image by Pablo Picasso
image by Pablo Picasso

Aku lupa, sore itu tanggal berapa, yang jelas matahari sudah tak seterik waktu dhuha. Kulihat jarum jam sudah menunjuk angka 15:00 WIB. Aku bergegas salat ashar, lalu beranjak pergi menemui saudara. Iya, saudara se iman tepatnya.

Aku mengenalnya cukup lama, ia mengajariku banyak hal, mulai dari filsafat hidup, hingga menajemen bisnis. Namanya, Zein. Ya, dia 3 tahun lebih dulu lahir dariku. Usianya sekitar 29 tahun. Faktanya, dia orang gila, gila dalam konteks menikahi orang yang jauh bisa dikatakan tidak selevel dengan dirinya. Hebat bukan!

Itulah cinta, dan takdir yang ikut serta mendampinginya. Istrinya cantik, menurutku dan beberapa orang yang sempat melihatnya. Tapi sayang, dia gak bisa masak. Alasannya, aku ingin membangun rumah tangga, bukan rumah makan. Jelas, bau2 wanita idaman bukan?

Sekitar 15 menit aku sampai dirumahnya;

“Assalamualaikum” suaraku lantang

“Walaikum salam” suara lirih terdengar ditelingaku. Nampaknya suara yang baru kukenal, aku membatin, “siapa dia”. Seorang wanita yang terbalut kerudung hijau tosca duduk di halaman rumah. Nampaknya dia kerabat Mas Zein, atau istrinya. Ahh. Wajahnya ngak kelihatan. Aku mendekatinya, memastikan bahwa aku mengenalnya.

Degg…..deg… deg.

Jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Iya, benar dugaannku, aku belum pernah melihatnya, dia cantik, senyumnya pun manis, jika saja dosa bisa dinegosiasi, mungkin aku akan mendiamkan mata ini lebih lama memandangnya.

“Kamu siapa?” Tanyaku.

” aku ponakannya Om Zein”. Jawabnya.

” Oalah, yang mondok di Jawa itu ya?”.

” iya, baru lulus”.

” mau lanjut studi di mana?” Timpalku

” insyaallah di salah satu perguruan tinggi di Madura” jawabnya lugas, namun enggan mendongakkan kepalanya.

Obrolan itu cukup lama, tak terasa, aku sudah mengenalnya. Namanya Dewi, dia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Logatnya agak aneh, wajar. Jawa pernah menjadi persinggahannya. Hafalan al-Qur’annya lumayan banyak. Membuatku kagum seketika.

Andai saja matahari tak beranjak, aku ingin lebih lama berdialog dengannya. Sayang, obrolanku berakhir dengan kelapa muda. Suatu kehormatan, sebab aku bisa membelahkan kelapa itu untuknya. Disitulah awal ceritaku dimulai.

Aku lulusan salah satu perguruan tinggi. Namaku Ahmad, anak pertama dari tiga bersaudara. Usiaku 25 tahun, bagi kebanyakan orang, usia ini erat kaitannya dengan pernikahan. Muhammad Saw sebagai panutan. Maka tak heran, dorongan menikah dari kerabat termasuk orang tua sudah sering terngiang. Alhasil, aku mulai melangkah, membawa bismillah sebagai azimat, dan restu orang tua sebagai semangat.

Selang pertemuan itu, aku tak pernah berhenti mengingatnya, Dewi, wanita itu menghantui tidurku, meramaikan hari-hariku. Semangatku memuncak, untuk lekas mengkhitbahnya. Tekadku bulat. Aku mulai merancang hidupku, melukisnya perlahan, berharap akan ada hasil indah di penghujung jalan.

Handponeku berbunyi malam itu, nomor baru tanpaknya. Siapa ya? Gumamku. Spontan kuangkat, wajahnya agak samar tapi aku kenal dengan suaranya. Dewi. Iya, dia yang video call. Dengan sigapnya Aku mulai merapikan rambutuku, berikut beranjak dari tidurku.

Malam itu cuaca seolah memanas seketika, denyut nadiku semakin cepat, darahku mengalir deras, dan tubuhku pucat penuh keringat. Orang yang kudiskusikan dengan sang maha rahmat kini tepat berada dihadapanku, menyapaku, menanyakan kabarku. Dan ternyata. Dia juga mencintaiku.

Duhhh.. aku senang, ada balasan atas rindu2 yang kulangitkan, ada harapan, atas keinginan orangtua yang ingin kusegerakan. Tapi sayang, aku belum punya apa2 untuk mengikatnya dalam ikatan pernikahan. “Oh tuhan, bantu aku, agar lidah ini tidak kaku saat melamarnya, dan berikan aku pundi-pundi rupiah halal agar lekas memeluknya.”

Aku bingung, apa yang harus kulakukan. Pengangguran iya. Apa yang akan aku katakan saat aku kerumahnya. Aku bukan siapa-siapa, hidupku biasa-biasa saja, sehingga ingin melamarmu, ibarat kata, bak mutiara dalam samudra. Lagi-lagi aku melamun, mengharap menemukan solusi terbaik atas niat baik. Ya. Hingga akhirnya ada satu cahaya menghampiriku.

” kang, mau kerjaan ngak?” Tanyanya. Jaka, salah seorang sahabatku, pebisnis muda di daerah ibu kota.

“Mau banget kang”. Sahutku dengan penuh semangat.

“Baikalah, ayo kemasi barang-barangnya kang. Besok kita berangkat., ke Jakarta”

Aku bergegas, mengemasi barang-barangku. Setelah semuanya selesai. Aku kemudian menghubunginya,

“Dek”. Aku menyapanya lewat media.

“Iya bang”. Jawabnya.

“Aku pamit, aku mau kerja, Jauh. Tanpaknya, banyak hal yang harus aku perjuangkan ke depan. Termasuk kamu”.

Dia tak meresponku, matanya sayup, seolah ada tetesan air mata yang dipertahankan.

“Dek….” sambungku.

“Eh, iya bang. Kudoakan, apa yang kamu hajatkan semuanya tercapai”. Suaranya parau, dan tatapannya mulai kosong.

Malam itu, kututup dengan tangisan. Iya, aku menangis lantaran aku senang, masa depanku tuhan berikan jalan. Mataku tak dapat terpejam, entahlah, ini akan menjadi perjalanan yang amat panjang, jauh dari orang tua serta orang-orang yang kusayang. Kufikir ini pengorbanan. bagaimanapun takkan ada kebahagiaan, sebelum adanya penderitaan.

Jakarta, Kota metropolitan, pusat perekonomian terbesar, sekaligus pusat berkumpulnya ras, etnis, dan suku yang beragam. Sekitar jam 03;00 satu jam sebelum adzan subuh berkumandang, kutapakkan kakiku di Kota ini, dengan harap rupiah dapat segera kukumpulkan tak terlepas ridla Allah pun demikian.

Hari-hariku menjadi babu dimulai waktu itu juga. Mengabdi pada juragan, dan beribadah pada Tuhan. Aku semangat menjalaninya, bagi kebanyakan orang ini hina. Andai saja mereka tau, bahwa cinta, sangat kuat energinya. Ia dapat menyinari yang redup, mengikat yang terputus, hingga bahkan mengembalikan yang pernah hangus. Ahhh. Lagi-lagi. Aku gila karena cinta.

Tak terasa, sudah setahun aku bekerja. Kurasa uangku sudah terkumpul, cukuplah buat acara resepsi kecil-kecilan. Keinginanku sudah hampir tak terbendung, aku ingin lekas pulang, menemui keluargaku, lalu orang tua Dewi. Ya, ini bentuk pengabdianku pada agama

Kring..kring.. notif WhatsApp di hp ku berbunyi, tertera nama “Prioritas”. Segera kubuka. Berharap ada kabar gembira.

“Duaaarrr”. Sontak aku kaget, suara itu jelas seolah mendobrak gendang telingaku. Menggetarkan jantungku, Mataku sembab, aku tak kuat membacanya. Jariku gemetar, dan tubuhku mulai lunglai.

“Bang, aku minta maaf. Niat baikmu tak bisa kuterima, aku tak lagi mencintaimu, aku tak lagi menyayangimu, jauh darimu mungkin penyebab utamanya. Blablabla.”

Huftt… aku menghela nafas setelah selesai membacanya.

“Baiklah, sebagai laki-laki aku tak bisa bergerak sepihak. Kamu berhak dengan pilihanmu, dan kamu pun juga berhak meninggalkanku. Aku baik-baik saja” balasku dengan cepat.

Lukisanku berantakan seketika. Nama yang awalanya memenuhi angan, kini disekat dengan kebencian. Aku kacau, lantaran janjinya yang akan menungguku hingga menua bersamaku tak lagi terpikirkan. Tangisku pecah, bak kaca yang terbelah diselokan. “Astagfirullah, aku salah apa Tuhan, sampai-sampai sakit ini kembali terulang”. Ingatanku travelling mencari cari salahku dimana sampai Tuhan menghukumku seberat ini.

Dari detik yang beranjak ke menit melaju ke jam dan melintasi pekan, aku mulai sadar, bahwa menggantungkan harapan pada manusia dengan berlebihan tak baik bagi kesehatan. Tak ada yang tau skenario Tuhan, bahwa ikhtiar untukku wajib, tapi aku tak bisa menentukan keputusan akhir se-enak jidat dan selaras keinginan. Disini kupikir kesabaranku diuji, sabar menanti tulang rusuk yang sedang benar-benar kucari. Jalanku panjang, yang pergi akan terganti, yang sayang akan bertahan, dan yang berjodoh pasti ada jalan.

* Penulis adalah alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura

About The Author