image by Brian Simons
image by Brian Simons

Jakarta. Suatu siang yang macet.

           Jakarta, dengan lelaki yang menawan. Mengendarai mobilnya secara perlahan. Takut jalanan marah dengan roda empat yang hampir mati dimakan biaya pajak. Jakarta, dengan kemeja putihnya yang lusuh oleh keringat yang saban hari menempel lewat sela pori-pori di kulitnya. Jakarta, kau menjemputku lewat Every Which Way yang melintas di dalam mobilmu. Bersama Jakarta yang panas dan beringas. Kepalamu yang hanya manggut-manggut bersama lagu Player. Tubuhmu bergoyang-goyang menghentak-hentakkan kaki kanannya. Sneaker hitam putih bermerek Air Jordan yang kau rawat melulu ketimbang tubuhmu. Jakarta mejemputku lewat auramu.

            Sudah hampir setengah perjalan, lelaki itu mengendarai mobilnya. Udara panas terlihat dari balik gedung-gedung yang marah. Namun di dalam mobil, lelaki itu tak menampakan kemarahannya. Dirinya asik bernyanyi mengikuti lagu-lagu yang ia putar. Ia melihat segerombolan manusia-manusia yang ramai menjual moral di pinggir jalan. Aku melihat moral di balik sepatumu yang kau injak dengan merek luar. Katanya, kau malu pakai merek kw.

            Dirinya menatapku. Sebentar saja, takut menabrak kendaraan yang ada didepannya. Dia bilang hidungku bagus.

            “Operasi di mana? Bagus tuh hidung.”

            “Kau sudah lama tak menatapku, sampai lupa dengan hidungku.” jawabku.

            “Yaa, dikira operasi. Biar kayak artis-artis loh, cantik dan glowing. Namun palsu, tak sepertimu yang nyata.”

            Aku hanya diam bersama lamunanku. Jakarta mengubahmu. Namun, lelaki yang memandangku kali ini tak pernah merubahku. Walaupun keriput dikulit mulai menghantui perasaanku. namun tidak untuk lelaki yang menjemputku.

            Perutku mulai berteriak bersama orasi-orasi di pinggir jalan. Katanya sate Pak Min menungguku untuk aku santap bersama lelaki yang menjemputku. Katanya, makanan pinggir jalan yang panas dan belum tersentuh udara AC mengingatkan perjalan sejak dulu. Perjalanan yang jadi sejarah. Perjalan yang enggan di jarah, perjalanan yang tak akan kalah, oleh perjalanan masa sekarang yang menyenangkan bersama lelaki yang menjemputku.

            Aroma sate yang hampir tercium lewat perjalanan panjang. Dan kau juga tak sempat menciumku untuk hari ini. padahal, bibirku yang ranum sudah di oles dengan lipstik warna merah menyala. Katanya nanti dulu, belum menuju malam minggu. Dan katanya lagi; toh juga bibirmu akan prengus bersama sate kambing milik Pak Min.

            Perjalanan kembali lagi melaju bersama Jakarta. Katanya, satenya masih sama. Rasanya masih sama seperti kemarin kita menyantap hampir satu bulan lamanya. Kita kembali meninggalkan aroma sate dan kembali berjalan bersama Jakarta. Di dalam mobil, diriku masih sibuk menatap wajah lelaki yang menjemputku. Lelaki yang kenyang sehabis makan siang. Lelaki yang masih manggut-manggut bersama lagu-lagunya.

            “Sheila on 7 tak pernah mati dimakan jaman.” kataku.

            “Begitu juga dengan kau. Rasaku masih sama denganmu.” jawabnya.

           Seminggu, setelah kau pergi, teman silih berganti, menghiburku… (Betapa, Sheila on 7)

           lagunya kembali berayun-ayun memenuhi ruang dalam mobil.

            “Kalaupun aku mati, kau masih tetap sama?” tanyaku

            “Buktinya, kita masih bersama.”

            Lelaki dengan Jakarta yang panas. Membawaku menuju rumahmu. Katanya, Ayah dan Ibunya menungguku. Bersama kenangan yang tak pernah marah, layaknya petani yang sering dijarah. Lelaki itu mengingatkanku menuju jalan rumahnya. Mengingatkan kembali jalanan yang hampir tak pernah tersentuh olehku. Katanya, diriku selalu sibuk di dunia ilusi. Sibuk membantu Aomame menuju jalan pulang, sibuk menemukan jawaban bersama Kawana Tango. Katanya, diriku sibuk tenggelam dengan dunia ilusi 19Q4.

            Perihal sibuk. Lelaki itu lebih sibuk dariku. Dirinya mencariku lewat karya-karya Lolita, Anna Karenina, Romeo dan Juliet, Laila dan Majnum, dan Jane Erye. Katanya; ‘Siapa tau kau tenggelam dalam keromantisan lewat karyanya’. Akan tetapi, diriku sedang sibuk di dalam koran kompas. Diriku tenggelam dengan ‘Unjuk Rasa Pekerja di Bekasi dan Tangerang.’ Tenggelam bersama ‘Petisi 50 Dukung Gerakan Mahasiswa’ sertsa ‘Tolak UU Omnibus Law.’

            Bersama sibuk, kita tak pernah marah. Perihal sibuk yang tak pernah cocok antara diriku bersama dirinya. Lelaki Jakarta yang saban hari tak pernah melahap karya sasta nusantra. Katanya, karya nusantara norak masuk ke dalam pikirannya. Dirinya sibuk melahap karya sastra milik Patricksuskind, Marie Lu, Haruki Murakami, Agatha Cristie, serta Julia Kagawa. Dan sedangkan diriku, tenggelam bersama Joko Pinurbo, Aan Mansur, Pram, Rendra, Mira W, Leila, dan juga Djenar. Perihal sibuk, diskusi hadir melalui sebuah rasa yang berujung sebuah arti toleransi.

            Dengan toleran, lelaki yang membawaku tak pernah hampir sama denganku. Mulai dari, suatu keyakinan, sifat, kesuakaan, serta pandangan. Semua itu kembali menyatu antara kau dan aku melalui sebuah toleran.

            Jakarta yang panas. Yang mampu membakar amarahku bersama lelaki yang menjemputku pulang kerumahnya. Dan sebelum membawa kerumahnya, Jakarta bersinggah menuju lokasi San Diego Hills. Katanya, diriku mungkin lupa dengan kenangan-kenangan yang tak sempat di ingat. Memang, kadang-kadang ingatanku hampir habis, seperti Handphone yang saban hari mengingatkan dengan tulisan; ‘Memori hampir full.’

            Sebelum sampai ke lokasi San Diego, ia kembali menanyakan kepadaku.

            “Mau melihat kenangan?”

            “Aku tak mau melihat masa lalu.” jawabku.

            “Kita pulang saja, bersama masa depan.” katanya.

            Lagi pula, Jakarta mulai datang besama senja. Senja datang menampakan wajahnya lewat jendela mobil. Rupanya, kenangan hampir tenggelam, bersama senja yang sebentar lagi akan hilang. Lelaki yang membawaku pulang, hampir sampai menuju rumahnya. Dirinya merindukan sofa rumah bersama kucing peliharaanya. Kucing bernama Momo yang sebentar lagi akan ia kenalkan padaku. Dirinya merindukan aroma rumah bersama masakan rumah, yang sebentar lagi akan aku singgahi.

            Aku hanya berdoa. Semoga rumah tak pernah marah. Semoga, rumah senantiasa menerimaku bersama lelaki yang akan membawaku dihadapan Ayah dan Ibunya. Katanya, rumahnya tak punya alat pendingin, tak seperti rumah para anggota dewan. Katanya, alat pendinginnya hilang dicuri koruptor dekat rumahnya. Aku tak masalah tentang hal itu, yang terpenting, rumah tak marah dengan kehadiranku.

            Jakarta membawaku sampai kerumahnya. Bersama mobil Range Rover Evoque 2012, Jakarta menghentikan mesin mobilnya.

            “Kita sudah sampai.” katanya.

            “Terimakasih ya, kau sudah mau sibuk mencariku dan membawaku pulang. Terimakasih ya, sudah mau berjalan bersama kenangan-kenangan. Terimakasih ya, kau masih bertahan denganku hari ini. Terimakasih ya mas.” kataku.

            Dirinya hanya diam menatap jendela mobil. Mungkin, ia lelah seharian menjemputku dan keliling bersama kenangan. Dirinya hanya diam, menahan dagunya dengan tangan kanannya sambil diam termenung. Dirinya terpejam sebentar, mungkin lelah seharian menyanyikan lagu kenangan bersama Jakarta dan senja yang mulai tenggelam. Dirinya kembali membuka matanya, kali ini air matanya membendung di antara kelopak matanya. Mungkin ia merindukan gerimis yang menyamarkan tangisannya. Seketika air matanya jatuh satu demi satu.

            “Kenapa kau menangis?” tanyaku.

            “Aku tau, kau pergi dari Jakarta. Kau pergi bersama penumpang yang terlantar, kau pergi membawa kepanikan yang kian macet. Aku tau, kau pergi meninggalkan janji dan juga diriku.”

            Jakarta kembali menyadarkanku. Aku hanya terdiam menatap wajah lelaki yang kembali meneteskan air matanya. Gerimis kali ini tak datang, mungkin gerimis sengaja bersembunyi dibalik air matanya.

           Aku hanya menutup mata dengan kedua tanganku. Wajahku yang pecah bersama darah, bersama tubuh yang rapuh dimakan hari demi hari. Kepalaku yang dingin dan pusing. Sesekali tanganku menyentuh kepalaku yang lembab bersama darah yang basah, seperti agar-agar lunak. Berlubang dan tak berbentuk, mengucurkan darah amis yang kian habis.

            Aku melihat lelaki itu meraih koran di samping pahaku. Membuka lembaran demi lembaran. Aku melihat namaku muncul di dalam obituari singkat yang baru saja dimuat. Aku ingat, Jakarta mengingatkanku. (*)

-Banjarnegara, Jawa Tengah. 2020.

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Lahir dan besar di Banjarnegara, Jawa Tengah. Waktu kecil bercita-cita menjadi penyanyi. Suka mendengarkan orang lain bercerita. Suka minum jamu namun tak pernah habis kalau makan.

About The Author