image by Hashtag Melvin via Pexels
image by Hashtag Melvin via Pexels

Childfree sebagai Moral Relatif

Dan perihal diluar itu, saya melihat fenomena childfree sebagai fenomena yang disalah pahami. Karena pada dasarnya, secara “moral” apalagi dalam dunia kita yang telah rasional, pilihan atas kehidupan personal adalah bebas nilai, sejauh pilihan itu tidak merugikan pihak yang lain. Seharusnya mereka semua dapat mengerti pilihan dari masing-masing kubu, yaitu pilihan untuk tidak punya anak, dan pilihan untuk memiliki anak. Sejatinya tidak ada yang lebih benar dan lebih salah dalam pilihan itu, mengapa demikian? Karena pada dasarnya, orientasi adalah selalu dalam keadaan yang relatif, tergantung pengalaman-pengalaman setiap manusia yang menjalani. Untuk beberapa orang, memiliki anak adalah lebih membahagiakan ketimbang tidak memiliki anak. Dan juga sebaliknya untuk beberapa orang, tidak memiliki anak adalah lebih membahagiakan ketimbang mempunyai anak.

Bahwa ketakutan seorang penganut childfree adalah lebih besar untuk membayangkan dirinya dalam kondisi mempunyai anak daripada membayangkan dirinya tidak memiliki anak sama sekali, karena seseorang telah mengetahui batas-batas akan dirinya, dan dirinya menganggap akan mendapati satu keburukan jika memiliki anak, sehingga memilih childfree adalah hal yang sangat menguntungkan serta rasional bagi pribadi tersebut. Dan juga sebaliknya, orang-orang yang ingin memiliki anak tidak akan related dengan keputusan para penganut childfree, karena keinginan mereka untuk mempunyai anak adalah lebih besar daripada ketakutan mereka dari beratnya mengurus seorang anak. Karena seseorang telah mengetahui batas-batas akan dirinya juga, dan dirinya menganggap akan mendapati satu keburukan jika tidak memiliki anak sama sekali. Sehingga memilih punya anak adalah hal yang sangat menguntungkan serta rasional bagi pribadi tersebut.

Sehingga dari kedua orientasi tersebut, keduanya tampak meyakini kebenaran masing-masing, dan keduanya mungkin juga heran dengan keputusan-keputusan yang berbeda dari dirinya, itu semua karena kita tidak mencoba untuk memposisikan diri kita pada kondisi yang lain atau orientasi yang lain, sehingga kita sering marah-marah saat melihat orang lain berbeda pilihan dengan kita. Oleh karena itu, perdebatan atas yang ingin childfree atau tidak adalah perdebatan level anak TK jika diniatkan untuk merasa paling benar.

Childfree atau tidak Childfree sebagai Idealisasi

Karena sejatinya, setiap manusia ingin berkembang biak, dan ini mewakili sisi primitif daripada manusia, dan selanjutnya manusia ingin hidup dalam ketentraman, hal ini mewakili sisi transenden daripada manusia. Pendukung childfree seolah-olah mendewakan pilihannya, atau seolah-olah dia tidak punya sisi primitif, padahal bisa saya jamin, setiap pelaku childfree pasti juga menginginkan yang namanya anak jika memiliki anak di zaman sekarang tidak seribet itu, karena memiliki anak adalah kodrat daripada evolusi atau bawaan primitif makhluk hidup, yaitu untuk menurunkan genetika.

Dan sebaliknya untuk para penentang childfree, mereka seolah-olah juga mendewakan pilihannya, atau seolah-olah mereka tidak punya sisi transenden. Padahal bisa saya jamin, setiap penentang childfree, pasti mau childfree juga jika childfree tidak dosa dan tidak masalah dalam stigma masyarakat, pasti mereka akan terbesit dalam pikirannya untuk tidak punya anak, karena mempunyai anak adalah tugas yang berat dan melelahkan untuk zaman ini, tidak hanya secara materil, melainkan juga secara emosional.

Jadi, sintesis yang dihasilkan adalah, keduanya sama-sama malu untuk mengakui, bahwa mereka sangat linear dalam berpikir. Di satu sisi, orang-orang childfree sebenarnya menginginkan anak, dan di sisi yang lain, orang-orang yang membenci childfree, mereka juga menginginkan ketenangan batin dengan cara tidak memiliki anak, hal itu meliputi seluruh tanggung jawab manusia transenden, seperti memiliki properti, asuransi, ketahanan pangan, mental yang baik, bebas trauma dan yang sejenisnya.

Karena seolah-olah, kedua kubu hanya seperti membutuhkan satu mode saja, entah itu punya anak saja atau ketenangan batin saja, dan dengan memilih salah satu dikira bisa menghadirkan level tertinggi daripada kebahagiaan seorang manusia. Orang-orang ini tidak berpikir, bahwa kedua mode itu sama-sama dibutuhkan bagi kehidupan yang ideal, yaitu dengan mempunyai anak, dan disisi yang lain harus terbebas atas perasaan tanggung jawab karena telah mempunyai anak.

Tetapi nyatanya tidak begitu, mereka semua menganggap pihannya sebagai satu kondisi yang paling ideal. Posisi tulisan ini bukan untuk mengajak manusia-manusia itu supaya mengejar kedua kebutuhan tersebut, bukan seperti itu poinnya. Poin yang ingin ditujukan adalah, kedua pelaku itu cacat dalam berlogika atau dalam menempatkan satu idealisasi. Bahwa ideologi mereka seolah-olah adalah realitas yang paling ideal dan paling menguntungkan bagi kehidupan, padahal tidak demikian.

Para Penganut Childfree

Dan yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, Bagaimana fenomena childfree ini dapat muncul di tengah-tengah kehidupan kita? Dan juga mengapa kesadaran akan childfree ini dimulai dari perempuan?

Hal itu terjadi karena ideologi feminisme yang makin luas persebarannya di Indonesia yang menyebabkan childfree menjadi marak. Karena seperti yang kita tahu, perempuan lah yang mengawali gerakan ini di Barat, karena perempuan pada awalnya sadar akan dirinya yang diperlakukan tidak adil dalam kehidupan sosial, lalu mereka mulai menuntut hak-hak sosial. Tetapi feminis tidak berhenti disana dan mulai melebarkan sayap sampai saat ini, hingga akhirnya memunculkan kesadaran akan hak-hak reproduksi atau hak atas childfree.

Terdapat dua hal yang berbeda, antara kodrat wanita untuk melahirkan, dan memilih kodrat itu untuk digunakan. Pada dasarnya, wanita tidaklah wajib untuk menggunakan kodrat itu. Karena sedari awal, itu adalah selalu menjadi hak, dan hak itu bisa dipakai atau tidak. Dengan kesadaran inilah, childfree menjadi dibenarkan secara kemanusiaan, ditambah banyak laki-laki yang telah sadar juga akan masalah ini, dimana reproduksi tetap milik perempuan, dan selalu menempel pada diri mereka sampai kapanpun, sehingga itu adalah urusan perempuan untuk memakainya atau tidak. Laki-laki tidak pernah bisa mempunyai otoritas atasnya.

Tetapi, sebelum kesadaran atas hak reproduksi muncul, para perempuan juga telah mendapati unsur-unsur pendukung untuk childfree sedari awal, misalnya seperti trauma masa kecil, dimana masa lalu seseorang sangat mempengaruhi keputusan ia saat dewasa, pada dasarnya telah banyak anak-anak yang menyaksikan orang tua mereka kesulitan dalam berkehidupan, sehingga mereka sangat trauma dan tidak ingin hal itu terjadi pada anak-anak mereka, bahkan kepada orang lain sekalipun. Ketidakjelasan akan masa depan adalah hal yang sangat menakutkan bagi para penderita trauma, mereka tidak ingin “gambling” atas kehidupannya. Walaupun para penderita trauma itu telah mandiri secara ekonomi, keputusan untuk childfree tetap dilakukan, karena mereka tidak bisa menjamin untuk memiliki kehidupan yang ideal selama-lamanya.

Dalam kondisi ini, kebanyakan pelaku childfree lebih banyak menyalahkan diri sendiri atas semuanya, bahwa mereka sering depresi sendirian, para pelaku childfree ini tidak ingin mempunyai anak bukan karena mereka membenci anak-anak, tetapi karena mereka membenci diri sendiri atas ketidakmampuan mereka secara mental dan emosi. Para pelaku childfree seperti ini sering menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang ada. Dan para pelaku childfree model ini dapat dikatakan akan konsisten dengan keputusan childfreenya, karena trauma sendiri sangat sulit untuk disembuhkan.

Selanjutnya ada tipe penganut childfree yang kedua, yaitu mereka yang memutuskan childfree karena masalah saat ini yang sedang dihadapi, ialah kebalikannya dari penganut childfree akibat trauma masa kecil. Para penganut childfree ini adalah individu yang normal biasanya, hanya saja mereka mendapati satu kondisi terbaru di hidupnya yang membuat mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak, kebanyakan dari mereka adalah karena masalah ekonomi. Dimana ada banyak pasangan suami-istri yang akhirnya memutuskan untuk childfree, dan kebanyakan pelaku childfree model ini dapat dikatakan bersifat sementara atau “temporary” saja, karena keputusan mereka akan childfree ditentukan oleh kondisi-kondisi yang dapat diubah dalam waktu dekat, ialah seperti kondisi ekonomi, apabila kondisinya membaik, maka mereka mau untuk mempunyai anak kembali, dan hidup selayaknya pasangan normal.

Kampanye Childfree

Menjadi hal yang wajar juga bagi para penganut childfree untuk mempublikasi atau mengkampanyekan masalah tersebut, walaupun kampanye ini bukan ditujukan kepada negara, melainkan kepada lapisan masyarakat umum, karena tidak ada aturan negara yang mewajibkan perempuan harus memiliki anak. Perempuan selalu boleh untuk memiliki anak atau tidak di mata hukum, maka negara bukan pihak yang dituju. Sehingga perempuan merasa wajib untuk mengkampanyekan isu ini, supaya perempuan-perempuan lain yang ingin childfree dan tetap ingin menikah, masih bisa dihargai oleh suaminya atau laki-lakinya, sehingga perempuan yang memilih childfree bukan lagi menjadi hal yang tabu. Begitu juga dengan sebaliknya, ketika laki-laki yang menginginkan childfree, perempuan atau istrinya dapat memahami itu. Sejatinya laki-laki juga mempunyai hak atas sperma, sama seperti perempuan memiliki hak atas vagina.

Pada dasarnya, kampanye ini juga wajar jika banyak ditentang, karena childfree adalah hal baru bagi sejarah makhluk hidup, khususnya manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, kita semua telah melihat bahwa perempuan selalu dalam menerima kodratnya, yaitu melahirkan. Tetapi belakangan ini, perempuan menolak kodrat itu. Hal ini adalah hal yang paling radikal untuk terjadi bagi peradaban manusia selama ini. Sehingga hal yang wajar jika penganut childfree akan mendapatkan banyak tentangan, karena dia mengusik hukum alam yang telah berlangsung lama.

Dan juga ketika kita ingin membandingkan fenomena childfree dengan satu kasus yang sejenis, misalnya kampanye tentang normalnya LGBT, maka kita akan mendapati satu analisa yang mengejutkan, karena diduga efek yang akan ditimbulkan atas kampanye childfree bisa lebih besar fluktuatifnya daripada kampanye tentang normalnya LGBT. Karena kampanye akan LGBT hanya akan membuat orang-orang yang tadinya bersembunyi, lalu menjadi berani untuk go publik, karena LGBT berhubungan dengan genetik, bukan psikologis, sehingga tidak ada orang yang memilih untuk menjadi LGBT atau tidak. Efek kampanye atas normalnya LGBT selalu dalam grafik yang konstan, orang-orang yang tidak memiliki genetik LGBT tidak akan terpengaruh walaupun ia mendengar 100 ribu kampanye akan normalnya LGBT.

Sedangkan untuk masalah kampanye childfree, hal ini bisa berdampak pada fluktuatif yang lebih besar grafiknya, terus melonjak seiring waktu. Karena childfree adalah tentang psikologi yang menyadar, jika telah banyak perempuan yang sadar akan beratnya memiliki anak, dan ternyata memiliki anak adalah hak baginya, maka akan ada banyak perempuan yang dapat berubah menjadi penganut childfree. Karena ini bukan soal genetik, melainkan ini soal kesadaran seseorang. Oleh karena itu, masalah childfree ini adalah masalah emosional, kadang seseorang yang menyatakan diri untuk childfree saat ini, dia bisa saja berubah pendapat, dan memilih untuk memiliki anak beberapa waktu kemudian, dan juga sebaliknya, orang-orang yang ingin memiliki anak, tapi beberapa waktu kemudian dia berubah pikiran, yaitu menjadi penganut childfree.

Jadi kita harus hati-hati dalam berpendapat, kadang hari ini kita menyatakan sesuatu dengan yakin, besoknya kita bisa langsung berubah. Karena kita harus catat, masalah ini adalah masalah yang berhubungan dengan stabilitas emosional dari seorang manusia. Lebih baik kita menyatakan diri pada posisi yang tak menentu, bahwa kita bisa memilih childfree suatu hari, dan bisa memilih punya anak suatu hari, sehingga posisi kita lebih bijak dan baik.

Sehingga, kampanye atas childfree ini menjadi sangat menakutkan bagi orang-orang konservatif, karena efek pengaruhnya bisa lebih besar daripada kampanye akan LGBT. Karena dalam kasus ini, laki-laki yang ingin mempunyai anak akan dirugikan. Secara psikologis, perempuan lah yang sering meminta untuk tidak mau memiliki anak, karena beban reproduksi selalu ada pada perempuan, bukan laki-laki. Sehingga jumlah perempuan yang akan childfree kedepannya bisa menjadi lebih banyak, dan akan semakin banyak juga laki-laki yang harus bertoleransi akan keputusan perempuannya. Mau tidak mau, laki-laki harus menghormati keputusan itu, dan ini yang tentunya tidak ingin dilalui oleh laki-laki konservatif.

Secara fisiologis, laki-laki didesain untuk tidak menyadari betapa beratnya beban reproduksi, karena lelaki tidak melahirkan dan juga tidak menyusui, maka lelaki kadang tidak related untuk memahami keputusan perempuan yang memilih childfree. Tetapi yang menjadi fakta adalah sebaliknya, jika laki-laki yang tidak related dengan fenomena tersebut, mengapa lebih banyak perempuan yang melakukan protes serta menentang fenomena childfree? Kita bisa melihat ini pada laman di beberapa sosial media, dimana yang banyak berdebat untuk menentang childfree adalah perempuan itu sendiri, laki-laki malah lebih sering pasif dalam masalah ini.

Para Penentang Childfree

Ini akan menjadi satu analisa yang sangat menarik, karena seperti penjelasan sebelumnya, jika laki-laki yang tidak related, mengapa jadi perempuan yang banyak protes, seharusnya semua perempuan dapat memahami keputusan childfree dari perempuan lain, bahkan harusnya sampai tahap mendukung, karena seluruh perempuan akan mengalami beratnya mempunyai anak.

Jawabannya gampang-gampang mudah. Dahulu, posisi perempuan dalam sejarah peradaban manusia primitif, kondisinya adalah kondisi yang terbatas dan selalu jelas tugas-tugasnya, yakni untuk melahirkan dan mengurus anak, itu saja tugasnya. Tetapi hal itu tidak hanya berhenti pada kondisi tersebut, manusia semakin berkembang hingga kini, tetapi masih membawa insting tersebut. Perempuan menyadari betul bahwa dirinya sangat rentan secara fisik, karena mereka harus melahirkan dan menyusui. Sehingga kerentanan itu yang membuat perempuan jadi sangat membutuhkan sosok maskulin atau laki-laki.

Menjadi sebuah prestasi tersendiri, perempuan-perempuan yang subur dan dapat memiliki banyak anak. Hal ini secara evolusi menjadi sangat wajar, dahulu perempuan mendapatkan “pride” nya lewat sana, atau jiwanya perempuan adalah lewat melahirkan itu. Perempuan dengan sifat feminimnya adalah bukan tanpa alasan, itu semua adalah senjata dari perempuan sendiri untuk menunjukan tingkatannya atau levelnya. Wanita yang subur dan feminim adalah seperti laki-laki yang memiliki banyak harta serta mempunyai wajah yang tampan atau tubuh yang kekar.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa ada banyak perempuan yang protes ke sesama perempuan yang memilih untuk childfree, karena dengan adanya childfree, insting primitif daripada perempuan menjadi terancam. Karena dengan cara melahirkanlah, kefeminiman perempuan dapat terealisasi. Sehingga kampanye-kampanye atas childfree banyak ditentang oleh perempuan itu sendiri, karena childfree adalah tindakan (defeminisasi) atau mengurangi sifat feminim pada perempuan. Menjadi hal yang wajar bila perempuan lain banyak yang menghina childfree. Kasusnya sama ketika ada laki-laki yang bersifat feminim, dan akan ada banyak laki-laki maskulin yang menghinanya, karena tindakan laki-laki feminim tersebut telah mencoreng sifat maskulin laki-laki itu sendiri.

Oleh karena itu, seperti yang saya jelaskan di awal, perempuan yang memilih childfree, pasti dalam hatinya selalu terbesit untuk memiliki anak, hanya saja ketakutan dia akan depresi batin lebih besar daripada keinginan dia memiliki seorang anak. Akhirnya perempuan terpaksa memilih untuk childfree, bukan karena keinginannya yang natural.

Childfree sebagai Moral Objektif

Ada hal yang lebih menarik lagi, sebuah pertanyaan yang mengganggu saya. Bagaimana jadinya jika masalah childfree adalah masalah yang objektif dan kebenarannya tidak dapat dibantah, dalam artian ia bukan sebagai kebenaran yang relatif. Karena kita semua telah mengetahui bahwa bumi kita ini telah berjalan kepada dunia yang over populasi, dan kita semua mempunyai andil di dalam fakta tersebut. Kita sebagai pelaku yang membuat kondisi tersebut, mempunyai tanggung jawab untuk menghentikannya. Tentunya over populasi adalah masalah yang sangat serius, karena itu berhubungan dengan persediaan pangan, kesediaan lahan, dan juga perebutan ekonomi yang semakin ketat. Jika over populasi tidak segera ditanggulangi, maka bencana besar telah menunggu kita semua di depan, dan tentunya kita tidak ingin itu terjadi.

Dalam logika moral antroposentris, kesejahteraan manusia adalah kebenaran itu sendiri. Bahwa moral dalam konteks ini tidaklah relatif, apa-apa saja yang melanggengkan kehidupan manusia, maka dia adalah kebenaran, dan apa-apa saja yang membahayakan kehidupan manusia, maka dia adalah kesalahan. Dalam konteks dunia yang over populasi tersebut, kebenarannya adalah dengan menjaga umat manusia itu sendiri supaya terus hidup. Karena dampak yang akan dihasilkan over populasi adalah penderitaan bagi banyak manusia, akan banyak pembunuhan dimana-mana, kekerasan, penyakit, dan tentunya itu tidak menjaga kesejahteraan manusia, maka over populasi akan dihukumi sebagai satu kesalahan dalam logika moral antroposentris.

Sehingga, kasus childfree nampaknya akan menjadi kebenaran itu sendiri, dan tidak bisa diganggu gugat lagi kebenarannya, dan juga tidak ada lagi ruang untuk kompromi relatif. Sehingga pemaksaan satu pihak otoritatif atau bukan kepada pihak yang lainnya, sejauh hal itu digunakan untuk memaksa orang-orang untuk mengurangi populasi, maka itu adalah kebenaran. Contoh kasus yang kita bisa lihat adalah seperti contoh vaksin Covid-19 kemarin, dimana pemaksaan atas vaksin adalah bukan kesalahan, karena dia telah memenuhi kaidah-kaidah daripada standar moral antroposen. Pemaksaan atas vaksin adalah untuk kebaikan yang lebih besar, sama halnya ketika childfree akan dipaksakan untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu mengurangi populasi itu sendiri.

Tentunya hal ini belum terjadi, karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kampanye-kampanye atas keputusan childfree, lebih sering karena pengalaman yang relatif, bukan untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan yang objektif. Dan bukan tidak mungkin, jika orientasi atas childfree dapat berganti dari yang sekedar kepentingan psikologis atau batin, kemudian menjadi kepentingan bumi, maka celah orang-orang untuk menolak menjadi lebih kecil secara logika dan metodologis, yaitu dalam konteks perdebatan ilmiah, bukan protes atau demonstrasi.

About The Author