Kabar mengenai pandemi masih begitu hangat hingga detik ini, menjadi trending topic bahasan publik meskipun penuh dengan hal-hal ketidakpastiaan. Kenaikan kurva kematian masih terus konsisten dan sering muncul di media cetak maupun media teknologi kita. Respon masyarakat pun bermacam-macam menyikapi pandemi, lebih-lebih terkait fakta di lapangan mengenai beban dari dampak nyata yang dirasakan selama anjuran untuk mengikuti protokol kesehatan yang terlalu mempersulit masyarakat. 

Normalisasi secara sadar mulai bergerak di tengah-tengah masyarakat tanpa sedikit pun menghiraukan pandemi yang sering menjadi hantu kehidupan selama ini. Penelusuran penulis pada berbagai media massa online, baik internasional hingga lokal, dampak serius akibat pandemi selama anjuran #workfromhome yaitu berpotensi memunculkan dekadensi kemanusiaan, moral dan akhlak. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya angka kriminalitas di berbagai wilayah, mulai dari perampokan, bunuh diri, pembunuhan, pemerkosaan dan kenakalan remaja. Pihak kepolisian menyatakan, kriminalitas meningkat sebesar 19,72% dari sebelum masa pandemi di samping angka pengangguran juga melambung tinggi. 

Dalam perspektif sosiologis, Durkheim, seorang sosiolog perancis membuat konsep anomie, yaitu keadaan sosial masyarakat tanpa nilai dan norma yang kemudian dikembangkan dalam bidang kriminologi oleh Robert K. Merton. Ia menyatakan bahwa keadaan sosial demikian (perasaan tanpa norma dan nilai) cenderung akan menimbulkan perilaku yang menyimpang. Di sisi lain, gagasan ini diperkuat dengan konsep fungsionalisme struktural, yang menganggap bahwa ketika satu komponen masyarakat mengalami keadaan merugikan, maka akan terjadi peristiwa disfungsi. Realitas disfungsi ini dapat dipahami sebagai “tindak kejahatan sosial”.

Berbeda jika dilihat dari sudut pandang kriminologi marxis, perspektif ini cenderung berfokus pada kekuatan masyarakat daripada motif individu dan kapasitas dualistik mereka untuk benar dan salah, moral dan tidak bermoral. Jika anomie adalah penyebab utama kejahatan, harus ada teori tertentu untuk menjelaskan mengapa hanya beberapa kelas pekerja saja yang melakukan kejahatan. Hal ini akan semakin menarik jika dikaitkan lebih dalam dengan kebijakan lock down yang hanya diterapkan pada kelas masyarakat sipil secara umum dan ada keistimewaan khusus bagi kaum pejabat. Tentu hal tersebut dapat dianalisis menggunakan teori alienasi marx.

Di tengah-tengah pandemi, kesadaran spiritual mulai meningkat dan menguat pada setiap individu. Dalam menghadapi ketidakpastian pandemi, banyak dari masyarakat lebih tertarik untuk memperbanyak ibadah dan do’a dengan penuh pasrah serta tawakkal pada Tuhan yang maha esa. Namun tak jarang intensitas kenaikan kesadaran spiritual mereka dihasilkan oleh logika sederhana mengenai kematian, bahwa “seseorang meninggal dunia adalah kepastian (takdir yang sudah ditentukan Tuhan), penyakit apapun hanya salah satu sebab saja dan bukan menjadi penentu kematian seseorang”. Pemahaman demikian, justru lebih efektif menguatkan diri supaya tidak panik secara berlebihan dan begitu menenangkan psikis seseorang menghadapi ketidakpastian pandemi. Meski demikian, upaya untuk menjaga diri dari wabah tetap harus menjadi prioritas setiap individu di samping pasrah diri kepada Tuhan.

Ada hal menarik lain yang perlu kita cermati di tengah krisis ini, yakni terkait sains. Posisi sains yang selama ini seakan menjadi penguasa di balik era modernitas memang perlu diragukan, karena belum menjadi solusi yang mapan bagi masyarakat luas selama pandemi. Alih-alih dapat berkontribusi dalam masa pelik ini, sains justru tampak memberi beban pada berbagai sektor, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dan politik bagi masyarakat. Selama vaksin belum ada, sains perlu menelusuri lebih jauh fenomena ini serta selalu memperhatikan kembali kredibilitas keilimiahannya agar dapat benar-benar dirasakan adanya ditengah-tengah persoalan sosial manusia, terutama pandemi ini.

Dunia pendidikan nasional justru lebih kebingungan dan cenderung membingungkan. Wujud  kebingungannya tercermin dari beberapa kebijakan akhir-akhir ini yang mulai plin-plan dalam menentukan sikap. Penerapan pendidikan jarak jauh berbasis online selama pandemi, salah satunya. Meskipun kebijakan ini terpaksa harus dilaksanakan, tidak cukup menjadi solusi yang efektif dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain, pemerintah menyadari keterbatasan beberapa sumber daya manusia akan melek elektronik di Negara kita masih menjadi persoalan rumit, belum lagi adanya komersialisasi pendidikan yang lebih menguntungkan pihak penyedia layanan kouta internet maupun aplikasi smartphone.

Yang jelas, persoalan selama pandemi lebih kompleks. Para intelektual maupun beberapa pihak tentu diharapkan memberi solusi yang tepat dengan penuh keseriusan tanpa kepentingan apapun kecuali keselamatan, kebahagaian dan ketenangan hidup bersama umat manusia. Dalam bidang sains, filsafat, dan agama, diperlukan agar dikaji kembali secara reaktif radikal dengan penuh kepekaan hingga dapat memberi jalan keluar pada masalah yang kian dihadapi secara dahsyat ini. Dampak pandemi ini, harus mendapat respon yang lebih bersikap gotong royong diantara kita dengan penuh kejujuran dan ketulusan.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN MALIKI Malang, Pegiat Kajian Sosiologi Pendidikan dan Penggagas Forum Kajian Simposium

About The Author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here