image by Natalie Matthews-Ramo via Thinkstock
image by Natalie Matthews-Ramo via Thinkstock

Pada jaman nenek moyang kita sapiens, sebenarnya kita tidak pernah melakukan toleransi terhadap jenis spesies lain yang berbeda dengan dirinya. Hanya saja para cendekiawan selalu menyelamatkan citra kita melalui kajian ilmiahnya dengan adanya banjir besar sehingga membuat punah para jenis Neadertal, atau hewan yang dahulu ada lalu tiba-tiba punah karena datang homo sapiens dan kemudian terjadilah kebakaran besar atau naiknya air laut sehingga daratan menjadi semakin sempit.

Bahkan itu bisa kita lihat pada keadaan manusia modern saat ini bahwa manusia memang sejak dari awal tidak pernah ada toleransi, hal ini ditunjukkan dengan adanya rasial diskriminasi yang terjadi di Amerika, perlawanan perempuan Eropa sampai munculnya feminis anarkis. Munculnya semua itu bahkan beralasan karena pemerintah Eropa sangat bergerak lamban memberikan perempuan kebebasan dalam berpolitik, hak-hak dan tuntutan buruh tidak didengar.

Dalam konflik agama, terjadi antara Israel dan Palestina, terjadi perebutan tanah perjanjian, konflik internal suriah, muslim uighur dengan pemerintahan China yang menganggap bahwa populasi muslim adalah sebuah ancaman bernegara dan ideologi dari negara tersebut, konflik rohingya dan etnis hindu di Myanmar bahkan rohingya tidak diakui sebagai bagian dari rakyat Myanmar, mereka tidak diberikan akses pendidikan, jobless, kesehatan dan perumahan yang layak hidup. Mereka terlunta-lunta hingga akhirnya mereka mendapat julukan sebagai manusia apung karena hidup bertahun-tahun di laut.

Secara kelembagaan, semua anggota ASEAN mengecam (termasuk Indonesia), tapi mereka menolak etnis tersebut yang mengungsi ke negaranya termasuk Indonesia. Salah satu daerah di Indonesia dan masyarakatnya menampung dengan suka rela para pengungsi, tapi secara kenegaraan Indonesia menolak dan di lain sisi  mengecam genosida yang dilakukan oleh kaum hindu Myanmar secara diplomatis, karena ini konflik internal suatu negara tapi di lain sisi juga ini adalah konflik kemanusian yang serius, genosida besar-besaran, pembantaian, perampasan hak, pembunuhan anak-anak dan pemerkosaan perempuan di kamp-kamp tentara Israel.

Organisasi besar seperti PBB, UNICEF dan Uni-Uni lainnya yang cita-citanya adalah untuk perdamaian dunia tidak bisa menghentikan itu semua. Pun tidak juga aman padahal sudah sejak lama paham tentang humanisme bahkan negara majupun tidak luput dari diskriminasi dan upaya men-generalisasikan bahwa setiap muslim adalah teroris. Misal pernah ada sebuah berita Muslim di Australia, seorang perempuan yang memakai burkha atau kerudung di tarik-tarik, muslim yang ada Korea Selatan pernah mengalami hal serupa saat ia ingin menaiki fasilitas umum di negara tersebut.

Hal ini saya tulis dan rangkum karena akhir-akhir ini di negara kita ada sebuah kejadian viral yaitu pelemparan/ membuang sesajen di semeru dan pelaku kebetulan adalah seorang muslim yang banyak sekali menuai reaksi dari warganet mulai dari komentar pendek,  sampai video berdurasi. Anggapan mereka ketika semua muslim adalah sama intoleran dan merasa superior karena merupakan mayoritas di negara ini padahal sama seperti negara lain pun kita punya konflik internal. Itu hanya contoh sebagian padahal mulai dari kita mengenyam pendidikan kanak-kanak dan dasar kita selalu ditekankan bahwa kita terdiri dari pulau-pulau, berbagai ras, agama dan bahasa.

Sama seperti stigma yang muncul pada orang Papua yang suka mabuk dan terbelakang sama halnya dengan stigma orang madura yang keras dan suka menuai konflik, manusia cenderung mengeneralkan semuanya sehingga jika ada kasus yang sama misalnya, maka stigma tersebut seolah menjadi pembenaran pada kasus yang bisa jadi berbeda.

Tapi mungkin secara historis terjadi seperti pengeboman kantor kejaksaan Amerika Serikat di Tanzania dan Kenya oleh Osama Bin Laden dan bahkan di negara kita yang mayoritas muslim itu sendiri banyak terjadi seperti Bom Bali, pengeboman di kedutaan Australia, Hotel J. W Marriot dan yang masih hangat di ingatan kita adalah seluruh keluarga pelaku yang mengebom secara terpisah gereja di Surabaya yang salah satunya seorang ibu dan anak yang menggunakan burkha dan pelaku pengeboman di Makassar dilakukan oleh pasutri yang mengatakan bahwa pemerintahan adalah toghut.

Hal tersebut menjadi luka sekaligus stigma yang akan melekat di ingatan dan menjadi konsumsi publik, sama halnya banyak pembenaran untuk rasial diskriminasi kenapa kulit putih lebih unggul dari kulit hitam, atau kenapa orang Yahudi memperlakukan warga palestina sebagai kelompok ras yang lebih rendah, dan paham ini sudah ada sejak turun menurun sampai sekarang.

Sumber Rujukan:

Harari, Y. N. (2018). Sapiens: Riwayat singkat umat manusia. Kepustakaan Ppuler Gramedia

Narasi TV instagram (2021) ”pembuangan Sesajen di gunung semeru”

dan berbagai sumber dalam bentuk berita dan video

About The Author