Image by Kaskus and Rockstar Games
Image by Kaskus and Rockstar Games

Pendidikan merupakan tonggak senjata sebagai alat peradaban untuk membangun manusia yang memiliki etos moral dan intelektual manusia. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya sejak masa kanak-kanak. Artinya, pendikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar peran mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Dalam perjalanan memasuki era globalisasi ini, kesadaran akan konstruk harus bersandar pada kecakapan intelektual dan etos moral agar mampu menjawab tantangan di era ini.

Dengan menempatkan pembangunan manusia sebagai subjek dalam pendidikan, hal ini merupakan titik sentral dari sebuah keniscayaan. Maklum, globalisasi telah menampilkan perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat, teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih, serta pengaruh budaya global dalam kehidupan umat manusia yang semakin dominan.

Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap sistem pendidikan yang dibangun dalam melihat perkembangan globalisasi yang cukup pesat sehingga mampu membentuk sistem yang baik untuk dapat menyesesuaikan dengan perkembangan global ini. Selain itu, hal ini diharapkan dapat menampung dan menjangkau anak-anak pribumi untuk modal investasi bangsa yang unggul dan kompeten, hal ini karena pendidikan masih dipercaya sebagai proses yang mampu memompa tenaga produktif (productive force), suatu kemampuan masyarakat untuk mengahasilkan suatu bentuk tindakan dan produk-produk baik yang bersifat ekonomis dan akademis dengan dedikasi etos kerja.

Umumnya tenaga produktif masyarakat lebih sering dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika masyarakat semakin mengalami kemajuan di dua bidang ini, maka akan banyak dihuni oleh individu-individu yang diharapkan. Kemampuan untuk dapat menjawab tantangan perkembangan zaman sangat dibutuhkan saat ini, terlebih kondisi pendidikan saat ini sudah mulai berubah akibat adanya wabah Covid-19. Semenjak Covid-19 ditetapkan menjadi pandemi, ia memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek, salah satunya adalah pendidikan. Berubahnya model pendidikan demi mengantisipasi penyebaran Covid 19 menjadi daring semakin menyisihkan beberapa catatan problematis sendiri di tengah pandemi ini.

Oleh karena itu, diperlukan wacana pendidikan kritis dalam menjawab tantangan tersebut di tengah pandemi ini. Wacana kritis dalam pendidikan sangat diperlukan sebagai upaya kontruksi pendidikan yang solutif di tengah pandemi ini. Menurut tokoh pendidikan kritis asal Brazil, Paulo Freire, manusia sejati adalah mereka yang menjadi pelaku atau subjek, bukan penderita atau objek. Mereka juga harus menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas, khususnya dalam dunia pendidikan.

Pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire untuk tenaga pendidikan agar tidak menjadikan murid sebagai objek yang sebatas penerima informasi dan menghafalnya, melainkan harus dapat memberikan mereka rangsangan yang mampu membuka diskusi dengan guru. Murid sebagai manusia memiliki fitrah menjadi manusia merdeka, dan guru harus mampu kreatif memanfaatkan teknologi dalam proses belajar-mengajar dengan tidak hanya sekedar memberikan tugas harian yang pasif tanpa menciptakan sebuah wahana dalam teknologi yang dapat memberikan kesenangan belajar terhadap murid secara aktif.

Guru juga harus bisa memberikan rangsangan berfikir terhadap murid akibat dampak adanya pandemi ini, terutama seputar persoalan-persoalan yang dilematis di dalamnya yang kemudian dipadukan secara teoritis. Pendidikan kritis Paulo Freire juga harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya, yakni pengajar, pelajar, dan realitas dunia. Ketiga unsur tersebut harus dapat dikonsepkan dalam sekolah agar tercipta wacana pendidikan kritis secara dialogis dan bersifat humanis dalam pendidikan.

Dalam mengembangkan pendidikan kritis, Paulo Freire menawarkan kepada pelajar atau siswa untuk mengembangkan sikap kritisnya, dengan cara : 
a). Menjadi pembaca yang mengetahui peran dirinya. Tidak mungkin orang dapat belajar secara serius jika motivasi membaca mereka sangat pasif. Peserta didik dituntut untuk dapat mengkontekstualkan antara teoritis dengan praktis realitas dunia. 
b). Praktik belajar yang peka dengan fenomena sekitar. Karena praktik ini merupakan sikap terhadap dunia, maka praktik ini tidak dapat direduksi hanya sekedar hubungan pembaca dengan teks. Dalam hal ini, peserta didik akan dihubungkan dengan bagaimana mengekspresikan pengalaman dirinya dengan realitas dunia.
c). Perilaku belajar mengasumsikan hubungan dialektis antara pembaca dan penulis yang refleksinya dapat ditemukan dalam tema teks tersebut. Dialektika ini melibatkan pengalaman sosio-historis dan ideologis penulis, yang tentu tidak sama dengan pengalaman pembaca. 
d) Perilaku menuntut rasa rendah hati. Jika kita benar-benar mempunyai sikap rendah hati dan kritis, kita tidak perlu merasa bodoh sewaktu dihadapkan pada kesulitan yang besar untuk memahami makna sebenarnya dari suatu teks. Sikap rendah hati akan memunculkan bahwa dirinya merasa masih terdapat kekurangan sehingga akan selalu memunculkan rasa semangat untuk terus mencari.

Selain beberapa cara di atas, sistem pendidikan harus mampu menciptakan transformasi perubahan bagi kaum-kaum yang tertindas. Maksudnya adalah, pendidikan harus dapat memberikan pelayanan yang baik untuk menjangkau murid-murid yang tidak mampu secara ekonomi agar tidak semakin banyak mereka yang putus sekolah.

Bagi Paulo Freire, pendidikan kritis harus mampu menjadi alat sosiologi, budaya, dan politik dalam memihak kaum-kaum lemah yang tertindas. Artinya, pendidikan model ini mampu merekontruksi berbagai realitas sosial yang membelenggu masyarakat, sehingga antara teori dan praktik mampu menjadi aksi untuk menemukan akar masalahnya. Untuk itulah, di akhir tulisan ini pendidikan kritis harus dapat merekonstruksi ulang dalam dunia pendidikan bagi murid yang dipersiapkan sebagai generasi penerus bangsa mendatang. Selain itu, guru dan penyelenggara pendidikan harus mampu menciptakan dialog yang konstruktif yang menghasilkan keadilan bersama dan terbebas dari ketertindasan di masyarakat

Sumber:

Agung Prihantoro, dkk, Politik Pendidikan Kebudayaan dan Pembebasan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)

About The Author