image by kooness.com

Beberapa tahun terakhir, ada peningkatan minat masyarakat Madura terhadap bidang seni. Peningkatan minat tersebut tidak sebagai penikmat seni saja, tetapi juga minat sebagai pekarya seni. Salah satu yang cukup terasa adalah minat pada seni peran (perfilm-an). Hampir setiap minggu, ada hasil produksi film baru karya anak muda Madura yang bisa ditonton melalui aplikasi youtube. Salah satu kanal youtube yang cukup menarik minat masyarakat adalah kanal youtube Akeloy Production dan Mata Pena. Film pendek hasil produksi kedua kanal youtube ini mampu memperoleh ratusan ribu views (tontonan) hanya dalam beberapa hari.

Pada kanal youtube Akeloy Production, film terakhir yang diunggah dengan judul “Keccak 2” sudah mencapai 368 ribu tontonan selama 8 hari. Film paling populer karya kanal ini adalah film dengan judul “Tunanganku Mautku” yang mencapai satu miliar lebih tontonan selama 11 bulan. Tidak kalah populer, film pendek-film pendek karya Mata Pena juga menarik antusias masyarakat Madura, film pendek dengan judul “Budak Cinta” mencapai 376 ribu tontonan dalam 8 hari. Bahkan, film pendek dengan judul “Mat Tinggal Abiniah” mampu mencapai 174 ribu totonan hanya dalam 16 jam, sedangkan film pendek paling populer di kanal Mata Pena adalah film dengan judul “Siasat Pilkades (2)” yang juga mencapai satu miliar lebih tontonan.

Tingginya jumlah penonton pada kanal tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa utama. Hal ini adalah faktor yang cukup menarik. Minimnya dunia perfilm-an yang berbahasa Madura membuat film-film karya kanal tersebut terdengar lebih unik dan nyentrik. Perbedaan aksen dan kosa kata bahasa Madura dari berbagai wilayah membuat dialog film terdengar asik, bahkan bagi orang Madura sendiri. Kedua, tema yang diangkat tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Film-film yang diproduksi selalu mengandung nilai, norma, dan adat-istiadat orang Madura.

Nilai-nilai tersebut biasanya diutarakan secara tidak langsung melalui dialog antar peran, atau secara langsung pada akhir tayangan. Faktor inilah yang menjadi alasan utama tingginya antusiasme tontonan masyarakat karena, penonton seakan-akan dibuat masuk ke dalam cerita film. Namun, hal inilah yang juga perlu diperhatikan oleh masyarakat, baik dalam produksi film, maupun penikmat film. Ketika penonton seakan masuk ke dalam isi cerita, mereka secara tidak langsung akan mengkonstruksi nilai yang ada pada film ke dalam dirinya. Padahal, film, sebagai sebuah seni, tidak hanya menampilkan pesan-pesan secara tersurat, namun juga menyembunyikan nilai-nilai secara tersirat, disengaja ataupun tidak disengaja.

Salah satu nilai atau ideologi yang kerap ditampilkan dalam film Madura adalah patronase pada relasi gender. Patronase adalah konsep pembagian patron-klien atas perbedaan kekuasaan dan fungsi individu. Patron adalah aktor yang memiliki status, kekuatan, dan kekuasaan tinggi sehingga fungsinya adalah melindungi. Sebaliknya, klien adalah aktor yang memiliki status dan kekuasaan yang rendah sehingga fungsinya dilindungi. Dalam relasi gender budaya Madura, masyarakat sangat mengindentikkan laki-laki sebagai seorang patron, sedangkan perempuan adalah klien.

Realitas inilah yang sering diangkat dalam menggambarkan relasi gender pada produksi film Madura.  Sejauh realitas patronase hanya sebatas “melindungi” dan “dilindungi”, hal ini bukanlah permasalahan yg cukup serius (meskipun ada kecenderungan bias gender). Namun, bagaimana jika relasi patronase semakin berjarak antar peran (patron dan klien) ? Bagaimana jika relasi “melindungi” dan “dilindungi” berubah menjadi “mengekang” dan “dikekang”, atau bahkan “menindas” dan “ditindas” ?.

Patronase relasi gender dalam film menjadi aspek yang kasat mata dan kasat suara. Ia tidak secara langsung dinarasikan bahwa “saya sebagai patron, dan saya klien”, melainkan ditampilkan dalam realitas cerita film secara tersembunyi. Sehingga, penonton bisa menyadari relasi ini hanya melalui rasa (perasaan). Meskipun secara tersembunyi, relasi ini turut serta dalam mengonstruksi nilai kepada para penonton, bahkan cenderung menjadi aspek paling besar yang mempengaruhi penonton. Oleh karena itu, penampilan relasi gender perlu mempertimbangkan dampak sosialnya secara mendalam. Relasi patronase yang berlebihan dalam film akan berdampak pada pemasifan (menjadikan pasif) suatu golongan di masyarakat.

Dalam konteks seni peran pada film Madura, perempuan cenderung menjadi tokoh yang pasif. Hubungan suami-istri misalnya, adegan yang sering ditampilkan adalah suami yang terlihat berwibawa, angkuh, dengan rokok ditangannya, sembari duduk di atas lencak, lalu memanggil istrinya “Lek lek, ngandhelakin kopi dulih lek!”. Adegan selanjutnya, tentu sang istri membawakan kopi bagi suaminya. Bias gender juga ditampilkan dalam fenomena sosial lain. Misalnya adegan bagi anak perempuan selalu ditampilkan dengan beban pekerjaan; mengarit di sawah, berbelanja kebutuhan di warung, nampe beras, menyapu halaman, dan pekerjaan domestik lainnya. Sedangkan, adegan bagi anak laki-laki sering menampilkan tokoh yang tidak memiliki beban; berada di kardu seharian, di warkop semalaman, atau bermain di rumah temannya.

Bias gender ini semakin terasa ketika adegan menampikan seorang Mak Ebun (kepala desa). Jarang, bahkan sepertinya tidak ada, Mak Ebun yang diperankan oleh peremupuan, karena perempuan dianggap tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Nilai-nilai tidak kasat mata inilah yang sedikit mengancam masyarakat Madura ketika mereka menafsirkan relasi gender dalam kehidupan. Perempuan akan dianggap pasif, padahal ia memiliki peran yang sangat masif. Sebaliknya, laki-laki akan menampilkan diri sebagai manusia angkuh, meskipun ia tidak berperan apa-apa dalam kehidupan sosial. Inilah dampak relasi gender film dalam kehidupan sosial.

Dari beberapa permasalahan relasi gender di atas, bukan berarti bahwa film karya anak muda Madura berdampak negatif, sebaliknya hal tersebut merupakan hal yang positif karena mampu mengangkat seni peran (perfilm-an) di Madura. Hanya, pengangkatan realitas sosial, dalam hal ini relasi gender, perlu mempertimbangkan lebih dalam dampak yang akan muncul di masyarakat, karena tontonan setiap individu sangat mempengaruhi aktivitasnya. Oleh karena itu, produksi film sangat diharapkan mampu menampilkan adegan-adegan yang memberdayakan manusia, bukan melumpuhkan peran manusia (perempuan). Begitupun konsumsi film, masyarakat harus mampu memilah dan memilih dengan baik nilai/ajaran yang bisa diambil. Karena seni, sebagai sebuah keindahan, seharusnya menghidupkan manusia, bukan mematikannya.

About The Author