image by ancient.eu
image by ancient.eu

Setelah Schleiermacher dipopulerkan, maka tentu Dilthey yang akan dibahas selanjutnya. Sama seperti Schleiermacher, Dilthey terlahir oleh keluarga yang terpelajar, serta shaleh akan teologi Protestannya. Meskipun Wilhelm Christian Ludwig Dilthey (1833-1911) didorong, bahkan diarahkan dunia akademisnya ke ranah teologisme oleh ayahnya, Dilthey tetap mempunyai pendirian sendiri demi masa depannya, sehingga ia memutuskan untuk kuliah filsafat disamping ia juga kuliah teologi di Universitas Heidelberg.

Anak kelahiran kota Biebrich, Jerman 19 November 1833 itu hidup di suatu masa yang sangat dipengaruhi oleh “positivisme”. Pada masa itu sangatlah berbeda dengan masa Schleiermacher yang sangat bernuasa “Romantisme”, sehingga tidak menutup kemungkinan para pemikir dari suatu masa ke masa terdapat perbedaan, yang tak lain disebabkan suasana aliran, ataupun pengaruh-pengaruh yang dihadapi oleh mereka.

Singkat kata, masyarakat positivisme akan cenderung memandang lingkungan sosialnya secara lahiriah saja, meskipun terbilang objektif. Pandangan yang sempit itu, sampai mengabaikan sisi subjektif tidak hanya terlahir begitu saja, namun konsep positivisme yang telah digagas oleh Auguste Comte juga berkembang biak sangat baik di masa industrialisasi yang membuat masa itu sangat materialisme.

Lahirnya generasi kapitalistis dan condong pragmatis akan adanya industrialisasi saat itu mengancam eksistensi sejarah, kebudayaan, maupun kehidupan mental. Oleh karena itu, Dilthey berkeinginan untuk mengembalikan nilai-nilai yang terancam tersingkirkan itu. Motif semacam itu dianggap sama seperti Romantik yang dikembangkan oleh Schleiermacher. Namun berbeda dengan Dilthey, ia melawan “positivisme” yang digagas oleh Comte sebagai tonggak pemikiran pragmatisme pada masa industrialisasi di Jerman dengan “Lebensphilosophie” atau disebut filsafat kehidupan.

Tidak hanya itu, Dilthey juga ingin memisahkan dua bidang ilmu pengetahuan, yaitu Geisteswissenschaften; Ilmu Kemanusiaan dan Naturwissenschaften; Ilmu Kealaman yang dianggap positivisme pada masanya memberlakukan sama-rata. Oleh karenanya, Dilthey mempetak-petakan keduanya beserta alat untuk menelitinya, yakni ilmu kemanusiaan dengan verstehen dan ilmu alam dengan erklaren.

Lebensphilosophie dan Verstehen

Sebelum jauh membahas kedua tema di atas, perlu diketahui bahwa eksistensi Lebensphilosophie merupakan sebagai kritik terhadap materialisme dan pragmatisme yang hidup di masa industrialisasi. Dilthey ingin mengembalikan sudut pandang semacam itu dengan “filsafat kehidupan”.

Namun, “kehidupan” itu sendiri tidak bisa dipahami secara harfiah saja, atau “positivisme”, miskipun dianggap relevan bagi kaum modernis-industrialis. “Kehidupan” menurut Dilthey tidak hanya diketahui lahirnya saja, melainkan juga bathiniahnya. “Bathiniah” inilah yang tidak dapat dijelaskan, atau dirasionalkan begitu saja. Singkat kata, Lebensphilosophie tidak dapat diketahui dengan “Erklaren” atau penjelasan, melainkan dengan “Verstehen”, yakni pemahaman secara mendalam.

Tema pertama mengenai eksistensi Lebensphilosophie. Dilthey sangat menaruh perhatiannya terhadap masa dan sosial masyarakatnya yang sedang digandrungi oleh namanya materialis, industrialis, pragmatis dan sebagainya. Sehingga ia berantusias untuk mengembangkan pemikiran Friedrich Schlegel yang anti formalisme Kant dan Hegel dengan karyanya Philosophie des Lebens; filsafat kehidupan 1828 menjadi Lebensphilosophie.

Namun konsep Dilthey berbeda dengan pendahulunya. Ia menggagas “filsafat kehidupan” tidak hanya sebagai kritik terhadap lingkungan sosial pada saat itu, tetapi juga sebagai “hermeneutika” yang selalu berkembang sebagai alat untuk memahami sosial-historis, sehingga titik temunya hermeneutika Dilthey dikenal dengan “hermeneutika sosial”, dan selanjutnya akan dibahas secara mendalam, dan terperinci melalui “verstehen” sebagai metodenya.

Tema kedua “verstehen”, atau proses memahami. Perlu diketahui, Dilthey mencurahkan pemikirannya dengan verstehen untuk distingsi, atau memisahkan antara kehidupan dengan benda mati; subjektif dengan objektif; lahiriah dengan batiniah; fisiologi dengan psikologi. Dengan begitu, tidak lagi terjadi justifikasi rasional yang tidak tepat atau penalaran rasional yang tidak sepihak.

Mengapa terjadi demikian, karena kalau dibiarkan “kehidupan” atau “manusia” diberlakukan seperti benda mati, seperti halnya yang telah dilakukan oleh kaum positivisme, maka akan cenderung memaksa interpretasi terhadap subyek yang dituju, sehingga perlu metode untuk mengatasinya, yakni dengan “verstehen”. Mengapa dengan itu, tidak dengan “Erklaren” atau menjelaskan.

Karena epistemologi “Erklaren” itu terpaku pada sisi luar penulis, sedangkan “verstehen” lebih ke sisi dalam atau dunia mental penulis. Dengan begitu, “interpreter” tidak lagi distansi atau berjarak dengan “penulis”. Bahkan ia berpartisipasi di dalam interaksi dan komunikasi sosial dengan hal-hal yang ditelitinya.

Prihanato memberikan contoh mengenai distinsiasi atau jarak antara verstehen dan Erklaren, menurutnya Erklaren “berusaha mencari tahu penyebab medis kematian seseorang”, sementara Verstehen “membicarakan apa dan hekikat kematian itu”. Oleh karena itu, “verstehen” lebih pas sebagai metode pendekatan terhadap sosial-historis masyarakat, atau sosial-historis penulis.

Metode Sosial-Historis Dilthey Melampaui Psikologis Schlemacher

Setelah dibahas secara panjang lebar mengenai hakikat “Lebensphilosophie”, serta metodenya, “verstehen” maka tentu akan kurang rasanya bila berhenti pada konsep “memahami” saja, tanpa lebih jauh “apa saja yang mengikat verstehen sendiri?”. Maka tentu jawabannya adalah berisikan klaim-klaim terhadap konsep Schleiermacher yang hanya terpaku pada “psikologis” saja. Lebih jelasnya, Schleiermacher hanya menayangkan “in sider” tanpa menyertakan “out sider” penulis.

Sebaliknya, Dilthey jauh lebih luas cangkupannya, ia menerapkan suatu yang belum dilakukan oleh Schleiermacher. Titik terangnya, Dilthey menunjukkan tiga serangkaian yang saling berkelindan, atau ada kaitan dan timbal-baliknya, yaitu “penghayatan” sebagai in sider, “ungkapan” sebagai out sider, dan menempatkan konsep “memahami” sebagai jembatan diantara keduanya.

Ketiga kunci di atas secara berurutan dalam bahasa Jermannya adalah “erlebnis”, “ausdruck”, dan “verstehen”. Kinerja ketiganya adalah “erlebnis” sebagai metode “penghayatan” terhadap teks, dan mencari  historitasnya, lalu “ausdruck” atau “ungkapan/ekspresi”, yakni akibat yang terjadi setelah historis ditemukan, dan terakhir “verstehen” atau “memahami” yang akan menjembatani keduanya.

Contoh nyatanya Sabung Ayam di Bali. Jadi kalau tidak menerapkan tiga metode tersebut, maka hal yang terjadi kesalah-pahaman, yakni dianggap Judi, realitanya bukan, melainkan sebagai “Ritual Agama” yang telah membudaya, dan tidak dapat dipaksakan untuk dihapus, karena telah melekat pada jati diri masyarakatnya.

Ulasan Penulis

Dilthey dalam mengembangkan Lebensphilosophie dan historisnya secara bersamaan tidak kecapaian. Sebab, dengan “filsafat kehidupan” memposisikan verstehen sebagai praktek “memahami” dunia teks dengan penulisnya beserta “Historis” teks dan penulisnya.

Dengan begitu, yang jadi pertanyaan “kapan interpreter disinggung?”. Oleh karena itu, sangat rawan sekali bila hanya menyinggung dunia historis teks dengan penulis tanpa memberi distingsi atau jarak dengan interpreter, atau melupakan interpreter. Sebab kalau dibiarkan seperti itu, interpreter akan suka-suka memasuki dunia “Historis Penulis”, sehingga dianggap perlu adanya “dunia interpreter”.

Persoalan semacam ini akan terjawab oleh Heidegger dengan konsep Hermeneutika Ontologisnya yang juga memperkenalkan istilah Dasein. Namun, akan banyak terjawab oleh Gadamer dengan “peleburan horizon-horizon”.

Referensi:

Budi Hardiman, Seni Memahami; Hermeneutik dari Schlemacher sampai Derrida, (Yogyakarta: Kanisus, 2018)

Prihanato, “Hermeneutika Gadamer Sebagai Teknik Analisi Pesan Dakwah”, dalam Jurnal Komunikasi Islam, (Volume 04, No. 01, Juni 2014)

I Ketut Wisarja, “Hermeneutika Sebagai Metode Ilmu Kemanusiaan; Perspektif Hermeneutika Wilhelm Dilthey” dalam Jurnal Filsafat, (Volume 32, No. 3, Desember 2003)

About The Author