image by HuffPost

Dilihat perspektif kesejarahan, agama dan sains mulanya bersahabat, ini pada abad 17 dimana keduanya pertama kali bertemu. Abad 18, sains mulai cenderung deisme, Tuhan masih di akui tapi tidak dalam mengatur alam semesta. Mulai abad 19 dan 20 hubungannya tidak lagi harmonis, sains mengabaikan agama begitupun sebaliknya, bahkan tak jarang saling berkonflik. Banyak faktor yang menyebabkan sains berkonflik dengan agama, salah satunya perkembangan sains yang dibarengi revolusi industri yang cenderung materialistis dan mendominasinya rasionalisme dan empirisme yang tidak mengakui status metafisik sebagai prinsip dari agama.

Tokoh-tokoh seperti Charles Darwin, Richard Dawkins, Laplace, Sigmund Freud dan lain sebagainya cenderung tidak melibatkan Tuhan dalam menjelaskan alam semesta dan cenderung mengolok agama. Namun, apakah selamanya agama dengan sains berkonflik? Bagi Fethullah Gullen, cendikiawan muslim asal Turki menyebut bahwa sains yang sekuler pun, tanpa melibatkan peran agama dalam penjelasan atas alam dapat berhubungan harmonis asalkan sains mengakui kekurangannya yaitu tidak mampu menjelaskan fenomena eskatologis.

Sains yang selalu ingin berkonflik dengan agama biasanya sudah menjadi isme yaitu saintisme yang memutlakkan pengetahuan alam semesta terbatas apa yang ditangkap oleh indra dan diproses oleh nalar melalui prinsip matematis. Sama halnya dengan agama, agama yang menutup diri dari sains sudah menjadi fideisme atau imanisme. Untuk dapat kembali berhubungan harmonis, singkirkan dulu isme-isme, agama dan sains tidak harus memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran, tapi harus membuka diri dengan mengakui adanya sumber kebenaran lain. Ian G. Barbour dalam karyanya “Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama” membagi hubungan agama dan sains menjadi empat: konflik, independensi, dialog dan integrasi.[1]

Jika perbedaan yang selalu dilihat maka agama dan sains terus berkonflik. Adanya perbedaan tidak semestinya membuat konflik melainkan harus menyadari adanya keragaman pengetahuan yang sama-sama bekerja pada wilayah yang berbeda. Setiap perbedaan, mesti ada kesamaan. Kesamaan agama dengan sains ialah sama-sama memvalidasi status ontologis fisik dan sama-sama mengandalkan epistemik seperti pengamatan dan penalaran. Adanya kesamaan membuat hubungan keduanya menjadi dialogis. Untuk sampai pada hubungan integrasi, Barbour menawarkan ada dua varian: teologi teologi natural dimana argumentasi teologis didukung berdasarkan pada observasi fenomena-fenomena alam[2] dan teologi alam yakni pandangan teologis harus dirumuskan sesuai dengan penemuan mutakhir mengenai alam semesta.[3]

Jadi, agama dan sains tidak selamanya berkonflik. Keduanya yang kini berjarak dapat kembali harmonis bahkan integratif asal tidak menjadi isme yang memutlakkan kebenaran hanya ada pada dirinya dan menghindari sikap egosentrisme dan logosentrisme. Perbedaan keduanya harus disaling padukan agar mendapat penjelasan yang utuh dan universal. Sekarang, bagaimana caranya memadukan agama dengan sains? Berikut penjelasannya.

Integrasi Ilmu: Memadukan Ilmu Agama dan Ilmu Umum (Sains)

Wacana hubungan agama dengan sains kian hangat, darinya menimbulkan ide integrasi ilmu sebab adanya dikotomi atau pemisahan antara ilmu-ilmu umum dengan ilmu-ilmu agama yang dinilai oleh Mulyadhi Kartanegara menuai masalah, hal ini disampaikan didalam bukunya ‘Integrasi Ilmu; Sebuah Rekonstruksi Holistik’. Ia menuturkan bahwa dikotomi pengetahuan menjadi masalah karena telah terjadi pengingkaran terhadap validitas dan status ilmiah yang satu atas yang lain dimana pihak tradisional menganggap ilmu umum dihukumi bid’ah dan haram karena berasal dari orang-orang kafir dan sebaliknya orang-orang yang mendukung ilmu umum akan menganggap ilmu agama hanya sebuah mitos yang tidak akan mencapai tingkat ilmiah.[4]

Masalah berikutnya ialah terjadi kesenjangan atas sumber ilmu baik ilmu agama maupun ilmu umum, objek-objek ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum. Bahkan sampai kepada klasifikasi ilmu itu sendiri, misalnya di barat yang menekankan ilmu-ilmu umum seperti fisika yang kemudian menggeserkan ilmu agama seperti metafisika. Masalah selanjutnya pada bagian metode ilmu yang digunakan, jika memakai contoh yang tadi kalau barat mengakui ilmu-ilmu fisika sehingga metodenya pun harus berhubungan dengan indra seperti pengamatan yang kemudian meminggirkan metode rasional yang dipandang sebagai apriori apalagi metode intuitif yang dipandang subjektif. Problem terakhir kiranya ialah adanya kesulitan mengintegrasikan pengalaman manusia. Pengalaman mistik tidak akan dianggap sah apalagi ilmiah seperti di barat, sehingga banyak yang tidak meyakini atau mengakui pengalaman mistik.

Atas pelbagai masalah tersebut, perlu dikembangkan wacana integrasi ilmu. Mengutip pada buku ‘Islam dan Ilmu Pengetahuan’ karya Abuddin Nata, bahwa integrasi ilmu ialah sebuah upaya menyinergikan, mendialogkan, mengomunikasikan dan mempertemukan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya untuk kepentingan kehidupan manusia bukan malah demi kepentingan ilmu itu sendiri.[5]

Bangunan pengetahuan seperti aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis pun mesti diintegrasikan. Agar lebih mudah dilakukan, perlu kerja sama antar lembaga atau organisasi yang mempunyai visi dan misi semangat integrasi ilmu dan diperlukan juga figur-figur keilmuan yang utuh, dalam arti mampu memadukan pengetahuan agama maupun pengetahuan alam.[6]

Mulyadhi Kartanegara lebih khusus lagi merangkai upaya integrasi ilmu, mulai dari tauhid sebagai prinsip utama integrasi ilmu, kemudian menemukan basis integrasi ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum yakni kitab suci dan alam sama-sama ayat Allah, setelah itu baru lah dilakukan integrasi pada; objek-objek ilmu, bidang-bidang ilmu, sumber ilmu, pengalaman manusia, metode ilmu, penjelasan ilmiah, ilmu teoretis dan praktis. Tentu masih banyak tokoh lain yang mempunyai model integrasi yang sudah baku dan tetap, misalnya Armahedi Mahzar, pria kelahiran Genteng, Jawa Timur pada tahun 1943. Ia pernah belajar Geofisika di University of Arizona, Tucson, Amerika Serikat pada 1974-1975 dan menamatkan program S2 fisika pascasarjana ITB pada tahun 1984. Ia juga menulis pelbagai buku seperti Integralisme: Sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Islam Masa Depan dan Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islam (Revolusi Integralisme Islam).[7]

Dalam bukunya, menurutnya integralisme sebagai wawasan universal dalam memandang sains, teknologi, seni, budaya maupun agama. Integralisme melihat semua itu sebagai satu kesatu-paduan yang tidak bisa dipecah dan dipisahkan. Kesepaduan itu menyatupadukan Tuhan sebagai realitas mutlak transendental dengan makhluk sebagai realitas jamak nisbi yang merupakan bentuk perwujudan dari Tuhan itu sendiri.[8]

Baginya, sains sebagai bagian dari ilmu yang termuat dalam kitab suci Al-Qur’an sebanyak 750 kali menandakan jika Al-Qur’an sangat memuliakan sikap mencari ilmu pengetahuan, sesuai dengan Nabi Muhammad katakana bahwa tuntulah ilmu walaupun sampai ke negeri cina dan carilah ilmu dari buaian bayi hingga liang lahat. Dorongan yang berasal dari Al-Qur’an ataupun perkataan Nabi membuat para ulama zaman klasik giat mencari ilmu kemana saja dan ilmu apa saja asalkan ilmu tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Jadi, secara internal antara sains dengan agama tidak ada permasalahan yang serius.[9]

Namun konflik agama dengan sains tidak bisa dinafikan terutama di barat. Ulil Abshar Abdalla menyebut hanya di barat hubungan agama dan sains menuai konflik dan itu memang ciri khasnya.[10] Menanggapi masalah tersebut, Armahedi Mahzar setidaknya membuat tiga model integrasi ilmu yaitu model monadik, diadik, dan triadik. Dalam model monodik, sains dan agama masih memegang kebenarannya sendiri, sehingga tidak mungkin terjadi koeksistensi antara sains dan menegasikan kebenaran yang lain.[11]

Mengingat masih ada kekurangan pada model pertama, maka beralih pada model kedua, yakni diadik. Model yang kedua ini memiliki tiga varian, pertama, sains dan agama merupakan dua kebenaran yang setara, varian tersebut senada dengan perkataan Albert Enstein ‘Tanpa sains agama menjadi buta, dan tanpa agama sains menjadi lumpuh’, kedua, sains dan agama merupakan kesatuan yang tak terpisahkan sebagaimana apa yang dikatakan oleh Fritjof Capra bahwa sains tidak membutuhkan mistisisme dan mistisisme tidak membutuhkan sains, namun manusia membutuhkan keduanya.[12] Dan yang ketiga, sains dan agama diilustrasikan sebagai dua buah lingkaran yang saling berpotongan, gambaran tersebut menandakan adanya sisi kesamaan yang bisa di dialogkan.[13]

Model terakhir ini merupakan pengembangan dari model sebelumnya, model triadik namanya. Didalamnya terdapat tiga variabel, yaitu sains, filsafat dan agama. Filsafat berada ditengah antara sains dan agama untuk menjadi jembatan atau penghubung keduanya. Bukan hanya filsafat, ilmu humaniora pun turut dapat menjembatani sains dan agama.[14]

Sumber Referensi

[1] Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Terj. Fransiskus Borgias, (Bandung: Mizan, 2002), h. 31.

[2] Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla, Sains “Religius” Agama “Saintifik”, (Bandung: Mizan, 2020), h. 146.

[3] Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Terj. Fransiskus Borgias M, (Bandung: Mizan, 2005), h. 32.

[4] Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu; Sebuah Rekonstruksi Holistik, (Bandung: Arasy, 2005), h. 20.

[5] Abuddin Nata, Islam & Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), h. 287.

[6] Bustanuddin Agus, Integrasi Sains dan Agama, (Jakarta: UI-Press, 2013), h. 312.

[7] Dhiauddin, Islam, Sains dan Teknologi, (Batu: Literasi Nusantara, 2019), h.15-16.

[8] Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam: Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, (Bandung: Mizan, 2004), h. 269.

[9]Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam: Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, h. 210.

[10] Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla, Sains “Religius” Agama “Saintifik”, (Bandung: Mizan, 2020), h. 149.

[11] Lutfhi Hadi Aminuddin, Integrasi Ilmu dan Agama: Studi atas Paradigma Integratif-Interkonektif UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta, Jurnal Kodifikasia, No. 1 Vol. 4, (2010), h. 188.

[12] Zainal Abidin Bagir, Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, (Bandung: Mizan, 2005), h. 95-96.

[13] Zainal Abidin Bagir, Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, h. 97.

[14] Zainal Abidin Bagir, Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi, h. 98.