image by madaninews.id
image by madaninews.id

Masa muda (sebelum memasuki umur 30 tahun) merupakan masa yang penuh pergulatan batin. Bagaimana tidak, pada fase ini memiliki ciri khas yang berbeda sebab keberagamaan masa muda hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh authority (pengaruh luar). Mereka belajar sikap keagamaan dari apa yang mereka lihat dari apa yang dikerjakan oleh agamawan atau orang yang lebih tua. Artinya, keberagamaan usia muda belum menemukan konsep bulat, mereka belum menyadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut.

Ditambah semakin peliknya pemahaman terhadap agama akibat sifat kritis yang ada dalam diri pemuda, mulai dari keinginan untuk bebas (kebebasan) hingga konsep-konsep abstrak yang selalu dipertimbangkan dalam benak mereka. Oleh karenanya, penghayatan keagamaan para pemuda cenderung menjadi kacau dan negatif dari banyaknya paham yang berbeda-beda, dan kontradiksi perilaku keagamaan para agamawan yang tidak sesuai antara realita dengan pengetahuan moral yang mereka terima sejak kecil. Hal itulah yang justru membuat pemuda bimbang dalam menentukan mana yang tepat dan mana yang tidak. Hingga muncullah sikap skeptis (keragu-raguan) atas ajaran agama yang mereka anut, terutama dalam hal kepatuhan syariat.

Sikap skeptis pada pemuda itu pada awalnya bukan sebagai pengingkaran yang sesungguhnya, tetapi lebih cenderung kepada sikap protes atau menentang terhadap keputusan Tuhan. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan kritis dalam pikiran pemuda, “mengapa Tuhan harus demikian dan demikian…”. Jika dibiarkan dan tidak mendapatkan pencerahan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa sikap skeptis itu melahirkan sikap penolakan secara mutlak tentang keberadaan Tuhan, atau yang disebut atheis.

Maka tak heran jika dalam survey mutakhir di Amerika yang bertajuk The Global Index of Religiosity and Atheism yang berupaya menggambarkan tren keberagamaan dan ateisme di dunia; menunjukkan bahwa ateisme semakin meningkat justru kebanyakan dari kalangan pemuda.

Mengapa bisa menghinggapi pemuda?

Hal ini menjadi menarik,  jika dipahami dari ilmu kejiwaan, kompilasi sifat pemuda yang selalu ingin ‘bebas’, rasa ‘ingin tahu’ yang kuat, serta rasa ingin mendapat ‘apresiasi’ (alias unjuk diri) membuat mereka semakin bangga jika harus menjadi anti-mainstream, menjadi berbeda dari keumuman. Demikian pula dengan tren ateisme ini, menjadi kebanggaan bagi pemuda agar terlihat lebih modern, juga biar merasa lebih ilmiah. Sehingga mereka tak jarang membuat forum-forum diskusi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (media sosial) untuk menentang kaum beragama guna beradu argumentasi khas anak muda; disamping untuk unjuk kekritisan mereka di depan khalayak.

Bukan hanya atheisme yang mengakar di kalangan pemuda, tapi paham agnostisisme atau agnostikyang tidak mempercayai kerasulan/kenabian, ada pula paham sinkretisme yang memadukan syariat berbagai agama, juga paham deisme yang percaya akan Tuhan tapi tidak percaya pada syariat agama dan kitab suci. Bukan hanya itu, para pemuda pun sering terlibat dalam penyebaran aliran sesat keagamaan, hingga pengkultusan akan dirinya.

Ada kalanya, bagi anak muda, meninggalkan agama sebagai bentuk ekspresi atas kekacauan berpikir mereka yang tidak menemukan pencerahan atau jawaban. Dimana agama dinilai sebagai candu, kegilaan, alat kekerasan, dogmatis dan doktrinal yang tidak memberikan kebebasan akal, hingga agama dianggap sebagai sesuatu yang kuno, kolot, dan ketinggalan zaman. Yang semuanya itu, dalam penilaian mereka, tidak mencerminkan sikap kepemudaan.

Menyadari akan hal itu, maka pemuda haruslah menjaga iman. Menanamkan keimanan yang benar, mengkokohkan iman, dan memupuk keimanannya dengan ibadah dan amal saleh.

Mari berbicara iman, mari kita dudukkan persoalan apa itu iman, dan apa bedanya dengan Islam. Menurut Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, jika ditilik secara bahasa maka iman itu memiliki makna yang lebih khusus, sementara Islam lebih umum. Iman berarti membenarkan, sementara Islam berarti menyerahkan atau tunduk. Jika dijabarkan secara spesifik, maka iman membenarkan secara hati sanubari, sedangkan Islam menyerahkan diri atau tunduk dalam bentuk dhahir, entah melalui ucapan maupun perbuatan anggota tubuh.

Menurut Sayid Sabiq bahwa keimanan itu merupakan akidah yang di atasnya berdiri syariat Islam. Syariat itu berisi ‘perbuatan-perbuatan’ yang kemudian mengeluarkan buah dari keimanan. Keduanya bagaikan pohon dan buahnya. Bagai mukaddimah (pendahulu) dengan natijah (hasil). Oleh adanya hubungan yang erat itu, penyebutan amal perbuatan selalu disertakan penyebutannya dengan keimanan dalam banyak ayat-ayat Al-Quran.

Terkait persoalan tersebut, perhatikan ayat berikut untuk mengetahui posisi keimanan dan keislaman (syariat).

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr [103]: 3)

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa term iman dan term mengerjakan amal saleh—termasuk menasihati—merupakan ‘hal yang berbeda’. Term iman sebagai bagian tersendiri yakni keimanan, sedangkan mengerjakan amal saleh dan menasihati sebagai term keislaman (syariat).

Meskipun dimensi iman yang berupa tashdiq dalam hati selalu disandingkan dengan dimensi keislaman yang diwujudkan dengan af’al (perbuatan) dan qaul (ucapan). Namun harus dipahami bahwa posisi iman lebih esensial dari Islam. Sebab iman memiliki segmentasi tersendiri dari Islam, namun keduanya sangat berkaitan erat. Masih meminjam istilah yang digunakan Al-Ghazali, bahwa “iman itu bagian termulia dari Islam”.

Kata lainnya, Islam itu merupakan bentuk pengejawantahan iman. Artinya, seandainya ada orang yang mengaku beriman tapi tidak memanifestasikan dalam syariat Islam, maka imannya bisa dikatakan kurang sempurna. Dengan demikian, seorang Mukmin yang meninggalkan syariat Islam, maka dia tidak bisa dikatakan ‘tidak beriman’ (atau kafir, lawan dari iman). Orang itu tetap beriman, sekalipun meninggalkan perintah syariat, namun imannya kurang sempurna. Ibarat orang yang cacat, maka orang itu tidak bisa dikatakan ‘bukan manusia’, dia tetap saja manusia, tapi kurang sempurna.

Karena iman memiliki potensi ‘cacat’ (kurang sempurna), itu artinya iman bersifat fluktuatif. Kadang naik, kadang turun. Bisa bertambah, bisa berkurang. Ibarat orang hidup, ia bisa bertambah gemuk, juga bisa menjadi kurus. Iman bisa bertambah dengan amal saleh, dan berkurangnya iman dengan kemaksiatan. Termasuk kemaksiatan yang besar ialah kesyirikan dan kekafiran.

Menjaga iman itu artinya menjaga tauhid. Tauhid berarti mengesakan Allah. Meniadakan tuhan selain Allah. Konsekuensinya ialah hanya ada satu kemahakuasaan, yakni Allah. Dan kita harus membebaskan diri dari kekuasaan-kekuasaan lain, seperti kekuasaan hawa nafsu, harta, jabatan, keduniaan segalanya harus sirna dalam jiwa seorang mukmin dan muslim, selain kekuasaan Tuhan. Artinya, bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah bersifat fana dan nisbi, maka tidak ada yang mutlak, kecuali Allah.

Sehingga kita harus sadar betul bahwa selain Allah, semuanya hanyalah nisbi; bersifat relatif, dan fana alias rusak. Jadi kita tidak perlu memutlakkan suatu pendapat, sekali pun hal itu kita yakini benar. Karena ujung-ujungnya hanyalah akan menyalahkan pendapat yang lain. Sah-sah saja jika harus membenarkan suatu pendapat, tapi tak perlu mencemooh yang lain. Tauhid itu tidaklah demikian. Tauhid memberikan makna bebas. Bebas dari ‘kebenaran-kebenaran’ nisbi nan fana. Hanyalah kebenaran Tuhan yang mutlak.

Kiranya, itulah yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, yang sejak masa mudanya berupaya memahami ketauhidan dengan memberikan jalan kebebasan. Bebas dari kebenaran-kebenaran yang nisbi, atau bebas dari ketidakmutlakan di dunia yang fana ini. Ketika Ibrahim melihat matahari, dan matahari itu terbenam, maka itu adalah nisbi, matahari tidak mutlak, dan tidak mungkin itu wujud Tuhan. Dan begitulah seterusnya proses pencarian Tuhan oleh Ibrahim yang digambarkan Al-Quran.

Makna lain dari kisah Ibrahim ialah bahwa hal-hal yang ada di dunia ini, ke-ego-an, ilmu pengetahuan, peralatan, pemikiran, organisasi, kekuasaan, dll, semuanya hanyalah nisbi, tidak mutlak. Dan Ibrahim muda telah berhasil membebaskan dirinya dari perangkap-perangkap keduniaan semacam itu. Ibrahim telah berhasil menafikan atau menegasikan segala sesuatu yang selama itu telah ‘dituhankan’ atau ‘diabsolutkan’ oleh orang-orang di sekitarnya.

Ibrahim muda telah melewati proses pencarian Tuhan dengan sangat kritis dan lebih substansial. Yang akhirnya, pencarian Ibrahim terhenti pada ketauhidan kepada Rabb, Sang Maha Pencipta. Wahyu Tuhan telah membimbing Ibrahim ke jalan yang benar, yakni tauhid. Bahwa hanyalah Allah yang patut dimutlakkan. Dan ketauhidan itulah yang kemudian diturunkan kepada keturunannya.

Keimanan, ketauhidan maupun keislaman, kesemuanya itu yang harus kita jaga. Sebab ketiga hal tersebut yang akan membawa kita pada hidup yang damai, sejahtera, dan membawa kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Jangan katakan bahwa setan telah merusak iman kita, tapi kita sendiri lah yang meninggalkan iman sehingga setan merampasnya, begitulah kata Abu Hanifah. Terutama di zaman sekarang ini, dimana ‘serangan’ terhadap iman (agama) sangat gencar, ditambah dengan kemajuan teknologi yang bisa dijadikan alat untuk meluluhlantahkan keimanan seseorang.

Di masa ini, apa yang terbebas dari upaya menggelincirkan iman seseorang, pemuda utamanya? Nampaknya hampir semua hal bisa dimasuki upaya pelemahan iman. Mulai dari pemikiran, organisasi, tulisan, podium dakwah, transaksi jual-beli, hiburan, hingga media sosial berpotensi disusupi upaya pelemahan iman. Ada kalanya upaya pelemahan itu berwajah ‘menyerang’ habis-habisan pondasi keimanan, dan ada kalanya upaya pelemahan itu berupa ‘mengelus-elus’ dengan tampilan yang sangat agamis. Tapi tujuannya sama, yakni melemahkan dan menggelincirkan iman seseorang.

Di situlah, sebagai pemuda, harus kritis dan bijak bersikap, jangan sekali-kali meninggalkan iman dan terpengaruh dengan segala tipu daya. Sebab, sedikit saja kita lengah, maka tergelincirlah iman kita, setan akan merampasnya. Jika dimisalkan pencuri, pencuri itu tidak akan masuk ke rumah yang roboh, tapi ia akan masuk ke rumah yang kokoh yang banyak kekayaan di dalamnya. Demikian pula dengan setan, setan tidak akan menggoda iman yang runtuh, tapi ia akan meruntuhkan iman yang kuat. Jadi, jangan sekali-kali terperdaya.

Lalu, bagaimana cara agar kita tidak meninggalkan iman, sehingga iman kita tetap terjaga? Yakni dengan menyibukkan diri dengan belajar dan menghayati ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Quran maupun yang terhampar di alam semesta ini. Serta dengan istiqomah beribadah, memperbanyak amal kebaikan, senantiasa berdzikir, menjauhi kefasikan dan kemaksiatan, menghias diri dengan akhlak mulia, serta mencari bimbingan ulama yang betul-betul alim dan mendamaikan hati, dan berkawan dengan orang-orang yang bisa membawa pada peningkatan iman (kebaikan).

Kembali lagi pada makna tauhid. Bahwa tauhid memberikan makna bebas dari hal-hal nisbi. Demikian pula makna ‘bebas’ disini memberikan makna tersirat bahwa tidak boleh mencaci ketauhidan (keimanan) umat lain. Sebab mencaci maki merupakan hal-hal yang nisbi. Dan hal-hal nisbi harus dibebaskan dari seorang mukmin. Lalu memberikan kebebasan kepada orang lain untuk menganut ketauhidan masing-masing, atau dalam kata lain “tidak ada paksaan dalam beragama”. Itulah makna lain dari ketauhidan seorang mukmin. Jadi, di satu sisi tauhid memberikan kekokohan kepada diri sendiri dan di sisi lain memberikan kebebasan kepada orang lain untuk menjalankan ketauhidannya seraya tidak mencela di luar keyakinannya.

About The Author