image by aksitarih.com
image by aksitarih.com

Dalam sejarah perkembangannya, Islam selalu menekankan perubahan dan memberikan cara pandang. Tatkala Islam membangun sebuah peradaban, begitulah adanya. Sejak awal, Islam tidak pernah berada pada level yang terus-menerus menimbulkan perdebatan, sebagaimana tafsir pembangunan masa kini yang telah menjadi sumbu gaduhnya segala persoalan yang tak akan pernah usang dan usai, dan benar saja bila pembangunan juga berarti membangun peradaban. Tetapi mungkin, sebab ini pula Islam sulit diterima oleh orang-orang Eropa yang sejak dulu memiliki tradisi berfikir/berfilsafat (sebagai sebuah usaha mempertanyakan sesuatu yang tak ada jawabannya), yang jelas-jelas berbanding terbalik dengan Islam (sebagai sebuah jawaban atas hidup dan kehidupan yang tidak pernah dipertanyakan).

Demikianlah dalam Islam, dan bahwa peradaban bukan besar tentang pembangunan fasilitas (infrastruktur), melainkan sedemikian rupanya Islam untuk menitik tekankan pada pola berfikir (dari jahiliyah ke beradab yang akan melahirkan masyarakat madani). Akan tetapi bukan tidak mungkin dan menjadi hal yang sulit, andai saja Nabi Saw menginginkan pembangunan besar-besaran (sejauh-jauh jangkauan/membayangkan pembangunan sebagaimana raja-raja sebelum datangnya Islam) yang didukung dengan penguasaan ilmu dan pengetahuan masyarakat arab pada kala itu.

Tetapi nyatanya, Nabi SAW justru lebih memilih membangun masjid yang hanya cukup untuk menjadi madrasah atau sebagai sarana pembelajaran bagi umat muslim. Sehingga berkembanglah tradisi pemahaman terhadap Al-Qur’an. Dari tradisi ini, kemudian terbentuk sebuah komunitas yang dikemudian hari melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam, lahirlah sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam. Dengan begitu, Islam memberi pencerahan bagi pemeluknya untuk keluar dari kebodohan, dan keyakinan manusia hanyalah pada Tuhan, bukan pada benda, hawa nafsu, ataupun kemegahan.

Pun sebelum adanya Islam, bangsa Arab kala itu telah memiliki ilmu astronomi yang cukup tinggi untuk menentukan arah mata angin dalam perjalanan di tengah padang pasir yang seakan-akan tak bertepi, begitu juga dengan penguasaan ilmu dalam bidang sastra, seni dan politik. Bangsa Arab disebut jahiliyah bukan karena bodoh, tetapi karena kesesatannya. Hidup mereka mengikuti hawa nafsu, berpecah-belah, saling memerangi satu sama lain, dan sebagainya.

Tak heran bila kemajuan Islam dalam bidang sastra, seni dan politik tampak sebagai indikator kemajuan besar dalam sejarah umat Islam sebagai estafet penerus kemajuan yang telah dicapai oleh kemajuan bangsa-bangsa yang telah berkembang sebelum Islam. Mengutip pernyataan Nouruzzaman Shiddiqie, pun baginya; meski kemajuan Islam sebagai kelanjutan dari bangsa-bangsa lain sebelumnya, akan tetapi kemajuan Islam memiliki ciri yang khas, dan justru lebih spektakuler daripada kemajuan-kemajuan yang pernah dicapai oleh bangsa lain termasuk yang dicapai oleh bangsa besar seperti Romawi dan Persia saat itu. Suatu kenyataan yang menunjukkan kontribusi ajaran Al-Qur’an sebagai risalah yang dibawa oleh Nabi SAW adalah instrumen penting dalam pengembangan kemajuan peradaban.

Al-Quran sebagai pesan yang berisi wahyu Tuhan YME, tidak hanya sebatas memberikan ajaran doktrinal yang bersifat ketuhanan. Dalam banyak sisi, Al-Qur’an justru mendorong manusia yang membacanya untuk selalu menggunakan pikiran, hati nurani, potensi dirinya, melihat-memahami ontologi dunia dengan segala seluk-beluk dan keunikannya, baik makhluk hidup (manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan) sekaligus benda-benda alam (tanah, batu, udara, dan sebagainya) sebagaimana pernyataan ‘afalaa ta’qilun, afalaa yatadabbarun’ ‘(apa kamu tidak berakal, apa kamu tidak merenung)’. Sehingga perpaduan antara potensi manusiawi manusia dengan kepekaan dalam mentadabbur isi alam semesta adalah sebagai embrio kemajuan peradaban dalam Islam.

Sayangnya Islam hanyalah sebatas ‘pesan’ peradaban paling rasional, yang secara bersamaan tiada henti-hentinya diinginkan untuk sepenuhnya menjadi tata pikir pada konteks sosial masa kini dan disini, walau belum juga sampai. Parahnya, yang besar justru simbol-simbol Islam dan itu cukup memilukan. Entah sejak kapan Islam bertransformasi dari nilai menjadi slogan-slogan jalanan. Tentu sikap yang seperti ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja tidak tepat. Terlebih, hanya dengan keadaan yang begitu pula, umat muslim dapat memahami keadaan dirinya yang tampak terpontang-panting (menyerukan kebenaran) dihadapan realitas yang modern. Tetapi juga bukanlah sebuah persoalan akut, yang berlaku hanyalah hegemoni pengetahuan. Maka, nyaris mustahil bilamana umat muslim tidak menyadari keadaannya yang semakin terbelakang dapat kembali memimpin peradaban umat manusia.

Sebab itulah, Islam menyerukan pentingnya kesadaran (baca: Islam Profetik), bahwa umat muslim perlu terbebas dari sistem pengetahuan materialistis dan dominasi struktur. Yang mana, nilai-nilai ilahiyah (ma’ruf, munkar, iman) harus menjadi tumpuan aktivisme Islam. Hanya dengan begitu, dapatlah etika Islam terbebas dari segala (tipu-daya) olah intelektual eropa sentris/erosentrisme (materialisme, individualisme, eksistensialisme, liberalisme, kapitalisme). Yang pada akhirnya akan menjernihkan makna peradaban secara utuh. Walhasil, kemana seharusnya peradaban umat manusia menuju? Adalah sebuah tanya yang hanya layak dipertanyakan bilamana umat muslim tidak (lagi) terhegemoni.

About The Author