Bahkan kalau kata Abu Hayyan, “kalau dirimu tidak bisa menangkap betapa lucunya hidupmu, berarti dirimu kurang peka terhadap hidupmu”.

Hudup ini lucu, semisal simpelnya kita diputusin pacar, harusnya jangan nangis, sebab dengan diputusin kita bisa cari yang lain bukankah enak? dengan demikian nambah pengalaman loh, kenapa harus marah, ngamuk, sumpek, apalagi sampai nangis. Nangis pun itu lucu, cuma ditinggal orang yang belum tentu jodoh, atau bahasanya anak kekinian “jodoh orang yang kita jagain kita nangis”, bukannya itu lucu?

Kalau kita coba menelaah tokoh setelah Abu Hayyan, ada juga Nasruddin Hoja yang pertama memerintahkan kita untuk hidup tidak tegang, tidak terlalu kaku. Boleh-boleh saja kita berfilsafat, berhikmah boleh juga tapi tetap saja harus hadapi secara slowly (santai) saja, silahkan tersenyum dan tertawalah, hidup terlalu lucu. Bahkan Nasruddin Hoja juga mengungkapkan bahwa Nabi juga sering tertawa.

Coba perhatikan persoalan politik akhir-akhir ini, terutama yang bersinggungan langsung dengan umat Islam. Pertama, persoalan gambar Nabi Muhammad oleh presiden Prancis yang mengundang amarah umat Islam. Harusnya Umat Islam sebelum menyikapi dengan serius ketawalah dulu. Ternyata sekelas presiden juga sok memahami seni, padahal ia tidak paham perkara estetik dan etik yang harus diperhatikan.

Kedua, pelaporan Ustad Haikal Hasan oleh politisi PSI, hanya karena bermimpi Nabi Muhammad SAW, harusnya jangan mencaci maki, apalagi menghujat. Tertawalah bersama-sama sehingga kalau bahasanya Abu Hayyan at-Tauhidi “kita bisa peka terhadap kehidupan yang lucu ini”. Loh, bagaimana umat islam tidak harus ketawa, saat hal yang bersifat abstrak plus privasi (mimpi) malah diadili secara hukum, kan lucu. Lebih-lebih sampai diminta bukti konkritnya, harusnya umat Islam tertawa serentak. Dan masih banyak persoalan yang bersinggungan dengan Islam yang sebenarnya itu lucu, tapi umat Islam langsung menyikapinya dengan serius sehingga bawaannya marah, mumet dan sumpek, dan pada akhirnya ditelan oleh kasus-kasus lain. Kasus yang dituntut juga hilang. Andai ketawa diawal dan tidak langsung serius, ya setidaknya kasus ditenggelamkan kita bisa ketawa lagi, karena lucunya penegakan hukum.

Silahkan tilik lagi persoalan yang bersinggungan dengan umat Islam, seperti masalah HRS dan pembubaran Ormas pimpinan beliau. Akan tetapi penulis tidak mau menjabarkan itu karena terlalu tendensius bagi sebagian umat Islam, silahkan temukan kelucuan dari dipersoalan itu.

Jika citra Islam itu terkesan keras, kaku, dan lain sebagainya dengan beberapa indikator yang diciptakan oleh persepsi global, maka akhirilah itu semua dengan memberi wajah Islam ala Nabi Muhammad, yang harus dipraktekan oleh umatnya sebagai representasi wujud Islam sendiri. Bukannya Profil Nabi Muhammad itu Bassam. Orang-orang seakan-akan melihat nabi itu selalu tersenyum, sehingga melihat beliau itu nyaman, tentram dan sejuk. Nah sekarang umatnya bawaannya marah terus, serius terus jadi konsep Abu Hayyan dan Nasruddin Hoja tidak pernah bisa dipahami.

Bukannya Allah SWT sudah Berfirman dalam Al-Qur’an “Wa mal hayatud dunyaa illa la`ibun wa lahwun” yang artinya “Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau (QS. Al-An’am 6: Ayat 32)”. Konsep dogmatisnya demikian, sehingga lahirlah  Konsepsi Abu Hayyan. Kalau boleh pinjam bahasanya beliau itu begini, jika manusia tidak dapat membaca realitas kehidupan yang lucu, maka awan suram kehidupan yang serius akan merusak masing-masing pribadi. Bawaannya mumet, sentimen, stres sehingga berimbas pada wajah Islam sendiri. Konsepsi yang ditawarkan Nasruddin Hoja kurang lebih juga demikian. Tertawalah setelah membaca, atau minimalnya tersenyumlah.

About The Author