image by rec.or.id

Tuhan sebagai wujud transenden sangat berbeda dengan ciptaan-Nya, apalagi ini memaksakan ikut pada ciptaannya, yaitu ‘Tuhan bersemayam dalam diri manusia’. Digambarkan oleh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi bahwa tidak ada siapa pun yang menyamai Tuhan secara mutlak.[i] Namun, akhir-akhir ini berkembang aliran filsafat yaitu perenialisme yang menandai kebangkitan metafisika di barat. Menurut Huxley, perenial merupakan metafisika yang mengenali adanya kemiripan realitas Ilahi dalam diri manusia.[ii] Bagi teologi, khususnya aliran asy’ariyah, Tuhan tentu berbeda dengan manusia, kebaikan selalu menyertai kehendak-Nya sementara kehendak manusia bisa saja jatuh pada keburukan. Karena itu menarik untuk melihat permasalahan mengenai ketuhanan dalam wacana saat ini.

Konsep Tuhan Terus Berlanjut

Mulai masyarakat primitif, teolog, filosof, sufi hingga saintis masih memperdebatkan konsep ketuhanan. Masyarakat primitif meyakini nilai luhur adanya sesuatu yang kuasa demi menjaga keharmonisan hubungannya dengan alam. Sementara teolog meyakini Tuhan berbeda dengan makhluknya sedangkan filsuf menyebutkan adanya kesamaan Tuhan dengan manusia apalagi para sufi yang menjelaskan penyatuannya dengan Tuhan dan para saintis yang berkembang di barat malah menafikan adanya Tuhan.

Perenialisme yang berupaya mengembalikan manusia sebagai makhluk Tuhan mengharuskan adanya titik sama Tuhan dengan manusia yang ditujukan kepada peradaban saat ini, terutama di barat. Karena barat sebagian besar menafikan ontologi metafisik ketuhanan sebab dianggap subyektif belaka, tak terindera, dan tak bisa dibuktikan secara ilmiah, maka penjelasan konsep Tuhan mestinya dilakukan secara filosofis, yaitu dengan melihat adanya kesamaan Tuhan dengan manusia. Dalam hal ini Tuhan bersemayam dalam diri manusia.

Tuhan: Berbeda sekaligus Sama

Aliran teologi Asy’ariyah menjelaskan Tuhan tidak bertubuh, karena tubuh hanya dimiliki oleh manusia, sementara salah satu sifat-Nya ialah berbeda dengan makhluk-Nya. Lantas apa yang dimaksud bersemayamnya Tuhan dalam diri manusia? Ibn Arabi membagi konsep Tuhan menjadi dua: Tanzih dan Tasybih. Tanzih menekankan pada keberbedaan dengan manusia, sementara Tasybih berorientasi pada kesamaan dengan manusia. Konsep Tanzih menempatkan Tuhan bukan sesuatu sehingga tidak bisa kenali, sebagaimana ayat ‘Dia bukanlah seperti apa pun’[iii]. ‘Bukan sesuatu’ didasarkan adanya perbedaan mutlak dalam zat antara Tuhan dengan manusia. Namun, dalam hal sifat inilah adanya keserupaan Tuhan dengan manusia.

Disini, Tuhan menjadi sebuah sesuatu, karena tidak mungkin seseorang mengetahui kalau objek tersebut belum menjadi sesuatu.[iv] Bukan berarti Tuhan berubah dari yang bukan sesuatu menjadi sesuatu, itu artinya dari tidak ada menjadi ada. Tapi, objek pengetahuan manusia hanya bisa sampai pada sifat Tuhan, bukan pada zat-Nya. Artinya, jangan pikirkan zat-Nya karena tidak akan mampu sehingga tidak ada yang bisa mengetahuinya, tapi pikirkanlah ciptaannya yang didasarkan pada sifat-Nya sehingga bergantung kepada-Nya.

Sifat Tuhan Bersemayam dalam Tubuh Manusia

Manusia menginginkan kebenaran yang nyata, di luar itu hanya dianggap khayalan. Ada kebenaran yang lebih nyata yaitu bersemayamnya seluruh sifat Tuhan dalam diri manusia. Inilah yang membedakan dengan malaikat, Seluruh sifat Tuhan dimanifestasikan kepada makhluknya, hanya saja perbedaannya makhluk selain manusia seperti malaikat, jin, hewan dan tumbuhan memiliki sifat Allah secara parsial. Sementara manusia termanifestasikan seluruh sifat-Nya karena itu dalam perspektif hikmah (kebijaksanaan) manusia disebut alam kecil atau mikrokosmos karena mengandung seluruh sifat alam semesta yang juga bagian dari sifat Allah.

Manusia sebagai manifestasi Tuhan mempunyai sifat maskulin dan sifat feminin bagi Sachiko Murata. Sifat maskulin atau sifat “Jalal” berkaitan dengan keagungan dan kebesaran Allah, sementara sifat feminin atau sifat “jamal” berkaitan dengan keindahan Allah. Manusia telah diajari oleh Tuhan mengenai nama-nama-Nya dan berlaku sebagai tempat manifestasi bagi seluruh nama-Nya. Sebab itu, Ibn Arabi menegaskan bahwa manusia merupakan ‘citra Allah’ yang juga sejalan dengan doktrin Kristen yaitu manusia sebagai gambar Tuhan. Dalam filsafat manusia, setelah manusia diberi seluruh nama-Nya, tinggal sekarang ia mesti mengaktualisasikan secara proporsional. Manusia bisa berlaku kasih dan sayang, lembut, tegas, marah, dan nama lainnya sesuai porsinya. Maksudnya, ada kalanya manusia bersikap kasih sayang, juga ada saatnya manusia bersikap marah bahkan merasa besar.

Paradoksnya ialah manusia bisa saja berbuat salah, apakah kesalahannya berkenaan dengan sifat Tuhan juga? Perlu diketahui sifat Tuhan yang bersemayam dalam diri manusia bersifat potensial, artinya segala perilakunya terutama yang buruk belum tentu menandakan sifat Tuhan karena Tuhan selain memberi seluruh sifat-Nya juga membekali manusia dengan daya-daya berupa daya nabati, hewani maupun manusiawi. Semua itu diserahkan pada manusia, jika dalam dirinya didominasi oleh daya hewani maka tak bedanya dengan hewan, begitu pun dengan daya lainnya.

Adanya keseluruhan sifat Tuhan dalam dirinya, membuat manusia disebut teomorfis. Manusia mengemban amanah besar oleh Tuhan untuk memelihara alam semesta dan berakhlak dengan akhlak Tuhan, itu semua tidak akan tercapai jika manusia masih tergolong manusia promothean, meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr. Artinya, hanya manusia teomorfis lah atau pointifikal, yang tidak pernah memberontak atas kehendak dan kuasa-Nya inilah yang mampu mengemban amanah tersebut. “Berakhlak dengan akhlah Allah” inilah misi manusia teomorfis, manusia cerminan Tuhan.

[i] Muhammad bin Yusuf as-Sanusi, terjemahan Ahmad Muntaha AM, (Kediri: Santri Salaf Press, 2015), hal. 59.

[ii] Lih. Perennialisme: Melacak Jejak Filsafat Abadi, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996), hal. 71.

[iii] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2002), hal. 39.

[iv] Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan, (Bandung: Mizan, 2017), hal. 6.