image by "Archipel 13: Etudes intersdiciplinaires sur le monde insulindien", Paris 1977 via khazanah.republika.co.id

Bahwasanya tak ada satu agama lain atau sistem lain yang melebihi penghormatan Islam terhadap kaum perempuan1

Dalam masa pra-Islam, bangsa Arab menjadi contoh paling konkret bagaimana budaya misoginis bersemayam kuat dalam pergaulan hidup masyarakat jahiliyah. Pertanyaan “apakah perempuan itu manusia?” selalu beredar dalam alam pikiran laki-laki yang mengakibatkan perempuan hanya dianggap sebagai benda, lebih jauh lagi, benda yang dikuasai sepenuhnya oleh laki-laki. Ketidakadilan terhadap perempuan tiba sejak detik pertama mereka hidup di bumi.

Dikisahkan dari Abdullah bin Abbas jika seorang ibu hendak melahirkan, para pria segara menggali lubang untuk si ibu menghujamkan bayinya ke muka lubang, jika terlihat bahwa anaknya laki-laki disambutlah dengan penuh sorak sorai kegembiraan tapi jika kemudian yang lahir anak perempuan, segeralah ditimbun bayi itu hingga tangisnya tak terdengar lagi seakan kehadirannya adalah suatu kehinaan yang menjijikkan batin.

Dalam keadaan yang lebih baik, jika si bayi perempuan itu berkesempatan hidup, penderitaan akan merantai jiwa selama hidupnya. Dirinya hanya dianggap sebagai objek kepuasaan dari nafsu laki-laki. Kedudukannya tak jauh beda dari sekadar ghanimah2 yang layak untuk diperampaskan sehabis perang. Seperti yang kita ketahui, telah menjadi tradisi bagi suku Arab mengambil harta benda dari suku yang kalah perang, dan harta rampasan itu termasuk para perempuan, maka itu menjadi common sense kemudian, saat suatu kaum menguasai banyak perempuan di dalamnya itu menandakan tinggi derajatnya dalam masyarakat.

Dan selayaknya harta benda, laki-laki berhak untuk mewariskan perempuannya kepada keturunannya, dibuanghantarkan perempuan itu layaknya benda tak berdaya, maka tercipta lah suatu peradaban yang diasuh roh patriarki dengan mendarah daging. Dan Islam turun menjadi mata air yang melegakan telaga kering kehidupan kaum perempuan.

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (An-Nisa; ayat 1)

Tafsir umum mengenai ayat diatas adalah Allah menciptakan satu diri yaitu Adam dan darinya Allah menciptakan Hawa. Bentuk pemahaman Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebenarnya berasal dari tradisi nasrani, dalam Kitab Perjanjian Lama bab 2 ayat 21-23 diterangkan bahwa adam ditidurkan lalu tuhan mengambil salah satu tulang rusuknya dan daripadanya dibentuklah sosok hawa, lalu adam berkata, “Inilah dia yang cocok bagiku! Tulangnya dari tulangku, dan dagingnya dari dagingku! Aku akan menyebut dia ‘perempuan’, karena dia diambil dariku.”3

Di awal perkembangan agama kristen, ayat sejenis ini mengalami distorsi sehingga menciptakan persepsi untuk menepikan keeksistensian perempuan dan menciptakan stigma perempuan sebagai subgender dari gender yang utama yaitu laki-laki. Adanya perempuan itu karena ada laki-laki. Laki-laki dahulu perempuan kemudian.

Buya Hamka memberikan tafsir yang berbeda, yang dimaksud nafsin wahidatin; diri yang satu, bukanlah tubuh dalam bentuk yang kasar, tapi semacam forma yang darinya esensi laki-laki dan perempuan berasal. “Diri manusia itu pada hakikatnya ialah satu kemudian dibagi dua; satu menjadi bagian yang laki-Iaki dan yang satu lagi menjadi bagian yang perempuan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwasanya meskipun dua coraknya, jantan dengan betina, namun hakikat jenisnya tetap satu, yaitu manusia.”4

Tafsir ini dengan terang mengentaskan ketidaksederajatan antara laki-laki dan perempuan. Kedaulatan perempuan atas dirinya dimulai sejak penciptaannya yang pertama. Dengan alas berpikir seperti ini maka roboh asumsi perempuan sebagai mahluk subordinasi dan inferior, dan eksistensi perempuan tak bisa dihilangkan bahkan ketika dia telah berpasangan dengan laki-laki.

Buya Hamka mengkritik budaya barat yang meleburkan nama perempuan digantikan dengan nama laki-laki ketika sudah menikah, “dan jika dia bertukar suami sampai dua-tiga kali maka dua-tiga kali pulalah berganti ujung namanya.”5 Sedang dikisahkan pada tahun 1968, Buya Hamka dan istrinya hendak pergi haji, seseorang bertanya mengapa nama dalam paspor istrinya tidak ditulis sebagai Siti Raham Hamka atau Nyonya Hamka, Buya Hamka menjawab dengan tegas, “Tidak! dia tidak kehilangan pribadinya karena bersuami saya.”6 Dan sikap ini berakar pada ketauladanan Nabi Muhammad yang sangat menghormati istrinya, tidak hendak Nabi mengganti nama Khadijah binti Khuwailid menjadi Khadijah Muhammad.

Selain itu, kesetaraan perempuan dalam Islam termanifestasikan dalam hak-haknya di kehidupan nyata. Buya Hamka menjelaskan satu hadist yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam satu taklim khusus perempuan, Rasullulah SAW bersabda, “Bersedekahlah wahai wanita-wanita, walaupun dari perhiasan yang kamu pakai“. Lalu Zainab Ast Tsaqfiyah istri dari Abdulah bin Mas’ud bertanya, bolehkah jika bersedekah kepada suami yang sedang dalam keadaan miskin, Rasullulah menjawab “Sedekah itu sah, bahkan mendapatkan dua pahala. Pertama pahala karena kekeluargaan, kedua pahala karena bersedekah” (Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim).

Hadist ini meruntuhkan anggapan perempuan hanya memiliki peran pasif dalam rumah tangga. Kesempatan yang sama dimiliki perempuan untuk andil secara aktif dalam ekonomi rumah tangga, yang artinya segala penyempitan kesempatan perempuan untuk mendapatkan haknya dalam usaha ekonomi harus ditegaskan secara tuntas. “Lebih jelas lagi bahwa dalam beberapa hal, bukan saja laki-laki yang memimpin perempuan, bahkan perempuan memimpin laki-laki; ba’dhuhum auliyaauba ‘dhin.”7 Tegas wajahnya kesetaraan perempuan dalam Islam diucapkan Buya Hamka dengan mengutip surat At-Taubah ayat 71.

Maka bisa dilihat bahwa “pemimpin” itu tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu, tapi pada peranan yang dilakukannya. Jika kepemimpinan hanya terbatas pada laki-laki dan darinya tercipta kekuasaan absolut, maka saat laki-laki dzalim memimpin perempuan ia akan melakukan kesesatan dalam kekuasaannya lalu ia menggunakan dalil-dalil agama untuk menjadi tameng melanggengkan penindasannya, menjelmalah rumah tangga itu menjadi neraka bagi setiap orang yang ada didalamnya.

Nabi Muhammad selalu dalam suasana demokratis dalam rumah tangganya. Buya Hamka mengisahkan, suatu waktu ketika kaum muslimin gagal untuk berumrah karena ditolak kedatangannya ke Mekah oleh kaum Quraisy, terumuskanlah satu perjanjian yang dikenal sebagai perjanjian Hudaibiyah antara Rasullulah dan kaum Quraisy. Para sahabat ketika itu sangat kecewa karena Rasulullah seakan mengalah terhadap kaum kafir Quraisy. Tapi Rasulullah melihat kebijaksanaan lain, akhirnya Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk segera mencukur rambut dan memotong domba dendaan.

Para sahabat enggan untuk menurutinya karena kekecewaan di hatinya masih membelenggu. Rasulullah marah sebab perintahnya tidak didengarkan, tapi istrinya yaitu Ummu Salamah berkata “Janganlah engkau marah, ya Rasulullah! Engkau mulai sajalah sendiri. Segera sekarang juga engkau keluar, engkau gunting rambutmu, engkau sembelih binatang dendaanmu kemudian tanggalkan pakaian ihrammu, dengan tidak usah berbicara lagi.”

Seketika leburlah amarah Rasulullah dan segera menuruti perkataan istrinya. Dengan melihat Rasulullah menjalankan perintahnya terlebih dahulu, para sahabat segera mengikutinya tanpa sedikitpun ada keraguan.

“Maka tercatatlah dalam sejarah Rasulullah betapa penting artinya sikap yang diambiI oleh istri tercinta dalam saat yang menentukan.” 9 Rasulullah menunjukkan kebijaksanaan tinggi seorang pemimpin. Tidak menjadi hina dan rendah derajat seorang laki-laki jika disaat tertentu “dipimpin” seorang perempuan. Dipimpin artinya ada aktivitas subjek lain yang mampu memengaruhi tindakan yang kita lakukan. Rasulullah terpengaruh perkataan istrinya walaupun secara otoritatif dia adalah pemimpin umat dan pemimpin keluarga.

Tidak hendak Nabi Muhammad dalam keadaan marahnya berkata “Saya adalah Rasul Allah dan kamu hanyalah wanita, jangan sekali-kali memerintahkan apa yang harusnya saya lakukan”. Karena pada saatnya pemimpin perlu juga dipimpin. Pertanyaannya, apakah laki-laki saat ini mau meneladani sikap Rasulullah sepenuhnya, yang artinya rela meruntuhkan egonya jika ada kalanya perempuan harus bertindak sebagai pemimpin?

Kini, apa yang menjadi anggapan bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan telah sirna, jika Rasullulah saja berkata bahwa kedudukan perempuan sendiri lebih tinggi daripada bidadari surga, dalam satu hadist Ummu Salmah pernah bertanya, “Manakah yang lebih mulia, Ya Rasul Allah, perempuan di dunia inikah atau anak bidadari di surga?” Rasulullah menjawab “Perempuan dunia lebih mulia dari anak bidadari laksana Iebih mulia pakaian luar daripada pakaian dalam!” (Lihat kitab Hadil Arwah, oleh Ibnu Qayim AI Jauziyah).

Jika bidadari adalah mahluk Allah yang diciptakan dengan segala kesempurnaannya, maka tingginya kemuliaan perempuan lebih dari itu, laksana pakaian luar yang kemegahannya terlihat dari segala juru pandang, laksana pakaian luar yang kuat melindungi badan saat diterpa angin yang menggoyahkan. “Maka kalau sudah sampai ada perempuan yang menanyakan langsung kepada Nabi sendiri mana yang lebih mulia perempuan dunia ini dengan anak bidadari, dan Nabi menjawab dengan tegas bahwa perempuan dunia lebih mulia, apakah lagi yang hendak tuan cari buat membuktikan bahwa perempuan itu mendapat tempat yang istimewa dalam Islam?”.10

Sumber Catatan

1Dalam kata pengantar buku “Kedudukan Perempuan dalam Islam” karya Buya Hamka

2Harta rampasan perang

3 Lihat Kitab Perjanjian Lama bab 2 ayat 23

4 Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 2

5Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 58

6 Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 60

7Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 8

8Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 11-12

9Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 12

10Kedudukan Perempuan dalam Islam hal. 63

About The Author