Buku “V*gina: Kuasa dan Kesadaran”, adalah karya menakjubkan yang secara radikal mengubah cara kita berpikir, berbicara, dan memahami vagina, perempuan dan seksualitas yang ditulis oleh Naomi Wolf. Ia adalah salah satu kritikus budaya yang paling dihormati dan penulis karya klasik modern, The Beauty Myth. Ketika Naomi memulai sebuah perjalanan yang mengubah hidup untuk mencari tahu hubungan antara seksualitas dan kreativitas, ia menemukan pencerahan yang menggembirakan, yakni adanya tautan, yang didukung secara ilmiah, antara vagina dan keberanian perempuan, ketegasan dan kesadaran. Di dalam buku ini, Naomi menggabungkan ilmu pengetahuan mutakhir dengan sejarah budaya untuk mengeksplorasi peran hasrat perempuan dan bagaimana hal ini memengaruhi identitas, kreativitas, dan kepercayaan diri perempuan.

Naomi Wolf menulis buku ini sebagai buku ilmiah yang disajikan dengan bahasa yang cukup akrab, dibuka dengan kisah masalah yang ia alami soal orgasme, deskripsi jernih tentang masalah tersebut, dilanjutkan perjalanan menyelesaikan masalah tersebut secara klinis dan berhasil. Buku ini tampak sebagai satu upaya Wolf untuk berbagi pengalaman ditambah analisis yang tak mengurangi keakrabannya.

Menarik dalam buku ini pula bahwa Naomi Wolf menolak slogan feminis gelombang kedua tentang tentang ketidakbutuhan perempuan atas laki-laki, dan pada saat yang sama ia juga menolak pandangan ”post-feminisme” perihal pembebasan seksual yang diartikan perempuan bisa seenaknya bergonta-ganti pasangan laki-laki. Ia menolak klaim bahwa salah satu gender lebih baik dari gender lain. Bagi dia, perempuan-perempuan heteroseksual merindukan laki-laki, tetapi bukan just any man (sembarang laki-laki), melainkan the man (laki-laki), laki-laki spesifik sebagai pasangan seksual yang terhubung secara emosional.

Kebiasaan bergonta-ganti pasangan yang mungkin dilakukan oleh sebagian perempuan merupakan bentuk pemberontakan terhadap patriarki dan kebencian terhadap laki-laki yang sebagian juga suka melakukan hal yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka pun bisa “fuck like man” dan mempermainkan laki-laki tanpa lagi memikirkan cinta yang sakral, bermakna dan berkonsekuensi. Bagi Wolf, hal demikian tampaknya hanya akan berujung masalah yang ia kemukakan diawal, bahwa menurutnya kaum perempuan mungkin mengalami orgasme fisik melalui hubungan seksual dengan pola semacam itu, tetapi mereka hampir tidak mungkin memperoleh orgasme sesungguhnya yang ia sebut orgasme trans (high orgasm).

Pada satu bagian dalam buku ini, Naomi Wolf menyangkutkan seksualitas perempuan dengan kreativitas. Jauh hari sebelum Freud sudah melakukan hal yang sama pada laki-laki yang hasilnya lantas mendasari salah satu konsep psikoanalisis klasik tentang asal-usul karya seni. Menariknya, Naomi Wolf memberi konklusi senada. Sebagaimana dikatakan Naomi Wolf, pandangan misoginis bahwa perempuan cerdas itu hasrat seksualnya rendah sementara perempuan yang memiliki hasrat seksual tinggi itu pasti “tak punya otak” adalah pandangan keliru sebagaimana yang ia tunjukkan melalui telaah biografi Christina Rosetti sampai George Eliot, Edith Warthon, Emma Goldman dan Georgia O’Keeffe.

Dengan semua pengetahuan yang ia tawarkan, buku ini merupakan bacaan yang menyenangkan dan sekaligus mencerahkan khususnya seputar vagina dan umumnya seputar perempuan. Dari pemahaman lebih mendalam perihal keduanya maka bisa diharapkan terhapusnya pemahaman kuno yang cenderung merendahkan bahwa vagina hanya sekedar “lubang” sebagaimana diyakini pada zaman Elizabeth lima abad silam. Meskipun demikian, masalah vagina ini berkaitan erat dengan bagaimana perempuan memperoleh “orgasme trans” dari hubungan seksualnya dengan laki-laki, suatu orgasme yang “dialami dalam dimensi puitis”.

Selain provokatif, menarik, dan inspiratif, buku ini juga akan mengantarkan kita menuju inti dari apa artinya menjadi seorang perempuan. Bagi setiap pembaca, baik laki-laki maupun perempuan yang ingin memahami tubuh, pikiran, serta budaya yang mendefinisikan perempuan, buku ini adalah bacaan wajib.

* Penulis adalah alumni Universitas Trunojoyo Madura sekaligus Pegiat Forum Kajian Simposium