image by Evening Standard/Hulton Archive/Getty Images

Apa yang mungkin dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup? Kebanyakan orang tentu saja akan menjawab makan, minum dan tidur. Beberapa yang lain mungkin akan menambahkan gadget. Dan sementara yang lain mungkin juga akan memasukkan beberapa teman kedalam listnya. Semua jawaban itu tentu saja benar, manusia jelas membutuhkan makan, minum, tidur, dan barangkali juga gadget dan beberapa teman hidup. Namun apakah itu saja cukup? Menurut Viktor E. Frankl, seorang Psikolog terkemuka dari abad ke-20, apa yang tidak kalah penting dari itu semua adalah makna hidup. Ya, manusia membutuhkan makna hidup agar dapat mempertahankan hidupnya.

Asumsi ini bukanlah asumsi liar yang tak berdasar apa lagi mengada-ada. Asumsi ini telah melalui serangkaian refleksi dan penelitian ilmiah yang mendalam oleh Frankl sendiri, lalu kemudian diperkuat dengan pengalamannya selama menjadi tawanan di Kamp konsentrasi Auswitch. Dalam magnum opus nya yang berjudul “Man’s Search for Meaning” Ia mencoba mengelaborasi bagaimana manusia kemudian tidak mungkin dapat terpisah dari sesuatu yang Ia sebut sebagai makna hidup.

Di dalam buku itu ia menceritakan pengalaman kejiwaannya selama berada di Kamp. Ia memulainya dengan menjelaskan bahwa di Kamp Ia dan tawanan lainnya diperlakukan secara sangat tidak manusiawi. Beberapa perlakuan mengerikan yang diberikan pada para tawanan misalnya adalah hanya diberikan 0.15 ons roti sehari dan satu mangkuk bubur encer, sedangkan mereka dituntut untuk bekerja dalam dua belas jam sehari, mereka diwajibkan untuk tetap bekerja meski suhu diluar ruangan -17° Celcius, mereka juga dipukuli dan disiksa hanya karena kesalahan kecil dan seringkali tanpa alasan yang jelas, mereka hanya diberi waktu libur kerja saat mereka sakit, itupun jatah makan mereka akan dikurangi dan tak hanya itu perlakuan dari sesama tawanan yang sama-sama ingin mempertahankan hidup pun ikut memperparah kengerian di Kamp.

Dalam kondisi seperti ini, dimana penderitaan dan penyiksaan adalah sarapan rutin setiap tawanan, tentu saja frustasi, depresi dan kematian adalah hal yang bisa dengan mudah ditemukan. Lalu apakah apakah Frankl sendiri tidak mengalami hal yang serupa, Ia mengatakan bahwa, Ia pun hampir mengalami hal yang serupa namun, ia selalu mengingat tentang makna hidupnya, ia memikirkan tentang hal-hal besar yang bisa ia lakukan setelah keluar dari Kamp, bertemu dengan anak istrinya dan hal-hal baik lainnya. Pikiran-pikiran semacam inilah yang membuat Frankl mampu bertahan di tengah kengerian Kamp.

Dari fenomena semacam itu kemudian frank mengambil sebuah kesimpulan bahwa tawanan yang mengetahui makna dalam hidupnya memiliki kesempatan bertahan hidup yang lebih tinggi daripada yang tidak sama sekali. Meskipun demikian, memiliki makna hidup tentu tidak serta merta menjauhkan para tawanan itu dari kematian. Karena pada akhirnya banyak juga tawanan yang memiliki makna hidup harus mati karena kelaparan atau sakit atau juga dimasukkan ke dalam kamar gas. Namun, hal semacam itu tentu tidak akan mengubah pandangan Frankl, karena ternyata lebih banyak lagi tawanan yang tidak mati karena penyakit fisik tetapi penyakit mental yang disebabkan oleh kesadaran bahwa hidup tidak lagi bermakna.

Kesadaran semacam inilah yang kemudian menimbulkan semacam depresi terhadap para tawanan. Mereka akan menolak untuk makan, menolak bekerja dan membersihkan diri dan tidak lama dari itu ia akan meninggal. Seorang yang telah kehilangan makna dalam hidupnya akan memandang segala sesuatu sama sekali tak berarti dan akhirnya mereka menolak bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Hal ini tentu tidak akan pernah dialami seorang yang memiliki makna hidup dan tujuan seperti Frankl. Meski dalam kondisi yang hampir mati sekalipun ia akan tetap sedapat mungkin bertanggung jawab terhadap kehidupannya yang berarti.

Pengalamannya bertahan hidup di Kamp ini kemudian coba Ia implementasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui aliran psikologi yang ia bangun, yang kita kenal sekarang dengan sebutan Logoterapi. Logoterapi ini memusatkan perhatiannya pada upaya pencarian makna hidup. Lalu apa yang kemudian coba ditawarkan oleh logoterapi untuk memungkinkan kita menemukan makna hidup? Sebelum mengetahui hal itu, ada baiknya kita mengetahui secara konkrit barang apa yang hendak kita cari, sehingga nantinya akan lebih memudahkan dalam pencarian. Jadi sebelum mencari dan menemukan makna hidup kita melalui Logoterapi, kita harus paham lebih dulu apa arti makna hidup yang dimaksud Frankl?

Frankl di sepanjang magnum opusnya “man’s search for meaning” banyak mengutip quotes dari nietzsche yang berbunyi “Dia yang tahu mengapa harus hidup akan mampu menanggung segala bentuk bagaimana harus hidup”. Setidaknya kebingungan kita mengenai apa yang dimaksud makna hidup oleh Frankl dapat kita temukan jawabannya dalam quotes tersebut. Ketika mengatakan tentang makna hidup ia bermaksud ingin merujuk pada mengapa kita harus hidup. Atau dalam sebuah kalimat definisi bisa ditulis bahwa makna hidup adalah kesadaran tentang adanya alasan atau kemungkinan yang menyebabkan hidup kita layak untuk dijalani

Kita telah mengetahui barangnya, lalu bagaimana cara kita mencarinya? Frankl melalui teorinya Logoterapi, mengatakan bahwa setidaknya ada tiga hal yang dapat ditempuh manusia untuk sampai pada makna hidupnya. Pertama, adalah melalui tindakan-tindakan yang dilakukannya, kedua melalui orang yang ditemuinya, dan yang ketiga melalui makna di dalam  penderitaan. Penjelasan dari ketiganya sekurang-kurangnya adalah sebagai berikut:

Pertama, seorang dapat mengetahui makna hidupnya melalui apa yang Ia kerjakan, misalnya seorang guru lambat laun akan tahu bahwa makna hidupnya adalah untuk mengajar dan mendidik murid-muridnya.

Kedua, melalui sesuatu atau melalui seseorang, Frankl menyebut poin yang kedua ini sebagai Cinta. Orang dimungkinkan menemukan makna hidupnya melalui sesuatu yang diCintai dan lebih-lebih orang yang dicintainya. Seperti halnya ibu yang menyayangi anak-anaknya.

Ketiga, melalui penderitaan yang ia alami, Frankl mengatakan bahwa dalam penderitaan yang tak kunjung usai pun kita masih bisa menemukan makna. Seperti halnya seorang yang cacat, ia mungkin akan berpikir bahwa jika ia tidak cacat mungkin akan banyak hal buruk yang bisa ia lakukan, sehingga ia menyadari bahwa kecacatannya adalah sesuatu yang bermakna.

Lalu sudahkan kita menemukan makna hidup, kebanyakan dari kita pun juga saya sendiri mungkin masih sangat sulit menemukan makna hidup seperti yang dimaksud Frankl, karena pencarian semacam itu membutuhkan daya intelektual yang cukup tinggi. Jadi belum menemukan makna hidup saya pikir adalah hal yang cukup lumrah. Tapi, Frankl menawarkan sedikit solusi mengenai masalah ini. Ia mengatakan bahwa ketika kehidupan bertanya mengenai makna hidup kita, kita bisa menjawabnya dengan tanggung jawab. Ya, bertanggung jawab terhadap setiap yang telah ditimpakan padanya, entah itu momen indah atau tragedi berdarah. Karena hanya dengan itu kehidupan akan jauh lebih bermakna bahkan tanpa tahu apa makna hidup itu sendiri.

Akhir kata, kehidupan manusia adalah sesuatu yang unik. Dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya, suka atau duka, miskin atau kaya, sukses atau gagal, penuh dengan momen indah atau tragedi berdarah, kehidupan akan selalu layak dijalani hanya dengan menemukan sedikit makna didalamnya. Jadi sudahkah kau temukan makna hidupmu?