Judul: Mengapa Negara Gagal; Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran dan Kemiskinan
Penulis: Daron Acemoglu dan James Robinson
Penerjemah: Arif Subianto
Pengantar: Komaruddin Hidayat
Penerbit: PT Elex Media Koputindo
Cetakan: Ketiga, 2017
Tebal halaman: 582 Halaman

Buku tersebut telah tiga kali dicetak ulang, yaitu pada tahun 2014, 2015 dan 2017. Buku aslinya yang ditulis dalam bahasa inggris ini pencetakan ulang sekian kali dalam rentang waktu yang sedikit singkat menandakan bahwa buku ini direspons positif oleh pasar dengan menjadikan buku ini best seller. Buku ini berawal dari pertanyaan besar seperti: mengapa di era globalisasi seperti sekarang ini masih ada negara yang kaya dan miskin dan ketimpangannya semakin dalam jurang pemisah antara kemakmuran dan kemelaratan? Apakah benar pernyataan lama yang mengatakan bahwa keberhasilan negara ditentukan oleh faktor budaya, letak geografis, dan perbedaan iklim suatu negara? Atau mungkin dipicu oleh kebodohan atau ketidaktahuan penguasa tentang arah kebijakan yang tepat bagi kemaslahatan rakyatnya?

Penulis secara gamblang menjawab “tidak”. Bukan itu sebabnya berbagai faktor itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kesenjangan yang tadi disebutkan. Teori iklim, budaya, geografis maupun kebodohan penguasa bukanlah faktor definitif yang menentukan takdir suatu bangsa. Jika benar itu sebabnya maka bagaimana menjelaskan banyak negara yang memiliki kesamaan latar belakang, budaya, etnis serta berdekatan secara geografis sehingga berada dalam iklim yang sama dapat mengalami keberhasilan yang jauh berbeda?

Secara kasat mata dapat dilihat antara Botswana berhasil meraih predikat sebagai salah satu negara termaju di dunia, yang dinilai berhasil dalam pembangunan ekonomi, dengan situasi di negara – negara Afrika lain nya seperti Zimbabwe, Kongo dan Sierra Leone yang masih sarat dengan perang saudara, kelaparan dan kemiskinan dan kekerasan? Perbedaan ini sangat mencolok dalam prestasi ekonomi, padahal karakteristik manusia, budaya dan geografis sama.

Secara meyakinkan Acemoglu dan Robinson menunjukkan bahwa kesuksesan atau keterpurukan ekonomi suatu negara ditentukan dan dipengaruhi oleh institusi politik–ekonomi ciptaan manusia. Sama halnya dengan yang paling menarik adalah Korea, Korea Utara dan Selatan memiliki kesamaan budaya, iklim, maupun geografis. Anehnya, rakyat Korea Utara termasuk termasuk negara termiskin di dunia, sementara masyarakat Korea selatan hidup berkecukupan sebagai salah satu negara termakmur di dunia. Korea Selatan hidup berkecukupan sebagai salah satu negara termakmur di dunia. Korea Selatan berhasil membangun masyarakat yang menghargai inovasi dan memberikan insentif bagi anak bangsanya yang kreatif dan berbakat, serta membuka peluang yang sama kepada segenap rakyatnya yang ingin memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang ada. Kemakmuran yang diraih bisa dipertahankan sebab pemerintahannya bersikap tanggap terhadap aspirasi warganya. Berbeda secara signifikan dengan rakyat di Korea Utara yang hidup berpuluh-puluh tahun dengan doktrin, didera kelaparan, kemiskinan, ketakutan oleh pemerintah yang represif dan otoriter dengan perangkat institusi ekonomi yang sama sekali berbeda dan sengaja kondisi ini dipertahankan atau dibiarkan entah sampai kapan.

Dalam buku ini, Acemoglu dan Robinson memaparkan dengan cukup berani bahwa institusi politik–ekonomi suatu negaralah yang menjadi penentu. Negara yang institusi politik–ekonomi nya bersifat inklusif, cenderung berpotensi untuk menjadi negara kaya. Sementara itu, Negara yang institusi politik–ekonomi negaranya bersifat ekstraktif cenderung tinggal menunggu waktu saja untuk terseret kedalam jurang kemiskinan, instabilitas politik dan mengarah menjadi negara gagal.

Penelitian mendalam selama 15 tahun oleh Acemoglu dan Robinson berupaya mengurai dan memaparkan semua kerumitan tersebut dengan mengumpulkan bukti sejarah mulai dari penyebab runtuhnya kekaisaran Romawi, hancurnya dinasti Ottoman, peradaban maya yang perlahan hilang ditelan zaman, pudarnya kejayaan Venezia, collaps negara adi daya seperti Uni Soviet, Kolonisasi Amerika Latin oleh penjajah Spanyol yang membentuk berbagai macam pranata ekonomi yang menyengsarakan rakyatnya hingga kini, sampai tumbuh dan berkembangnya negara – negara kaya seperti inggris, Amerika Serikat dan Afrika.

Berdasarkan pemaparan itu pula, mereka berupaya membangun teori baru untuk menjawab berbagai pertanyaan besar dalam hal politik–ekonomi pada zaman sekarang, misalnya saja: Saat ini china berhasil menciptakan mesin pertumbuhan ekonomi yang otoriter. Akankah pertumbuhan ekonominya terus berlanjut dan berhasil mengalahkan kedigdayaan perekonomian negara barat? Akankah kejayaan Amerika Serikat memudar? Adakah kecenderungan bahwa suatu negara maju dapat terjebak dalam lingkaran setan, sekelompok kecil elit pengusaha beruapaya mati–matian mempertahankan kekuasaanya demi kepentingan kelompoknya sendiri? Bagaimana cara paling efektif untuk mengetaskan kemiskinan yang diderita oleh miliyaran manusia di dunia dan mengangkat derajad mereka untuk meraih kemakmuran? Bisakah melalui digunakan falsafah barat perekonomian negara–negara kaya di barat? Atau lewat terobosan yang diajukan oleh kedua penulis untuk menyeimbangkan interaksi antara institusi yang bersifat inklusif dan ekstraktif?

* Penulis adalah Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura, Pegiat kajian literasi dan Penggerak Forum Kajian Simposium

About The Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here