Prinsip eksistensialisme secara umum bahwa manusia tidak hanya Ada, ia memahami bahwa ia Ada dan menyadari bahwa keberadaannya suatu saat akan berakhir dengan kematian. Eksistensialisme pada dasarnya adalah sebagai protes terhadap pandangan bahwa manusia adalah “benda” serta tuntutan agar eksistensi personal seseorang harus benar-benar diperhatikan secara serius”. Prinsip lain adalah bahwa “eksistensi lebih dulu daripada esensi”. Artinya, manusia akan memiliki esensi jika sudah eksis sebelumnya, dan esensi akan muncul ketika manusia mati nantinya.

Jean-Paul Sartre (1905-1980), lahir 21 Juni 1905. Adalah seorang filsuf eksistensialis yang lahir dan dibesarkan di Paris. Ia digadang-gadang sebagai filsuf ateis, mengingat beberapa pandangannya tentang secara teologis menjadi perhatian banyak orang. Selesai menamatkan kuliah dan meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat. Sartre lebih termasyhur melalui karya-karya novel, drama, dan cerpennya yang banyak dinikmati sampai saat ini. Pernah mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra, tapi Sartre menolaknya dengan alasan ia tidak mau menerima berbagai bentuk penghargaan yang diberikan oleh organisasi apapun (cenderung ideologis). Sartre merupakan salah satu pendukung gerakan-gerakan kiri dan pembela kebebasan manusia.

Secara keseluruhan, pemikiran Sartre cukup padat, sulit dan membutuhkan beberapa penjelasan dan pembecaan secara berulang-ulang untuk mengartikannya secara benar. Memiliki pasangan yang juga seorang filsuf, Simone de Beauvoir. Sartre mulai tertarik pada ilmu filsafat setelah membaca esai dari Henri Bergson yang berjudul “Time and Free-Will“. Ia pernah ditahan dan selama penahanan ia habiskan sambil membaca karya Martin Heidegger “Being and Time” yang juga kemudian mempengaruhinya di bidang eksistensialisme. Pemikirannya juga dipengaruhi oleh ide-ide dari Freud, Marx, dan para pengikutnya. Kebabasan, tanggung jawab, kesedihan yang mendalam dan absurditas adalah tema-tema Sartre yang muncul secara tersirat dalam karya-karyanya. Sartre menghembuskan nafas terakhir pada 15 April 1980.

Bagi Sartre, eksistensialisme bukan sekedar aliran filsafat (seperti awal perkembangannya di Prancis), namun lebih dari itu. Menurutnya, eksistensialisme sudah menjadi doktrin dalam kehidupan manusia, doktrin yang mengajarkan bahwa kebenaran dan setiap tindakan melibatkan lingkungan dan subjektivitas manusia. Sartre mengakui bahwa ada objek-objek dalam realitas yang berada diluar sana sehingga ada kebebasan bagi manusia. Ia juga mengakui bahwa objek-objek tersebut masuk ke dalam dunia hanya karena manusia. Manusia menurut Sartre tidak boleh bersandar pada segala sesuatu yang ada di luar dirinya, sebaliknya, manusia harus mengandalkan kekuatan dan sumber-sumber dirinya sendiri. Manusia memiliki kemerdekaan membentuk dirinya dengan kemauan dan tindakannya serta bertanggungjawab sepenuhnya atas pilihan-pilihannya itu.

Manusia menurut Sartre berbeda dengan makhluk lain karena kebebasannya. Pola perilaku kita hanya dapat dijelaskan jika kita secara bebas memilih untuk mencapai tujuan. Manusia menciptakan dirinya sendiri/hakikat keberadaannya sendiri. Manusia dihukum untuk mengAda secara bebas. Menurut Sartre, manusia ketika Ada pertama kali adalah sebagai benda, tetapi kemudian berubah menjadi manusia sejati ketika ia secara bebas memilih moralitas yang diinginkannya (menciptakan dirinya sendiri). Oleh karena itu, setiap manusia menjadi juri moralitas tertinggi, setiap orang adalah penemu nilai. Setiap orang sepenuhnya milik dirinya sendiri, maka ia harus memilih sendiri dan memutuskan untuk dirinya sendiri. Orang lain bisa menasihatinya, mereka boleh menunjukkan cara/sesuatu hal, tetapi tidak satupun dari mereka yang bisa menunjukkan kekuasaannya.

Karena manusia harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya, Sartre tidak menolak bahwa kemudian terdapat rasa takut atas keputusasaan (kecewa/menyesal) atas apa yang dipilih manusia, ada banyak kemungkinan yang tidak bisa manusia kontrol, banyak kemungkinan yang terjadi yang tidak dapat diramalkan sehingga ia tidak dapat memastikan/mengetahui hasilnya. Oleh karena itu, Sartre mengingatkan bahwa kita harus berbuat tanpa berharap. Sartre melihat manusia sejati berarti berusaha untuk menjadi Tuhan, karena manusia pada dasarnya adalah unsur yang memiliki keinginan untuk menjadi Tuhan.

Kesadaran akan kebebasan menurut Sartre juga merupakan sebuah “penderitaan”, karena harus ada pertanggung jawaban yang mengerikan yang mengikuti di belakang kebebasan ini. Jika tindakan2 manusia selalu dibawah kendali dirinya kemudian mereka tidak menemukan kesalahan atau kegagalan, berarti kata Sartre mereka belum berbuat apa-apa. Karena manusia dihukum untuk menjadi bebas, maka ia membawa beban seluruh dunia di atas pundaknya, ia bertanggung jawab untuk dunia dan untuk dirinya sendiri sebagai jalan ke “Ada”. Pertanggungjawaban yang absolut ini bukan sikap “menyerah” tetapi persyaratan yang logis dari akibat kebebasan. Suatu keinginan adalah sia-sia seperti halnya keseluruhan eksistensi manusia. Setiap aktivitas manusia pasti menuju kegagalan. Inilah yang disebut oleh Sartre sebagai penderitaan eksistensi.

Segala sesuatu, secara menakutkan, adalah mungkin, karena tidak ada satupun hal yang memiliki tujuan pasti yang ditakdirkan. Manusia hanya terus menerus menciptakan keadaan seiring dengan berjalannya hidup, dan bebas untuk melepas kungkungannya kapanpun. Maka hal terbaik yang bisa kita lakukan, menurut Sartre, adalah dengan hidup secara autentik. Manusia pada akhirnya menyadari bahwa kehidupannya adalah hasrat yang sia-sia. Hal ini terjadi karena “segala sesuatu yang Ada lahir tanpa akal, mengeluarkan dirinya keluar dari kelemahan dan mati karena pilihan”. Dalam kehidupan ini, sadar atau tidak sadar, kita senantiasa mencoba untuk lari dari penderitaan, untuk menolak kebebasan kita dan pertanggungjawaban yang mengikutinya melalui berbagai macam strategi.

Gagasan Sartre dalam karyanya “Existentialism and Humanism” tahun 1948 mengatakan bahwa manusia modern harus menghadapi fakta bahwa Tuhan tidak Ada. Menurutnya, karena Tuhan tidak ada, maka tidak ada hukum mengenai moralitas, tidak ada norma-norma yang objektif. Mengapa tidak ada kebaikan atau nilai yang objektif? Sartre menjawab keresahan ini dengan tenang, “karena tidak ada kesadaran yang sempurna dan tak terbatas untuk memikirkannya”. Tuhan bukan akhir dari usaha filosofis. Dalam filsafatnya, Filsafat Sartre merupakan suatu upaya untuk menarik kesimpulan penuh dari sikap ateis yang konsisten. Oleh karena itu, banyak persoalan-persoalan filsafatnya yang dijawab dengan akal, “karena Tuhan sudah tidak Ada”. Mengapa manusia harus bebas? Menurut Sartre ketika kita berbicara kebebasan, yang kita maksudkan adalah bahwa Tuhan tidak Ada sehingga penting sekali menarik konsekuensi-konsekuensi dari ketiadaan Tuhan itu sampai ke ujungnya.

Dunia dan benda-benda tidak tercipta, mereka hanya sekedar Ada (memunculkan dirinya sendiri), tanpa alasan untuk hidup. Benda-benda hanya sekedar Ada, manusialah yang membuatnya bisa dipikirkan, manusialah yang menentukan sebab Adanya benda itu, dan manusia juga yang memasukkan hukum-hukum kedalamnya. Dalam pemikiran Sartre, manusia lebih banyak menjadi seorang pencipta. Karena dunia tidak mempunyai alasan untuk Ada, Sartre menyebutnya absurd. Sesuatu yang absurd ini membuat manusia menjadi muak karena kurangnya makna dalam keberadaan dunia dan benda.

Konsep Being and Nothingness merupakan pemikiran metafisik Sartre tentang Ada-nya manusia dengan lawannya, ketiadaan. Istilah “Ada” mengacu pada sesuatu yang dapat berAda (atau lebih jelasnya tentang sesuatu yang Ada). Meja, kursi, lautan, pepohonan,batu, planet, semua itu adalah sebuah substansi yang Ada pada dirinya sendiri atau istilah Sartre “being in itself”. Benda-benda tersebut diluar kesadaran kita dan tidak tergantung pada Tuhan dan semacamnya. Pada intinya, hal tersebut hanya hal itu sendiri. Manusia juga pada dasarnya Ada untuk dirinya “being for itself”. Manusia memang menyadari lingkungan sekitarnya, namun kata Sartre lebih penting harus lebih mendasar lagi, bahwa mereka harus sadar akan dirinya sendiri. Manusia memiliki tujuan yang ingin dicapai, seseorang yang saat ini menjadi mahasiswa ingin menjadi guru di masa depan. Hal ini berbeda dengan pohon pisang, ia tidak bisa memiliki keinginan atau tujuan untuk menjadi pohon pepaya. Inilah perbedaan kita (manusia) dengan objek material lainnya. Dunia juga memiliki “nothingness”.

Konsep “berAda” atau “Ada” dalam pemikiran Sartre mencakup berada pada dirinya “being in itself” dan berada untuk dirinya “being for itself”. Maksud “berada   pada   dirinya” adalah semacam berada an sich.  Ada banyak yang berada seperti pohon, binatang, manusia, benda-benda, dan sebagainya. Semua itu “berada pada dirinya” secara berbeda-beda dalam berbagai wujud.  Semua benda Ada dalam dirinya-sendiri, tidak ada alasan mengapa benda-benda berada. Segala yang “berada dalam diri” ini tidak aktif, akan tetapi juga tidak pasif, tidak meng-ia-kan dan tidak menyangkal. Yang “berada dalam diri” ini mentaati prinsip identitas dan mengalami perubahan-perubahan yang kaku.  Menurut Sartre, segala yang “berada dalam dirinya” memuakkan, karena ada begitu saja, tanpa kesadaran, tanpa makna. Sedangkan maksud “berada untuk dirinya” yaitu berada dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Maksud “berada untuk dirinya” tidak mentaati prinsip identitas seperti halnya yang “berada pada dirinya”. Manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya. Ia bertanggung jawab atas fakta, berbeda dengan benda-benda.  Sebab, benda hanyalah benda, tetapi tidak demikian dengan manusia, karena manusia memiliki kesadaran, yaitu kesadaran pra-reflektif dan reflektif. Berada untuk dirinya (being for itself) yaitu kehadiran manusia dirinya sendiri sebagai “Ada” yang menyebabkan ketiadaan muncul di bumi ini. Dan ketiadaan yang muncul di dunia, menyebabkan manusia memeluk kebebasannya, suatu kebebasan yang membuat kecemasan.

Ide dasar dari konsep being and nothingness adalah bahwa masing-masing orang mempunyai kesempatan yang luas untuk membuat atau mengidentifikasikan dirinya menjadi semacam apa pun juga, entah menjadi seorang intelektual, seorang yang jenius, ataupun menjadi seorang pecundang sekalipun. Sartre mengatakan bahwa anda bukanlah diri anda. Artinya, meskipun kita mungkin berhasil mendefinisikan diri anda, segala perilaku Anda tidaklah ditentukan oleh semua fakta ini, anda masih tetap dapat menolak kecenderungan yang mungkin sudah mengakar dalam usaha anda dan berperilaku secara baru dengan menggunakan cara-cara yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Pemikiran Sartre tentang eksistensialisme sekaligus menolak pandangan psikoanalisis Sigmund Freud. Pemikiran Sartre tidak bertujuan untuk membuka aspek ketidaksadaran dari pemikiran manusia, tetapi hendak membuat sesuatu menjadi lebih jelas dan terbuka dari sesuatu yang sebelumnya kita sadari sebagai sesuatu yang suram dan tidak jelas. Intinya, Sartre mengatakan bahwa ketidaksadaran adalah sesuatu yang tidak ada, absurd.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UNAIR Surabaya, pegiat Psikologi Sains dan Penggagas Forum Kajian Simposium

Sumber:

Martin, V. (2003). Existentialism: Soren Kierkegaard, Jean-Paul Sartre, Albert Camus (Penj, Taufiqurrahman). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Garvey, J. (2010). The Twenty Greatest Philosophy Books (Penj, CB. Mulyatno). Yogyakarta, Kanisius

Tulisan juga bersumber dari integrasi berbagai jurnal dan website

About The Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here