image by Magda Ehlers via Pexels
image by Magda Ehlers via Pexels

Siapa yang tak mengenal Nokia, sebuah merk gadget ternama yang terkenal di tahun 2000an ditambah dengan tagline iklan yang sangat terkenal yaitu Connecting People. Nokia Corporation merupakan produsen peralatan alat komunikasi terbesar di dunia asal Finlandia, bahkan saking terkenalnya, Nokia disebut sebagai ponsel sejuta umat karena hampir semua orang di seluruh dunia pernah menggunakan gadget ini. Namun seiring banyaknya gadget baru dengan teknologi canggih yang beredar seperti Apple dan Android, Nokia perlahan menghilang, tak terdengar lagi dan secara pasti tahun 2013 dibeli oleh perusahaan teknologi terbesar lainnya yaitu Microsoft (Koinworks, 2021).

Informasi ini hanya satu dari sekian banyak informasi bisnis yang mengalami perubahan secara signifikan, padahal secara hitungan matematis hampir dipastikan bisnis telepon seluler ini  tidak akan tergeser  oleh bisnis serupa, karena telah menjadi raja bisnis telepon seluler yang mendunia selama 14 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan ini, namun kita bisa menunjukkan bahwa perubahan akan terus terjadi, bahkan menggerus sesuatu yang menurut manusia tidak mungkin berubah.

Perubahan pola kehidupan dalam masyarakat sering disebut sebagai perubahan sosial, didalamnya ada perubahan struktur dan fungsi sistem sosial. Perubahan sistem sosial biasanya diawali dengan adanya penemuan yang berisi ide atau gagasan baru yang diciptakan atau dikembangkan. Pada tahap berikutnya adalah bagaimana ide atau gagasan baru  dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial. Penemuan baru yang terus dikomunikasikan akan membawa satu konsekuensi yang harus diterima, yaitu perubahan.

Perubahan masyarakat (sosial) ini membawa dampak terhadap cara manusia bersikap. Ada yang menolak perubahan dan ada yang menerima, dalam kelompok penerima perubahan juga muncul permasalahan yang memerlukan solusi. Sebenarnya banyak cara menyikapi perubahan, namun sebagian menawarkan  solusi secara parsial atau pragmatis, hal ini dipengaruhi oleh sudut pandang atau paradigma seseorang.

Paradigma yang dipakai seseorang dalam memandang perubahan sangat berpengaruh terhadap solusi yang diberikan, terkadang solusi yang diberikan akan memangkas ide atau gagasan yang sudah ada ditengah masyarakat, bahkan  untuk sesuatu yang sudah dianggap  baku. Dalam menyikapi perubahan, kita memerlukan  cara berpikir dengan solusi mendasar yaitu dengan cara melihat akar permasalahan. Dalam hal ini, paradigma sistemik yang didalamnya terdapat cara berpikir sistemik dan sistematis sangat diperlukan.

Menurut Mario Bunge dalam Bunge’s systemic philosophy, paradigma sistemik adalah “ The core of systemic thinking is to acquire insight into connections and patterns, and it provides an alternative to both individualism and holism (Bunge, 1996a, p. 44). Consequently, Bunge’s SP is an extension of, and is new in relation to, system thinking”. Menurut Bunge, inti dari pemikiran atau paradigma sistemik adalah memperoleh wawasan tentang koneksi dan pola yang akan memberikan alternatif secara individual dan sifatnya holistik. Kemudian paradigma sistemik  ini terkait dengan cara berpikir sistem dan berpikir sistemik.

Dalam berpikir sistemik memerlukan suatu konsep yang jelas, karena berpikir sistemik adalah cara untuk memahami sistem yang komplek dengan menganalisis bagian-bagian sistem untuk mengetahui pola hubungan yang terdapat dalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem. Dan pada prinsipnya, berpikir sistemik adalah mengkombinasikan dua kemampuan berpikir yaitu berpikir analis dan berpikir sintesis (Ford, 2006).

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah “apa hubungan paradigma sistemik sebagai solusi perubahan sosial?”. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengetahui konsep suatu perubahan. Perubahan  adalah kumpulan dari pola-pola peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat dan akhirnya membentuk suatu sistem kehidupan. Sementara sistem adalah suatu tatanan yang terdiri atas berbagai unsur, di mana  antara  unsur yang satu dan yang lainnya sangat erat kaitannya.

Perubahan diawali dengan munculnya ide atau gagasan atau inovasi yang terus dikomunikasikan melalui saluran masyarakat dan dilakukan sepanjang waktu. Menurut Roger dan Shoemaker (1971) bahwa perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga) tahapan yaitu : penemuan (invention), difusi (diffusion) dan konskeuensi  (consequences). Penemuan adalah proses dimana ide atau gagasan baru diciptakan, sedangkan difusi adalah proses dimana ide atau gagasan baru dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial dan konskuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil cipta dari adopsi atau penolakan terhadap  inovasi.

Perubahan memunculkan dua kelompok masyarakat; kelompok penerima perubahan (adopter) dan kelompok masyarakat yang bertahan dengan tradisi yang ada, kelompok ini biasanya adalah kelompok pada zona nyaman (comport zone). Disinilah muncul permasalahan sosial, karena ada dua kepentingan besar di tengah masyarakat. Namun sekali lagi ditekankan, bahwa perubahan akan tetap terjadi, cepat ataupun lambat. Penemuan atau inovasi akan terus bermunculan seiring dengan waktu. Sementara inovator terus membuat gagasan baru  sedangkan adopter akan terus mengkomunikasikan ide gagasan atau inovasi di tengah masyarakat, bahkan sampai memangkas atau mendisrupsi (disruption) kebiasaan konvensional. Para adopter ini kemudian berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Roger (1995) menyampaikan  bahwa kelompok adopter ini adalah kelompok penerima perubahan atau penerima inovasi. Dalam teori yang dicetuskan oleh Roger yaitu teori difusi inovasi, ada beberapa variabel berpengaruh dalam proses difusi inovasi yaitu : 1) atribut inovasi, 2) jenis keputusan inovasi, 3).  saluran komunikasi,  4).  kondisi sistem sosial dan 5) peran agen perubah. Agen perubahan berfungsi menciptakan perubahan, memfasilitasi perubahan, memberikan solusi atas dampak/pengaruh perubahan, memberikan pertolongan dan menjadi penghubung antara sumber-sumber yang diperlukan dalam memecahkan masalah yang ditimbulkan perubahan. Pentingnya fungsi agen perubahan dalam proses penerimaan perubahan sosial dan pemberian solusi atas berbagai masalah yang ditimbulkan oleh perubahan, menuntut seorang agen perubahan memiliki  paradigma yang tepat dan solutif. Disini lah letak hubungan paradigma sistemik dengan solusi perubahan sosial.

Paradigma sistemik didasarkan pada pemikiran sistem; didalamnya terdapat  konsep berpikir serba  sistem (systems thingking) dan berpikir sistemik (systemic thingking). Pada dasarnya kedua konsep ini memiliki kesamaan, hanya saja berpikir sistemik (systemic thingking) lebih menekankan pada  pencarian pola hubungan (pattern). Sedangkan berpikir serba  sistem (systems thingking) lebih menekankan pada pemahaman bagaimana elemen-elemen itu berhubungan.

Dalam praktiknya kedua cara berpikir ini diperlukan untuk memandang sebuah peristiwa atau kejadian secara sistemik, agar ketika seseorang berpikir dan memberikan solusi, ia tidak berpikir secara parsial. Paradigma sistemik memandang bahwa peristiwa atau kejadian secara sistem yaitu bahwa peristiwa itu terjadi atas berbagai variabel yang mendukung atau dalam bahasa sistem terdiri dari elemen-elemen atau sub-sub sistem. Paradigma sistemik ini akan melihat persoalan dari akar permasalahan bukan pada permasalahan cabang.

Contoh kasus bangkrutnya perusahaan besar telepon seluler (ponsel) merk Nokia, jika hanya dipandang dari kejadian atau fakta,  maka yang akan didapatkan adalah fakta kebangkrutan Nokia dan hal ini biasa terjadi dalam dunia bisnis. Bagi orang yang melihat secara fakta, maka yang bisa diceritakan dari fakta tersebut, misal; terkait  kapan bangkrutnya, siapa pemilik terakhir dari Nokia lalu siapa pembeli lisensi ponsel tersebut; artinya hanya melihat pada sesuatu yang bisa diindera saja. Cara berpikir seperti ini disebut dengan berpikir pragmatis.

Begitu pula ketika seorang agen perubahan di tengah masyarakat menjalankan fungsinya; jika ia memiliki paradigma sempit atau berpikir pragmatis (fragmented-linear-cartesian) atau melihat hanya berdasarkan fakta, maka tentu solusi yang diberikan tidak mendasar dan hanya sebagai reaksi dari sebuah perubahan. Rahma, dkk (2018) menyebutkan ada 4 (empat) fungsi seorang agen perubahan yaitu sebagai; 1) catalist (penghubung yang menggerakkan suatu masyarakat untuk melakukan perubahan), 2). solution giver (pemberi solusi dalam memecahkan suatu masalah, 3) process helper (memberikan bantuan dalam proses perubahan dan 4). resources linker (penghubung dengan sumber-sumber yang diperlukan dalam memecahkan masalah).

Pentingnya berpikir sistemik (systemic thingking) bagi seorang agen perubahan adalah agar  ia mampu  menjalankan fungsinya dengan baik, karena dengan berpikir sistemik maka ia dapat memikirkan segala sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu dan mempunyai tahapan sebelum proses pengambilan keputusan. Dengan berpikir sistemik (systemic thingking) ia akan menyadari bahwa segala sesuatu akan berinteraksi dengan perkara lain di sekelilingnya.  Cara berpikir sistemik (systemic thinking) ini mengkombinasikan antara: analytical thinking (kemampuan mengurai elemen-elemen suatu masalah) dan synthetical thinking (memadukan elemen-elemen tersebut menjadi kesatuan).

Dalam berpikir sistem setidaknya ada tiga tingkatan berpikir, yaitu; 1). berpikir berdasarkan event atau kejadian. Cara berpikir  ini akan memberikan solusi pada apa yang mampu dilihat oleh panca indera atau kasat mata saja, yang akhirnya melahirkan solusi pragmatis, pendekatan yang biasa dipakai adalah pendekatan reaktif,  2). berpikir sistem perilaku (system behavior) yaitu berpikir pada tingkatan yang lebih mendalam karena sudah melihat perilaku sistem, cara berpikir ini tidak hanya melihat kejadian dari fakta kasat mata, namun sudah melihat atau mulai menangkap pola-pola tertentu yang memiliki kecenderungan (fenomenologi), pendekatan yang  dipakai adalah pendekatan antisipasif dan 3) berpikir struktur sistem (structure system) dengan pendekatan generatif, yaitu cara berpikir yang sudah menggunakan sistem analisis dan visi yang jelas, pendekatan generatif digunakan pada tingkatan berpikir ini agar seseorang dapat menganalisis dan melihat keterkaitan antara satu faktor dan faktor lainnya. Dalam prosesnya, tingkatan berpikir ini tetap memerlukan pendekatan antisipasif, namun di tahap selanjutnya memerlukan pendekatan generatif (Suaedi, 2016)

Sebagai contoh kasus bangkrutnya Nokia, jika seseorang menggunakan cara berpikir sistem  perilaku (system behavior), maka ia akan melihat pola-pola yang mendukung bangkrutnya perusahaan Nokia, misal melihat dari pola inovasi, dan pola manajemen-marketingnya. Bahwa dua pola ini turut menyumbang proses bangkrutnya perusahaan Nokia. Misal; tetap bertahannya perusahaan nokia pada pola inovasi yang ada dan tidak mau menerima inovasi berdasarkan perubahan keinginan konsumen, inovasi hanya berdasarkan pendapat pengembang inovasi interen. Kemudian pola manajemen yang kaku dengan sistem marketing bisnis dengan konsep lama, misal cukup dengan memperkuat brand dan memperbanyak iklan untuk menggempur loyalitas pengguna.

Sedangkan untuk berpikir struktur sistem (systemic structure) menekankan cara berpikir yang tidak hanya melihat kejadian dan pola-pola (fenomena) yang ada dalam suatu kejadian, tapi sudah ada analisis mendalam lebih tersistematik dengan melihat keterkaitan antara pola-pola yang ada atau sub-sub sistem yang membangun sebuah data/informasi atau fakta. Sehingga menghasilkan sintesa yang holistik dan memberikan solusi dari akar permasalahan. Sistem analisis ini bisa menggunakan metode 5 W + 1 H.

Pada kasus bangkrutnya Nokia, bisa dibuat penalaran sub-sub sistem yang mendukung struktur sistem dalam perusahaan, misal; dilihat dari 6 (enam) unsur manajemen yaitu man, money, methods, matherial, machines dan  market.  Kemudian  dibuat analisis 5W+1H;  apa (what) yang menyebabkan bangkrutnya Nokia? kapan (when) mulai terjadi tanda-tanda penurunan produksi?. Mengapa (why), lebih terkait dengan latar belakang kebangkrutan untuk melihat mengapa hal tersebut terjadi. Dimana (where) titik lemah dari 6 unsur manajemen perusahaan. Siapa (who) saja yang memegang peran sentral dalam kebijakan manajemen khususnya produksi, inovasi dan marketing. Dan bagaimana (How) proses perubahan terkait inovasi dijalankan hingga masa tanda-tanda kebangkrutan terjadi. Setelah kita mendaftar dan menemukan elemen-elemen permasalahan, kita tentukan tema atau pola umumnya untuk menentukan akar masalahnya kemudian dibuat sintesa untuk memberikan solusi atau rekomendasi  untuk kejadian serupa.

Pentingnya paradigma sistem (systemic paradigm) dalam melihat persoalan dalam hal ini perubahan sosial, akan menghantarkan seseorang pada berpikir solutif dan holistik. Berpikir sistemik akan mampu membantu  mengurai masalah yang ditimbulkan oleh suatu perubahan. Menemukan akar masalah adalah hal pokok yang harus kita lakukan sebelum melakukan sintesa, agar solusi yang diberikan memberikan manfaat  untuk menentukan  langkah apa yang harus kita lakukan di tahapan selanjutnya.

About The Author