image by Lyubov Ivanova/Getty Images
image by Lyubov Ivanova/Getty Images

Sebagai bangsa yang multietnik, multikultural, dan memiliki keragaman keyakinan keagamaan, toleransi dan kerukunan beragama selalu relevan dan penting untuk dibicarakan. Apalagi, saat ini, sebagian dari masyarakat kita cenderung mudah tersulut yang berujung pada tindakan kekerasan. Hal ini bukan saja terjadi dalam pola antar umat berbeda agama, tetapi juga interen umat yang seagama juga berpotensi timbul persoalan semacam ini, terutama dengan adanya bermacam sekte dan keyakinan.

Persoalan mengenai keimanan dan keberagaman, yaitu yang berhubungan dengan hubungan sosial umat beragama, terkait dengan intern dan antar umat beragama beberapa tahun terakhir ini menjadi perhatian banyak kalangan. Hal tersebut bersamaan dengan munculnya gejala disharmoni yang menjurus pada tindakan-tindakan kekerasan yang bersifat ekstrem oleh sekelompok orang dengan cara melakukan diskriminasi terhadap kelompok lain atas nama agama.

Gejala yang menunjukkan ancaman seperti ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti konflik horizontal di beberapa tempat yang bermuara dari konflik masa lalu sampai pada gejala kurangnya kerjasama dalam merapatkan barisan guna mewujudkan yang terbaik bagi bangsa. Kita juga tidak bisa memungkiri bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang muncul, baik yang berkaitan dengan internal agama maupun antar umat beragama. Seperti yang terjadi baru-baru ini, bom bunuh diri di Gereja Ketedral Makassar yang terjadi pada 28 Maret 2021, dengan korban yang terdiri dari petugas keamanan, jemaat, dan warga sekitar yang berada di lokasi Gereja.

Adanya kelompok-kelompok yang memiliki sikap dan tindakan yang mengarah kepada radikalisme agama jauh dari rasionalisasi bahwa sikap dan tindakan mereka itulah yang menyebabkan cerminan negara Indonesia yang saat ini dihiasi oleh pertikaian dan pertumpahan darah antar agama. Persoalan seperti ini disebabkan oleh fanatisme golongan atau kelompok sehingga terjadilah disintegrasi, kemunduran, dan kehancuran negara tercinta kita ini.

Menjadi umat beragama harusnya membuat seseorang menjadi lebih baik apa pun itu agamanya, bukan membuat orang merasa paling benar. Karena ketika seseorang merasa paling benar, cenderung akan mudah untuk menyalahkan yang menurutnya salah sehingga disitulah terjadi perpecahan. Salah satu masalah terbesar manusia adalah ketika dia merasa benar, dia boleh melakukan segalanya kepada yang menurut dia salah, kalau dia merasa mulia dia boleh melakukan apapun kepada yang tidak mulia.

Jika semua umat sadar akan kodratnya sebagai makhluk sosial, maka manusia mutlak membutuhkan sesamanya dan lingkungan sekitar untuk melestarikan eksistensinya di dunia. Tidak ada satupun manusia yang mampu bertahan hidup dengan tanpa memperoleh bantuan dari lingkungan dan sesamanya. Dalam konteks ini, manusia harus selalu menjaga hubungan antar sesama dengan sebaik-baiknya, baik dalam lingkaran agama yang sama maupun yang berbeda agama.

* Penulis adalah Ketua Bidang Kajian Agama dan Ideologi GP. Ansor Batukliang Lombok Tengah

About The Author